
Nana ingat waktu itu ia ijin pulang karena ada urusan keluarga. Sampai di depan sekolah ia melihat kejadian tragis itu lalu cepat-cepat menelpon polisi.
Orang-orang tahu kalau dia adalah tipikal perempuan yang sombong dan suka membully. Tapi sebenarnya jauh dalam hatinya dirinya memiliki hati yang baik dan gampang tersentuh. Apalagi melihat orang kesusahan.
Sejak kejadian itu, Nana terus berpikir. Ia melihat kesedihan Chaby yang sangat kehilangan sosok yang ia panggil kakak itu. Entah kenapa hati Nana tersentuh. Waktu itu ia ingin sekali menghibur Chaby namun ia sadar dirinya tidak punya hak. Ia juga sudah pernah melukai gadis itu karena rasa cemburunya.
Berminggu-minggu Chaby dan Decklan tidak masuk sekolah. Nana juga mendengar Pika koma. Andra dan Bara pun ikut tidak masuk. Selama itu Nana mulai berpikir untuk melupakan semua rasa sukanya pada Decklan dan memutuskan berubah menjadi seseorang yang lebih baik. Ia tahu cinta tidak bisa di paksa. Ia juga tahu jelas bahwa Decklan sangat menyukai Chaby dari perlakuannya pada gadis itu. Memang awalnya dia merasa sedih namun semakin memikirkan Decklan yang bahagia dengan orang yang dicintainya, ia perlahan-lahan mulai bisa tersenyum dan merelakan cowok itu. Dirinya dan Decklan memang tidak di takdirkan untuk bersama.
Entah kenapa Nana merasa jauh lebih bahagia sekarang di bandingkan saat dia mengejar-ngejar Decklan dan membully banyak adik-adik kelasnya dulu.
Saar ini ia bekerja sebagai model di salah satu perusahaan besar. Ada agency yang merekrutnya dan dia setuju karena ia menyukai pekerjaan itu.
"Kamu nggak benci sama aku lagi?" tanya Chaby hati-hati. Nana tersenyum lebar lalu mengangguk.
"Dulu iya. Sekarang gue sadar, benci sama orang itu hanya membuat kita jadi kayak orang bodoh. Iya nggak sih?"
Pika terus menatap Nana. Ia merasa Nana jauh lebih menarik kalau sifatnya begini terus.
"Makasih yah karena lo nggak ngelaporin ke Decklan tentang masalah gue bikin lo jatoh waktu itu." ucap Nana lagi.
Tunggu. Pika memutar otaknya sebentar.
"Jadi waktu Chaby jatoh di sekolah dulu itu karena ulah lo?" ia teringat waktu Chaby nggak masuk sekolah dua hari karena terjatuh sampai muntah dulu. Jadi Nana penyebabnya. Ckckck. Mau marah tapi sudah lewat. Udah gitu, cewek itu kayaknya udah nggak jahat lagi. Ya udah deh.
"Jadi, lo berdua mau maafin gue kan? Sepertinya gue tertarik berteman sama kalian."
Pika dan Chaby kembali berpandangan. Sesaat kemudian Chaby cepat-cepat menjulurkan tangannya ke depan Nana dan mengangguk-angguk penuh semangat. Nana menyambut tangan gadis itu dan tersenyum lebar.
"Tapi Lo beneran kan udah baik? Nggak lagi akting?" Pika bertanya begitu karena masih belum yakin seratus persen.
Ia lalu kaget karena Chaby tiba-tiba menjitak kepalanya.
__ADS_1
"Pika, kita tuh harus kasih kesempatan sama orang lain buat berubah. Nana udah baik gini juga masih aja di curigain. Kamu nggak takut dosa?" omelnya panjang lebar.
Mereka bertiga lalu saling menatap lama dan sama-sama tertawa.
"Oh ya, lo kuliah di kampus ini juga?" tanya Pika kemudian. Nana menggeleng.
"Gue tahun ini lagi fokus sama karir model gue, jadi nggak kuliah." jawabnya.
"Oh, terus ngapain disini?"
"Gue ada pemotretan di sini. Lo berdua sendiri?" Nana bertanya balik.
"Kita mau ketemu sama kak Decklan." sahut Pika. Nana mengangguk-angguk mengerti. Ia sudah menduga Decklan kuliah di kampus ini saat melihat dua gadis itu.
"Terus kenapa kalian malah mau ikut belakang? Kan jalan masuknya lewat depan situ." tanya Nana lagi menunjuk gerbang kampus dengan telunjuknya.
"Kita takut nggak dapat ijin masuk."
Mereka baru sadar ternyata masih pakai seragam SMA. Astaga. Pika memukul jidatnya. Kok dia nggak kepikiran yah.
***
Chaby dan Pika sudah berpisah dengan Nana. Sekarang mereka terus mengitari kampus mencari-cari keberadaan Decklan.
Pika sudah menelpon kakaknya itu berkali-kali tapi tidak diangkat. Sepertinya lagi sibuk belajar.
Pika menyipitkan matanya saat melihat sosok yang mereka cari itu sedang berdiri diseberang sana, berbicara dengan seorang perempuan yang tidak mereka kenal. Perempuan itu yang lebih aktif bicara sedang kakaknya hanya menjawab kadang-kadang.
Pika berdecak kesal. Siapa perempuan ganjen itu sih. Ini nggak bisa dibiarin.
"Chaby, ikut gue cepet!"
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Pika berjalan cepat ke arah kakaknya. Chaby yang bingung hanya ikut-ikut saja.
"Pika, jalannya pelan-pelan dong." seru Chaby sambil berlari karena ketinggalan cukup jauh. Yah ampun, ia bisa kehabisan nafas kalo lari-lari terus.
"Kak Decklan!"
Decklan dan cewek yang ngobrol dengannya tadi sama-sama menoleh ke Pika. Decklan mengangkat alis. Pika? Kenapa gadis itu ada disini?
"Ngapain kesini?" tanyanya setelah Pika berhenti didepan mereka. Cowok itu belum melihat keberadaan Chaby yang masih berlari dari ujung sana.
Pika menatap cewek yang berdiri disamping Decklan sebentar dengan raut wajah tidak bersahabat, lalu kembali menatap kakaknya.
"Aku sama Chaby kesini mau ketemu kak Decklan." jawabnya kemudian.
Chaby? Mendengar nama kekasihnya di sebut pandangan Decklan lalu mencari-cari. Ia berdecak kesal ketika melihat gadis yang dicarinya itu sedang berlari dari seberang sana.
"CHABY!"
Suara kencangnya mengundang perhatian beberapa mahasiswa dekat situ. Bahkan gadis yang bersamanya tadi menatap cowok itu merasa heran. Namanya Elsa teman sekelas Decklan yang diam-diam menyukai cowok itu juga.
Chaby berhenti berlari dan terdiam di tempat. Setiap kali Decklan bersuara tinggi begitu ia yakin dirinya pasti akan kena marah.
"Jalan pelan-pelan kesini sekarang." perintah Decklan kemudian. Chaby mendengarnya. Pika hanya tertawa lucu. Ia merasa Chaby itu seperti anjing kecil kalau didepan kak Decklan. Ia kembali melirik cewek yang berdiri disebelahnya kak Decklan. Cewek itu tampak penasaran dan seperti tidak suka dengan kehadiran mereka. Cih, nggak tahu aja dia kalau kak Decklan udah punya pacar yang lucu. Dari tampang-tampangnya sih tuh cewek kayak suka sama kakaknya.
Pika tiba-tiba merasakan lengannya dipegang oleh Chaby. Gadis itu malah bersembunyi dibelakangnya. Pasti takut dimarahi kak Decklan. Kak Decklan juga, cuma lari gitu doang nggak ijinin. Tapi lucu sih. Pika selalu gemas dengan hubungan dua orang terdekatnya itu.
"Udah berapa kali aku bilang jangan lari-lari begitu?" perkataan Decklan membuat Elsa disebelahnya merasa heran. Siapa tuh cewek, kok Decklan bisa berubah banget ngomong sama dia. Nada bertanyanya memang terdengar marah tapi Elsa bisa lihat ekspresi khawatir di wajah Decklan.
_______________
Jangan lupa komen & likenya yah🙏
__ADS_1