GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 112


__ADS_3

Rasanya masih berat buat Galen ketika mendengar Chaby akan segera menikah. Sementara Danzel sendiri sudah setuju. Ia tahu sebenarnya pernikahan itu akan dilakukan tahun lalu sesuai dengan permintaan Decklan. Sayangnya waktu itu harus batal karena mereka tiba-tiba mendapat kabar buruk tentang papa mereka.


Dibandingkan dengan tahun lalu, Danzel lebih lega Chaby menikah dengan Decklan sekarang ini. Karena adiknya tidak perlu lagi ke luar negeri. Walau Chaby tidak akan serumah dengannya lagi, setidaknya ia tetap bisa melihat gadis itu kalau merindukannya.


Papa mereka sudah tahu. Awalnya papa mereka tidak setuju karena umur Chaby yang terbilang masih sangat muda. sembilan belas tahun adalah usia yang sangat muda bagi perempuan Korea untuk menikah. Tapi entah apa yang di katakan oleh Danzel hingga lelaki tua itu akhirnya setuju. Lagipula Danzel  sudah mengenal Decklan. Pria itu bertanggung jawab juga sangat mencintai Chaby, ia lega kalau Chaby akhirnya menikah dengan pria yang sangat mencintainya.


Selama seminggu berjalan ini Chaby lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kedua kakaknya itu, mengingat tidak lama lagi ia akan segera tinggal dengan Decklan.


"Kamu yakin mau nikah cepat?" tanya Galen menatap Chaby yang tengah asyik menikmati satenya. Chaby mengangguk pasti. Galen mendesah pelan.


"Kamu nggak pengen nikmatin masa muda kamu dulu?" tanya pria itu lagi.


Chaby menghentikan aktifitas makannya sebentar dan melirik Galen.


"Emangnya setelah nikah aku langsung berubah jadi tua? Kan masih bisa nikmatin masa muda kak Galenku sayang." balasnya. Tangannya terulur menyentuh dan memainkan pipi Galen sebentar.


Danzel tersenyum tipis. Ia menggeleng pelan. Chaby memang selalu bisa menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban yang kadang tidak bisa mereka bayangkan. Otaknya sangat cepat kalau dalam hal balas membalas perkataan orang dengan tingkah polosnya yang menggemaskan.


"Ingat yah, jangan lupa selalu hubungin kakak-kakak kamu ini kalau udah nikah. Jangan karena udah keasyikan tinggal sama suami, malah jadi lupa sama kakak kamu." kata Galen lagi. Ia tidak bisa lagi mempengaruhi Chaby untuk tidak menikah dulu. Otak Chaby betul-betul sudah dipengaruhi oleh Decklan. Entah apa yang ada dalam diri pria itu yang membuat Chaby sangat patuh padanya.


"Siap pak bos!" seru Chaby. Danzel dan Galen tertawa. Itulah kenapa mereka merasa berat kalau Chaby akan menikah cepat dan tidak tinggal bersama mereka lagi, saking menggemaskan gadis itu.

__ADS_1


"Kamu harus bersikap lebih dewasa lagi kalau sudah jadi istri nanti." ujar Danzel mengelus pelan kepala Chaby. Mereka lalu kembali melanjutkan makan yang sempat tertunda tadi.


                                   ***


Pindahnya Decklan kembali ke kampusnya di Jakarta itu dan kabar tentang pernikahannya langsung menghebohkan teman-teman kampusnya. Apalagi para penggemar cowok itu. Awalnya mereka senang mendengar kabar tentang kembalinya Decklan di kampus itu, sayangnya para penggemar beratnya itu harus kembali patah hati karena idola mereka ternyata sudah mau menikah.


Bukan rahasia lagi di kampus kalau Decklan punya pacar yang sangat ia cintai itu. Bahkan Elsa yang di gadang-gadang akan mampu membuat Decklan menyukainya sebelum cowok itu pindah dulu malah kalah telak dengan seorang Chaby yang polos dan kekanak-kanakkan. Mereka bahkan tidak menyangka tipe seorang Decklan yang dingin itu malah jatuh ke bocah prik seperti Chaby. Dan sekarang,  mereka bahkan akan menikah.


"Gue denger para dosen ngobrol di ruangan mereka kalau Decklan sengaja pindah lagi kesini karena nggak mau jauh-jauh dari pacarnya." seru Dilla salah satu mahasiswi yang seangkatan dengan Decklan. Ia termasuk dalam kelompok penggemar Decklan dulu bahkan sampai sekarang. Pesona Decklan tidak pernah bilang bahkan lebih bertambah. Mereka lebih heboh lagi ketika melihat cowok itu tiba-tiba muncul di kampus tadi bareng Andra


"Gila sih, secinta itu dia sama ceweknya."


"Buat cowok yang punya latar belakang dari keluarga kaya seperti Decklan sih suka-sukanya dia aja. Lagian kampus kita juga nggak kalah bagus kok." timpal Sandra. Ia lebih senang Decklan kembali, biar stok cowok keren di kampus itu bertambah lagi.


"Kira-kira perasaan Elsa gimana yah denger Decklan mau nikah? Tuh cewek kayak belum move on gitu. Liat aja kemaren ekspresinya ketika mendengar Decklan mau balik kuliah di kampus ini lagi." ujar Dilla. Mulutnya tertutup rapat saat melihat Decklan dan Andra berjalan didepan sana menuju parkiran.


"Lihat, lihat. Decklan tambah ganteng nggak sih?" seru Sandra. Dilla dan mengangguk setuju.


"Andra juga." gumam Gina. Sudah lama ia naksir Andra, sayangnya tuh cowok jarang sekali bergaul dengan kelas mereka. Kalau ada kegiatan kelas, Andra jarang sekali ikut. Makanya Gina kesusahan mendekati cowok itu. Apalagi Andra terkesan sangat cuek pada orang yang tidak akrab dengannya.


"Kita mau kemana?" Andra melirik Decklan. Akhir-akhir ini mereka sibuk dengan rencana pernikahan Chaby dan Decklan. Semakin mendekati hari sakral itu, semakin banyak pula yang dipersiapkan. Namun semua persiapan itu satu persatu sudah fix. Mereka tidak perlu khawatir karena tante Lily ikut membantu mengatur semuanya. Hari ini Decklan bisa bersantai bersama kawan-kawannya itu dan kekasihnya tentu saja. Sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu karena Chaby menghabiskan waktunya bersama kakaknya.

__ADS_1


"Cafe biasa." sahut Decklan. Ia dengar Chaby dan Pika sudah menunggu disana. Andra lalu melajukan mobil itu ke cafe tempat biasanya mereka nongkrong. Rasanya Decklan sudah tidak sabar lagi menunggu sampai hari H.


                                  ***


Di studionya, Karrel menghentikan kegiatannya. Matanya menatap terus menatap sebuah benda diatas meja yang diantar oleh salah pekerjanya tadi. Itu adalah sebuah undangan pernikahan.


Karrel tersenyum masam. Meski telah memutuskan untuk tidak mengejar Chaby, ia tidak menampik kalau pernikahan gadis itu membuatnya cukup sedih. Secepat itu gadis yang dicintainya diam-diam itu akan menikah?


"Bang?"


pandangan Karrel berpindah ke depan pintu masuk ruang kerjanya. Aska sudah berdiri didepan sana. Ia memang punya janji dengan adiknya itu hari ini.


Aska melangkah masuk. Matanya jatuh ke undangan di atas meja. Ia sempat melihat Karrel menatap lama benda itu dengan ekspresi sedih jadi ia penasaran. Aska mengernyitkan mata ketika membaca nama yang tertera di undangan itu. Chaby & Decklan? Ia mencoba mengingat-ingat nama itu namun tetap tidak ingat. Tapi kenapa ia merasa nama itu begitu familiar?


"Temanmu akan menikah?" tanyanya menatap Karrel. Karrel mendongak menatapnya sebentar lalu mengangguk. Ia berusaha memasang ekpresi biasa saja dan langsung mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana dengan keberangkatanmu?" tanya Karrel.


"Aku akan segera berangkat minggu depan. Kemungkinan keberangkatan kali ini cukup lama." jawab Aska.


Karrel mengangguk mengerti.

__ADS_1


__ADS_2