GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 50


__ADS_3

Sejak tadi Decklan serius mendengarkan pelajaran di kelasnya. Ia selalu memasang mode diam pada hpnya ketika sedang belajar. Itulah kenapa cowok itu tidak mendengar panggilan Pika.


Ketika pelajaran pertama selesai, ia baru memeriksa hpnya. Alisnya terangkat, ada delapan panggilan tak terjawab dari adiknya dan satu pesan Wa. Ia membaca pesan itu. Saat benar-benar paham maksud pesan Pika, cowok itu buru-buru berdiri keluar kelas.


Bara yang kebingungan melihat cowok itu tampak buru-buru memilih mengikutinya dari belakang bersama Andra.


Mereka semua sama sekali tidak menyangka akan menyaksikan kejadian Pika di dorong oleh seorang wanita tua yang tidak mereka kenal itu dan langsung di tabrak mobil ketika mereka mencapai gerbang sekolah.


"PIKAAA!"


Decklan berteriak kencang dan berlari panik ke jalanan. ia tak mampu memikirkan apa-apa lagi. Pria itu mengangkat gadis yang bersimbah darah dan sudah tak sadarkan diri itu, membawanya ke dalam pelukan. Air matanya menetes tanpa sadar.


"Pika buka mata kamu, lihat kakak. Pika, Pika!" cowok itu menjerit dalam tangisnya. Ia tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Otaknya sudah kosong. Ia hanya ingin melihat adiknya bangun.


Andra menahan diri untuk tetap tenang dan mencoba menenangkan Decklan, sementara Bara langsung menelpon ambulance. Ia sempat memeriksa detak jantung Pika tadi. Gadis itu masih bernafas. Decklan terus memeluknya dan menangis. Ya Tuhan, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya, ia tidak siap.


Sejenak mereka lupa dengan gadis lain di ujung sana. Yah, sekarang ini Pika yang jauh lebih mengkhawatirkan.


Chaby?


Gadis itu ingin berlari menemui Pika namun wanita tua itu terus menahannya. Air mata sudah membanjiri wajahnya.


"Omma..." ia menatap mamanya penuh penuh permohonan. Berharap wanita tua itu akan melepaskannya.


Perempuan tua itu tersenyum sinis.

__ADS_1


"Kenapa? Dia seperti karena kamu, kau pikir mereka akan memaafkan kekacauan yang kau buat? Mereka hanya hanya akan membenci dan menyalahkan mu. Kau memang terlahir sebagai anak sial, mengerti? Sekarang ikut aku."


"OMMA!!"


Teriakan kasar Danzel membuat wanita itu menoleh ke depan. Pria itu terlihat sangat merah. Wajahnya merah padam. Perasaannya sudah tidak tenang saat Pika menelponnya tadi.


Dirinya tidak sempat melihat bagaimana wanita itu mendorong Pika sampai gadis itu di tabrak mobil. Ia hanya melihat sahabat adiknya itu berada di seberang sana dengan tubuh penuh darah. Astaga, ada apa lagi ini. Perempuan tua ini sudah tidak waras.


Pandangannya kembali fokus ke Chaby lalu menariknya, menghempaskan kuat-kuat tangan wanita tua itu yang terus mengekang adiknya sejak tadi.


Ia heran sudah bertahun-tahun lewat tapi wanita itu malah makin membenci dan terobsesi pada adiknya. Tentu saja pasti untuk menyiksanya seperti yang dilakukannya waktu Chaby masih kecil dulu.


Perkataan yang dilontarkan wanita itu tadi pada Chaby membuatnya emosi. Ia pria yang biasanya begitu menghormati orang tua, tapi mamanya ini sudah gila. Ia tidak bisa bersikap sopan lagi.


Danzel menarik Chaby ke samping dan menatap wanita tua itu dengan kilatan amarah yang membuncah.


Wanita tua itu tertawa keras. Ia tidak terima perkataan Danzel. Enak saja mereka ingin bahagia di tengah hidupnya yang sudah hancur.


Dengan wajah jahatnya ia kemudian mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya. Gadis itu harus lenyap dari dunia ini supaya dia puas. Di arahkan benda yang keluarkan nya tadi ke arah Chaby dan Danzel namun berhenti pada Chaby. Ia sudah tidak bisa berpikir waras lagi. Dalam pikirannya gadis itu lebih baik menghilang saja. Menghilang untuk selamanya.


Galen yang datang dari arah lain membelalak panik. Ia baru saja sampai karena Danzel menelponnya dan memintanya untuk datang ke sekolah Chaby secepatnya tadi. Dan baru saja sampai, ia malah harus melihat wanita tua itu mengarahkan pistol ke arah Danzel dan Chaby dan menarik pelatuknya.


"DANZEL, CHABY AWAS!"


Danzel berbalik dan betapa kagetnya dia melihat peluru yang melayang kearah mereka. Cepat-cepat didorongnya Chaby hingga peluru itu menembus dadanya kemudian dirinya jatuh ke lantai jalan.

__ADS_1


DOR !!!


Otak Chaby mendadak lumpuh. Ia menatap Danzel tapi ia tidak bisa bertindak. Ia ketakutan. Ia gemetaran. Saat itu juga ia merasakan sekujur tubuhnya dingin dan jantungnya seakan berhenti berdetak.


Gadis itu melangkah dengan lututnya dan terduduk di depan Danzel, menyandarkan pria itu di tubuhnya sambil terus menatapnya tanpa bicara sepatah kata pun. Ia terlalu sulit untuk bernafas.


Danzel tampak kesakitan namun ia berusaha menampilkan senyum di didepan Chaby. Tangannya menangkup pipi gadis itu. Bagian tubuhnya yang tertembak terasa sangat sakit. Ia rasa tembakan itu tepat di jantungnya. Entah kenapa ia tidak langsung mati. Detik itu juga ia berpikir waktunya tidak banyak lagi. Ia harus membuat gadis itu kuat.


"Ka..kakak..m..mungkin nggak bi..sa.. m..menemani kamu la..gi." gumamnya dengan sepenuh tenaga walau kalimatnya terputus-putus.


Chaby menggeleng. Ia tidak siap. Air mata sudah mengalir di wajahnya. Galen ikut berlutut disamping pria itu. Wajahnya pucat pasi akibat syok. Danzel tersenyum menatapnya.


"T..terima kasih buat s..semuanya. kamu s..selalu men..ja..di sa..sahabat terbaikku. A..aku t..tip a.adik kita."


Saat itu juga Galen tak kuat menahan tangisnya. Ia tak pernah menangis. Tapi hari ini hatinya begitu sakit. Ia menepuk-nepuk dadanya yang sakit.


Danzel menatap Chaby lagi.


"K..kamu harus k..kuat. J..jangan pernah terpengaruh d..dengan perkataan o..orang lain. Mereka yang me..membencimu t..tidak pernah melihat kebaikanmu, d..dan mereka y..yang betul..be..tul menyayangimu a..akan selalu a..ada disisinya. Kakak berterimakasih pada Tuhan k..karena punya a..adik manis sepertimu. Ingat, kau b..bukan pembawa sial, hm?"


Setelah dengan susah payah mengucapkan kata-kata terakhir itu, Danzel menutup matanya dan detik itu juga jantungnya berhenti berdetak. Chaby memekik kuat, menangkup wajah Danzel.


"Tidak! Kakak, tidak. Kakak, kakaak!"


ia berteriak histeris dan menangis kencang.

__ADS_1


Dari seberang jalan Bara berlari cepat kearah mereka. Ia dan Andra mendengar bunyi tembakan tadi tepat ketika ambulance yang mengangkut Pika pergi. Decklan menemani gadis itu dengan keadaan syok.


"Lo temani Decklan di Rumah Sakit, gue kesana." teriak Bara  pada Andra. Mereka ikut panik.


__ADS_2