GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 32


__ADS_3

Akhir pekan telah tiba, dan seluruh rumah dipenuhi kesibukan yang luar biasa, petugas catering sudah datang dari pagi, dan beberapa petugas lain menyiapkan tempat, dibantu para pegawai yang bekerja di rumah itu. Hari ini adalah pesta ulang tahun pernikahan tante Lily dan suaminya, papa dan mama mereka.


Chaby mengamati dari jendela kamar, melihat banyaknya mobil yang didominasi mobil catering parkir di halaman depan rumah yang luas itu. Sepertinya ini benar-benar pesta besar. Gadis itu tersenyum. Dia suka pesta. Ia menatap gaun putih sederhananya yang sudah diseterika dan dihamparkan di ranjangnya. Pika yang ada di kamar itu bersamanya mengernyit ketika dia melihat bahwa Chaby akan mengenakan gaun putih sederhana itu untuk ke pesta nanti malam. Tatapannya tampak memprotes.


"By, kok pake gaun itu sih. Kamu itu termasuk nyonya rumah tahu. Beli di mana? Perasaan baju-baju kamu buat ke pesta banyak deh. Nggak bisa apa cari yang lain." protes Pika merasa keberatan. Pasalnya yang akan datang sebentar itu adalah orang-orang penting. Bagaimana kalau mereka menjelek-jelekkan nama Chaby. Bukan itu saja. Mungkin juga mereka akan menggosipkan Chaby yang tidak pantas bersanding dengan Decklan. Lihat saja pakaian yang akan dipakai kakaknya itu. Dari kualitas dan harganya saja, perbedaannya dengan gaun Chaby bagaikan langit dan bumi. Ibaratnya majikan sama pembantu. Chaby malah tersenyum menatap Pika.


"Sekali ini aja aku mau pake gaun ini Pik. Soalnya dulu aku beli gaun ini sama kak Sharon tapi belum di pake-pake karena nggak belum ada pesta. Ini tuh dibeliin sama kak Sharon, jadi aku pengen pake sekali aja biar kak Sharon seneng. Kan jarang-jarang ada pesta." jelas Chaby. Ternyata ada alasannya kenapa dia memilih pakai gaun itu. Pika memang masih keberatan, namun apa boleh buat. Biarkan saja sahabatnya itu.


"Kak Decklan udah tahu?" tanyanya kemudian. Chaby mengangguk.


"Ya udah terserah kamu aja deh." balasnya.


\*\*\*


Malamnya, orang-orang mulai berdatangan. Decklan sudah berganti pakaian lebih dulu dan turun ke bawah untuk menyambut tamu. Sedang Chaby baru selesai berganti pakaian. Tadi ia ketiduran sebentar jadi ia berkata pada suaminya untuk turun lebih dulu. Akhirnya Chaby turun dengan Pika.

__ADS_1


Ketika memasuki pesta itu, Pika masih berjalan di sampingnya, tetapi hanya sepersekian menit, gadis itu meninggalkannya sendirian untuk menyalami tamu-tamu yang dia kenal. Sebenarnya Pika ingin mengajak Chaby karena di sana juga ada Bara. Tapi Chaby lebih memilih pergi ke tempat makanan sambil mengamati para tamu yang mulai ramai itu. Ia sempat mencari di mana keberadaan putranya Arion. Ketika melihat Arion sedang asyik dengan Gatan di ujung sana, Chaby memilih untuk sibuk sendiri. Pokoknya ia harus menikmati makanan-makanan enak di pesta malam ini. Mumpung semua orang terdekatnya lagi sibuk masing-masing.


Semuanya datang dengan riasan lengkap, gaun yang luar biasa elegan dan perhiasan-perhiasan mahal yang melengkapi penampilan mereka. Chaby akhirnya membandingkan pakaiannya yang tampak seperti seorang pembantu yang salah tempat di sini. Beberapa orang yang tidak mengenalinya sebagai isteri Decklan, menantu dari keluarga itu bahkan memandang sebelah mata padanya, yang lainnya melemparkan tatapan mencemooh seolah dia pelayan yang tak tahu tempat.


Chaby beringsut di sudut, merasa cukup malu. Apa dia ganti baju saja? Gimana nggak malu coba kalau di lihat sebegitunya sama mereka. Benar kata Pika tadi, harusnya ia pakai gaun lain saja. Pesta ini tidak cocok dengan gaun yang dibelikan oleh kak Sharon.


Mata Chaby mencari-cari dimana Decklan, tetapi suaminya itu tampaknya sedang sibuk dan tak memperhatikannya, dia sedang bercakap-cakap dengan segerombolan lelaki dan perempuan berpakaian mewah. Lalu seorang perempuan yang berjalan terburu-buru bersama pasangannya berlalu dengan sembrono, dia menabrak Chaby yang bahkan sudah berdiri di pinggir dengan keras,


"Aduh!" Perempuan itu berteriak marah karena dia hampir terhuyung jatuh dan terselamatkan karena berpegangan kepada pasangannya, perempuan itu melirik ke arah Chaby dan berteriak kesal,


"Maaf," padahal seharusnya dia tidak perlu meminta maaf, karena perempuan itulah yang menabraknya. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mau merusak pesta orangtuanya dan membuat mereka malu.


"Maaf... maaf! Aku akan melaporkanmu pada pemilik rumah ini karena kau seenaknya berkeliaran di pesta majikanmu...kau.."


"Dia istriku bukan pembantu." Tiba-tiba suara Decklan terdengar tak bersahabat. Entah kapan pria itu sudah melangkah dan tiba-tiba ada di sebelah Chaby, lalu mengaitkan lengannya di lengan istrinya.

__ADS_1


"Perempuan yang kau bilang pembantu ini adalah istriku." tambah pria itu lagi dengan nada dingin."


Wajah perempuan yang dipanggil itu tampak memucat, mulutnya menganga, memandang Chaby dan Decklan berganti-ganti dengan tak percaya.


"Dia isteri anda dokter..?" gumamnya tercekat. Decklan menganggukkan kepalanya tanpa tersenyum. Chaby ikut mengangkat dagunya seperti menantang perempuan yang membuatnya malu itu. Ia merasa percaya diri kalau ada suaminya disampingnya.


Seolah masih enggan percaya, perempuan itu menatap Chaby dengan teliti, dia lalu menatap Decklan dengan gugup.


"Oh oke. Aku benar-benar tidak tahu." Gumamnya setengah malu, lalu dia menganggukkan kepalanya dan menggandeng pasangannya, buru-buru berlalu karena malu.


"Cih," Chaby tertawa remeh menatap kepergian perempuan itu kemudian merasa Decklan menangkup wajahnya.


"Kamu nggak apa-apakan sayang?" tanya pria itu penuh sayang. Ia tidak malu Chaby mengenakan pakaian apapun, asal tidak pakai yang seksi-seksi aja. Karena semua yang ada dalam diri gadis itu adalah miliknya, ia tidak ingin membaginya dengan orang lain. Chaby mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Makanya dengerin aku tadi. Liat, beneran di kira pembantu kan?" Pika bersama Bara dan Andra muncul didepan mereka. Chaby malah menyengir lebar. Mereka tidak menyadari ujung sana berdiri Luna yang memperhatikan dengan ekspresi tidak senang.

__ADS_1


__ADS_2