
Danzel bangun pagi-pagi sekali dan menelpon Decklan untuk menemani Chaby dan Arion. Hari ini ia sudah membuat janji untuk pergi berseluncur dengan Sharon. Pria itu harus menyiapkan semua keperluan pagi ini.
Danzel mandi dengan cepat, dan dengan cepat pula ia menghabiskan sarapannya.
"Paman Danzel mau kemana?" Arion keluar dari kamar sambil mengucek-ngucek matanya menatap Danzel yang sudah lengkap dengan pakaian kasualnya.
"Mau ke pantai, sama tante Sharon, Ari." sahut Danzel tersenyum lebar ke ponakan tercintanya.
"Ari sama mama di ajak juga nggak?" tanya bocah itu lagi penuh semangat. Danzel jadi merasa tidak enak mau menjawab apa. Pria itu mendekati Arion dan membungkuk didepan sang ponakan.
"Lain kali aja ya sayang. Bentar lagi papa Ari dateng. Mama kamu juga masih tidur. Kapan-kapan paman ajak Ari sama mama juga tante Sharon ke pantai bareng ya?" ucap Danzel mengusap-usap kepala Arion. Bocah itu mengangguk patuh.
"Ya udah, sekarang temenin mama Ari di kamar yah. Sampai papa Decklan dateng." Arion mengangguk lagi lalu berlari kecil ke kamar tidur Chaby yang di tunjuk Danzel.
Danzel lalu mempersiapkan papan selancarnya. Membawanya ke mobil. Setelah memastikan semua yang akan dia bawa sudah lengkap, ia masuk ke mobil dan mulai menjauhkan mobil itu keluar dari area apartemennya menuju rumah Sharon.
\*\*\*
Tak sampai satu jam perjalanan dari rumah Sharon mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Pantai masih sepi. Makhluk, hari masih sangat pagi. Tapi Danzel dan Sharon sudah sibuk dengan papan selancarnya.
"Kamu sering melakukan ini?"
Danzel memandang sesaat tubuh seksi Sharon yang terbungkus bikini sebelum kemudian menganggukkan kepala menjawab,
"Ya."
__ADS_1
"Dengan siapa? Mantan pacarmu?" tanya Sharon lagi ingin tahu. Ia ingin tahu siapa saja yang sudah di ajak surfing bareng oleh laki-laki itu. Pria kaya, tampan dan menarik seperti Danzel ini pasti punya banyak mantan. Tiba-tiba ia merasa cemburu ketika memikirkan mantan-mantan pacar Danzel.
Danzel menggeleng.
"Aku tidak pernah punya mantan pacar. Dulu aku terlalu sibuk mengurus cinta pertamaku sampai tidak punya waktu untuk pacaran."
"Hah?!"
tidak pernah punya mantan tapi punya cinta pertama? Yang benar saja. Maksud pria itu apa coba? Sharon tidak lihat Danzel sedang menertawainya. Pria itu memang sengaja bilang begitu untuk melihat reaksi wanita itu. Danzel lalu mengulurkan tangannya mengacak-acak pelan rambut Sharon.
"Maksudku Chaby. Cinta pertamaku." gumamnya kemudian.
"Oh," Sharon membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Ternyata yang di maksud cinta pertama dari pria itu adalah adiknya sendiri. Meski begitu, Sharon merasa iri. Ia jadi penasaran bagaimana Danzel memperlakukan Chaby dulu. Pasti gadis itu sangat dimanjakan. Enak sekali jadi Chaby.
"Aku nggak bisa." sahut Sharon masih belum menyentuh papan selancarnya.
"Kamu pasti bisa. Aku ajari, ya?"
Sharon mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Karena kamu masih pemula, lebih baik jangan di tengah laut. Kita ke tepian yang dangkal dulu." ucap Danzel membawa Sharon ke tepi pantai yang dangkal.
Danzel dengan sabar mengajari Sharon berdiri di atas papan selancar. Dan ternyata, sekedar belajar berdiri pun Sharon merasa kesulitan. Berkali-kali ia tercebur. Dan tiap kali tercebur, mereka tertawa ceria.
"Ayo, kamu pasti bisa." Danzel mengajaknya kembali berdiri.
__ADS_1
"Perhatikan posisi tubuh dan kaki kamu, itu sangat menentukan keseimbangan di atas papan, " jelas Danzel. Tapi air laut yang selalu berikan membuat Sharon kesulitan belajar menjaga keseimbangan tubuh.
"Kalau sudah bisa, kau harus pandai membaca arah angin agar dapat bertahan cukup lama di atas papan selancar ini." Danzel kembali menerangkan.
"Ayo coba lagi," kata Danzel seraya memegangi tangan Sharon.
Setelah beberapa kali jatuh bangun, Sharon akhirnya berhasil mendapatkan posisi yang tepat untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Bahkan berhasil meluncur walaupun dengan jarak pendek.
Sharon berteriak senang. Danzel menyusulnya. Dan setelah berkali-kali, Sharon berhasil bertahan di atas papan selancarnya dengan waktu yang agak lama. Keduanya terlihat begitu senang. Berteriak. Tertawa lepas.
Seperti Sharon, Danzel pun merasakan betapa dirinya begitu bahagia. Mereka terus berselancar sampai kelelahan. Sampai akhirnya mereka kecapean dan berhenti. Danzel dan Sharon duduk di atas pasir yang lembut dan hangat.
"Capek?" tanya Danzel menatap lembut wajah Sharon.
"Ya, tapi aku senang."
"Kalau kamu mau, kita bisa sering melakukannya."
"Sungguh?" mata Sharon yang indah itu berbinar. Danzel sangat senang menatap wajah cantik itu berlama-lama. Sharon sampai tersipu malu di tatap seperti itu. Lalu ia merasakan tangan Danzel menggenggam jemarinya dan menatapnya dalam.
"Sharon," gumam pria itu pelan. Sharon balas menatapnya.
"Jadilah kekasihku. Kamu maukan?" pinta Danzel lembut. Wajahnya penuh harap. Perkataan itu sungguh membuat jantung Sharon berdebar sangat cepat. Ia akui, dirinya sudah menyukai pria itu. Lalu tanpa berpikir panjang lagi ia menganggukkan kepala setuju.
Senyuman lebar langsung terpampang di wajah tampan Danzel. Keduanya saling bertatapan lama, lalu Danzel memajukan kepalanya dan mencium bibir Sharon lembut. Tidak peduli dengan orang-orang yang mulai berdatangan.
__ADS_1