
"Sayang, perut kamu masih mual? Kita ke rumah sakit aja ya, sekalian periksa kalau kamu beneran hamil apa nggak." gumam Decklan yang kini sudah kembali duduk disebelah istrinya. Ia mengusap-usap kepala Chaby yang masih terus dibenamkan diatas meja. Bara, Andra dan Pika saling berpandangan.
"By, bulan ini kamu telat datang bulan nggak?" tanya Andra tiba-tiba. Ia adalah seorang dokter, Decklan juga. Jelaslah mereka tahu bagaimana langkah awal memeriksa pasien dengan berbagai macam keluhan. Dalam kasus Ara, kalau tidak bermasalah lambung, mungkin karena dia sedang dalam keadaan hamil. Itu wajar karena gadis itu sudah menikah. Yang belum nikah aja banyak yang hamil duluan.
Chaby akhirnya mengangkat wajahnya. Rasa malunya tadi kini terlupakan karena pertanyaan Andra. Ia mencoba mengingat-ingat, tapi sepertinya normal. Siklus datang bulannya masih sama.
"Aku lupa-lupa ingat kak Andra, tapi kayaknya normal deh." sahut Chaby tidak bisa memastikan seratus persen. Kalau begitu sih, memang sebaiknya mereka periksa ke dokter atau bisa tes sendiri pake taspack. Andra bukan dokter spesialis kandungan, jadi tidak bisa memastikan langsung. Sedang para dokter spesialis saja butuh alat pemeriksaan untuk memastikan.
"Kita ke rumah sakit aja buat cari tahu." pungkas Decklan. Andra mengangguk setuju. Ia memang mau menyarankan itu tapi mereka melihat Chaby langsung menolak.
"Nggak mau." sela Chaby keberatan.
"Kenapa? Kita perlu tahu keadaan kamu yang sebenarnya sayang." kata Decklan. Chaby menatap suaminya.
"Periksa pake taspack aja kak Decklan, nggak usah sampe ke rumah sakit segala." tutur Chaby. Menurutnya kalo ke rumah sakit lebih ribet. Mending cari yang gampang-gampang aja.
"Ya udah, kita beli taspack ke apotik sekarang terus langsung pulang biar cepat-cepat periksa kamu beneran hamil apa nggak." kata Decklan tak sabaran. Ia tidak peduli lagi mau ke rumah sakit atau pake cara lain, yang pasti dirinya sudah betul-betul tidak sabar mengetahui Chaby sedang mengandung anaknya atau tidak.
Decklan lalu meraih tangan Chaby dan menarik pelan istrinya keluar dari tempat itu. Mau tak mau Pika, Bara dan Andra ikut berdiri. Andra keluar paling akhir dari cafe itu setelah membayar di kasir.
Decklan merasa lega melihat Chaby yang sudah lebih baikan dari yang tadi. Ia langsung melajukan mobilnya menuju apotik untuk memberi barang yang mereka cari. Sedang Bara, Andra dan Pika langsung pulang ke rumah.
__ADS_1
\*\*\*
Sesampainya di rumah, Chaby langsung masuk ke kamar mandi untuk mengecek apakah dia beneran hamil atau tidak. Didepan kamar mandi, sudah ada Pika, Bara, Andra tante Lily, dan Decklan yang setia menunggu. Semuanya tidak sabar menunggu Chaby keluar. Apalagi Decklan. Pria itu terus-menerus berjalan mondar-mandir dengan gelisah menunggu Chaby keluar. Pasalnya sudah lebih dari sepuluh menit istrinya tidak keluar-keluar juga. Ia takut terjadi sesuatu pada Chaby.
"Sayang, kamu masih amankan di dalam?" seru Decklan dengan wajah mendekat ke pintu kamar mandi. Raut wajahnya tak sabaran. Kalau boleh dobrak, ia sudah dobrak dan masuk sekarang juga. Tadi saja kalau Chaby tidak melarangnya ikut masuk, ia sudah berada di dalam sana dengan sang istri. Sayangnya Chaby melarang keras dirinya untuk ikut masuk.
"Sabar dong Decklan, tungguin aja." tegur tante Lily.
"Tapi dia udah lama di dalam ma, gimana kalo Chaby kenapa-napa? Mama mau tanggung jawab? Mama mau aku depresi lagi karena karena kehilangan istri tercinta aku?"
Bara dan Andra saling berpandangan. Decklan jelas berlebihan sekali. Chaby kan hanya sedang memeriksakan kehamilan didalam sana, bukan lagi mau bunuh diri. Tante Lily sampai geleng-geleng kepala. Putranya sulungnya ini benar-benar sudah tidak ada obatnya kalau sudah berurusan dengan Chaby.
"Kamu tuh ya, bikin mama gemas aja. Istri kamu tuh cuman meriksa kehamilan. Wajar lama. Entah beneran hamil atau nggak, Chaby butuh waktu buat keluar ngasih tahu ke kita Decklaan..." kata tante Lily. Pika mengangguk setuju. Tapi dasar Decklan, pria itu tetap tidak bisa bersabar. Kali ini ia mengetuk pintu kamar mandi dengan kuat.
Saat Decklan mau mengetuk pintu, pintu kamar mandi itu terbuka. Chaby keluar dengan mata sembab dan wajah ditekuk. Jelas saja semua yang melihat ekspresi Chaby langsung berpikir sepertinya hasil tes itu negatif. Tante Lily mengambil taspack ditangan Chaby dan memeriksanya. Decklan menangkup wajah Chaby dan tersenyum lembut. Ia sudah yakin hasilnya negatif karena melihat wajah sedih istrinya.
"Nggak apa-apa sayang," gumam Decklan menghibur gadis itu. Ia sadar dia yang terlalu bersemangat sejak tadi, padahal belum tentu Chaby benar-benar hamil.
"Yah, gagal hamil." ucap Pika. Kalimat itu keluar begitu saja tanpa dipikir-pikir dulu. Ia cepat-cepat bersembunyi di belakang Bara saat Decklan melemparkan tatapan mematikan kearahnya.
"Loh, gagal hamil gimana? Orang ini taspacknya garis dua. Chaby, kamu paham liat taspack kan?" tante Lily bertanya. Ia pikir Chaby tidak mengerti jadi mengira dirinya tidak hamil.
__ADS_1
"Kak Decklan, aku lagi hamil tapi liat, mereka semua malah ngeledek aku. Mama juga." rengek Chaby bergayut manja di lengan Decklan.
Decklan sendiri masih tercenung mengumpulkan kesadarannya. Ia sempat terdiam sebentar ketika mamanya bilang istrinya hamil.
"Tunggu, tunggu. Kamu beneran hamil?" seru Decklan. Tante Lily dibelakangnya menyodorkan taspack sebagai bukti menantunya itu positif hamil. Tanpa perlu lama melihatnya, Decklan langsung mengangkat Chaby tinggi-tinggi, dan berputar-putar, mengekspresikan perasaan senangnya yang begitu besar. Tante Lily, Pika, Andra dan Bara ikut tersenyum senang.
"Terus kenapa wajah kamu waktu keluar dari kamar mandi ditekuk kayak tadi Chaby?" tanya Andra setelah Decklan menurunkan Chaby.
Chaby menyengir lebar.
"Pura-pura sedih, biasalah kak Andra. Drama dikit biar ada kejutan-kejutannya." Sahut gadis itu terkikik sendiri. Decklan mencubit pipi sang istri gemas.
"Pokoknya mulai sekarang kamu nggak boleh terlalu lelah. Biar Arion mama aja yang anter jemput pulang sekolah. Dan Decklan," tante Lily menatap putra sulungnya itu sebentar.
"Kalo mau main gituan sama istri kamu, jangan kasar-kasar dulu."
Chaby langsung memerah mendengar ucapan ibu mertuanya. Yang lain ikut menertawai pasangan suami istri itu.
"Kenapa pada ngumpul di sini semua?"
suara berat dan terdengar berwibawa itu datang dari depan pintu kamar Decklan dan Chaby. Itu suara papa mereka. Pria tua itu mengecek ke atas karena mendengar ribut-ribut dari kamar itu ketika sampai rumah.
__ADS_1
"Papa udah pulang?" tante Lily bersuara.
"Kita lagi bahagia karena Chaby hamil lagi pa." tambahnya. Membuat sang suami yang berdiri didepan sana terkejut dan langsung berubah senang.