GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 22


__ADS_3

Sharon menatap tirai jendela di sampingnya yang berkibar tertiup angin. Ia ada di sebuah kedai kecil. Habis mengantar pesanan bunga, ia merasa lapar, karena merasa tidak tahan, ia memutuskan mampir ke tempat makan apa saja yang dilewatinya.


Langit sudah mulai gelap di luar meski masih jam enam petang. Sepertinya hujan akan turun. Sharon terus menatap ke luar jendela. Benar saja, hujan mulai turun rintik-rintik. Bahkan beberapa tetes kecil yang terbawa angin mengenai tangan Sharon yang memang duduk dekat jendela.


Pandangan Sharon berpindah ke meja di sisi yang lain. Sepertinya dia harus segera pindah karena hujan makin lama makin keras dan ia mulai merasa kedinginan. Wanita itu terus mengedarkan pandangannya ke segala arah dan mendapati satu meja yang kosong. Tanpa berlama-lama ia mengangkat tubuhnya berlari kecil ke arah meja itu.


"Maaf nona, anda salah tempat. Saya dan teman saya lebih dulu duduk di sini." kata seseorang dari belakang Sharon. Itu adalah suara laki-laki. Sharon berbalik bermaksud melakukan tawar-menawar biar bisa duduk disitu namun ketika berbalik, pandangannya bertemu dengan tatapan tajam dari salah satu laki-laki didepannya yang ia kenal.


Tentu saja ia masih sangat mengenal laki-laki itu. Pertemuan pertama mereka sangat tidak berkesan. Namun juga canggung, karena pria itu ternyata kakak adalah kandung Chaby. Kalau tidak salah namanya Danzel. Sharon mengutuk dalam hati. Ya ampun, kenapa dunia bisa sesempit ini sih, kenapa dirinya bertemu lagi dengan pria itu dengan cara yang...


Sungguh memalukan. Sharon rasa-rasanya ingin pulang dan menyembunyikan dirinya didalam selimut sekarang juga. Tapi ia sepertinya tidak bisa melarikan diri. Bagaimana ia bisa lari coba kalau hujannya sederas ini. Akhirnya ia mencoba keras untuk menutupi rasa malunya. Pandangannya berpindah ke pria disamping Danzel. Tak kalah keren dari Danzel tapi sepertinya jauh lebih ramah dari kakaknya Chaby itu.


"Mm, maaf.. aku pikir di sini belum ada orang. Tadi aku pindah dari sana karena mejaku tadi didekat jendela. Karena kurang nyaman disana makanya aku pindah. Tapi kalau memang kalian mau duduk disini aku akan kembali ke meja yang semula saja." jelas Sharon panjang lebar lalu mempersiapkan dirinya untuk melewati mereka, namun sebelum berhasil melangkah, suara Danzel menghentikannya.

__ADS_1


"Duduk di sini saja, bukannya di sana kau akan terkena hujan?"


Galen yang berdiri didekat Danzel sampai terheran-heran melihat Danzel yang berbicara duluan pada perempuan asing itu. Sedang Sharon yang mendengar mengusap tengkuknya, merasa salah tingkah. Aduh, bagaimana ini? Ia akan benar-benar canggung kalau duduk dengan mereka. Lebih baik terpancar hujan daripada harus mati gaya didepan dua laki-laki didepan ini.


"Ah tidak usah, tidak usah. " ia melambai-lambaikan tangannya di udara sambil memaksakan senyuman.


"Aku bisa cari tempat lain tanpa mengganggu kalian." pandangannya berpindah-pindah dan menengok ke sekeliling ruangan itu tapi semuanya sudah penuh. Tempat itu sudah dipenuhi dengan orang-orang yang entah darimana, membuat ruangan itu terasa sesak. Sharon menjerit dalam hati. Ya ampun, kenapa hari ini hidupnya malang sekali sih.


Galen? Pria itu duduk di samping Danzel. Berhadapan dengan Sharon. Ia masih penasaran siapa Sharon. Apa hubungannya dengan Danzel dan bagaimana Danzel mengenalnya. Setahunya Danzel tidak pernah ada kenalan wanita selain rekan bisnis. Pria itu juga tidak pernah mempedulikan wanita seperti ini.


"Kau sudah makan?" tanya Danzel menatap Sharon.


"Ya. Aku baru saja selesai makan. Saat ingin pergi, tiba-tiba hujan deras." sahut Sharon cepat. Danzel mengangguk lalu seorang pelayan kedai itu datang. Danzel mengatakan semua makanan yang ingin dipesannya juga Galen. Setelah itu sih pelayan pergi. Pandangan Danzel beralih lagi ke Sharon. Ia tahu wanita itu merasa canggung, sudut bibirnya terangkat.

__ADS_1


"Aku memesankan teh hangat untukmu. Itu bagus untuk cuaca saat ini." ucapnya. Meskipun suara hujan di luar sana cukup kuat, Sharon masih bisa mendengar ucapan Danzel dengan jelas. Ia tersenyum tipis.


"Danzel, kau tidak ingin memperkenalkan wanita ini?" tanya Galen akhirnya. Ia sungguh penasaran dan merasa ingin tahu.


"Oh, kenalkan ini Sharon. Wanita yang menyelamatkan Chaby. Kau masih ingatkan beberapa waktu lalu Arion dan Chaby pernah menyebut namanya?" kata Danzel. Galen menatap Sharon cukup lama sebelum akhirnya mengulurkan tangan ke Sharon.


"Aku Galen. Termasuk kakak Chaby juga. Aku dan Danzel yang membesarkannya. Jadi Chaby sudah seperti adik kandungku sendiri." ucap Galen memperkenalkan dirinya dengan ramah. Sharon membalas uluran tangan itu dengan seulas senyum meski agak sedikit kaku karena dirinya merasa malu. Ia selalu dikejutkan dengan orang-orang yang mengenal Chaby. Semuanya tampak begitu keren dan berkelas.


"Jadi kau yang menjaga Chaby selama ini? Apa kedua bocah itu menyusahkanmu?" tanyanya. Walau Chaby sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa, tetap saja dimata Galen gadis itu tetap seorang bocah.


"Sama sekali tidak. Mereka tidak pernah merepotkan aku. Bertahun-tahun ini kami sudah hidup seperti keluarga." jawab Sharon. Galen mengangguk-angguk. Benar, Chaby itu orangnya gampang sekali akrab dan sifat cerianya mampu menarik orang lain untuk ikut senang. Galen pikir Chaby akan berubah drastis karena hilang ingatan, tapi nyatanya hanya ingatan saja yang hilang. Sifatnya tidak berubah.


Galen mengalihkan pandangannya ke Danzel. Dari tadi ia perhatikan pria itu terus memperhatikan Sharon ketika wanita itu berbicara. Ia juga bisa melihat sesekali pria itu akan tersenyum. Apa ini? Jangan-jangan Danzel tertarik pada sih penyelamatnya adik mereka. Tapi, memangnya bisa secepat itu untuk seorang Danzel yang terkenal sangat cuek pada kebanyakan wanita? Tak lama setelah itu pesanan mereka datang.

__ADS_1


__ADS_2