GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 38


__ADS_3

Keesokan paginya Decklan dan Pika berangkat ke sekolah seperti biasa. Mereka keluar rumah bersamaan namun pergi dengan kendaraan berbeda.


Tentu saja Pika naik taxi online. Tak ada yang istimewa.


Sampai pagi ini mood Decklan masih sama. Walau bukan sepenuhnya salah Chaby tapi ia masih saja kesal mengingat kejadian kemarin. Padahal dirinya sudah berusaha amat keras dan menurunkan egonya.


Kekesalannya berdampak pada cara mengemudinya yang ugal-ugalan.


Sialan,


Ia belum pernah merasa sekesal ini karena masalah wanita.


Cowok itu berjalan masuk kelasnya tanpa ada niat sekalipun menyapa beberapa teman-teman sekelasnya yang sudah ada sejak tadi, hanya saja ia tidak melihat Bara dan Andra. Padahal biasanya mereka selalu datang lebih dulu.


Ia berjalan cuek melewati beberapa pasang mata yang mencuri-curi pandang kearahnya dengan memasang ekspresi dingin dan sama sekali tanpa senyum. Tak ada diantara mereka yang akrab dengannya karena sifatnya yang tak tersentuh itu.


Cowok itu duduk asal-asalan di bangkunya yang berada tepat di dekat jendela. Bangku paling sudut belakang di sebelah kiri.


Tangannya membuka risleting ranselnya, mengambil buku bacaan yang biasa dibacanya dan mulai membaca.


Dari cover nya itu adalah buku medis.


Ia selalu suka mencari tahu dan belajar tentang ilmu kedokteran.


Mungkin di masa depan ia akan jadi seorang dokter. Papanya punya rumah sakit yang dibangun bersama kakek Andra, dan ia menyukai ilmu kedokteran. Pasti ia akan mendapat dukungan dari keluarganya untuk belajar di bidang itu.


"Decklan."


Panggilan itu membuatnya merasa terganggu. Padahal ia sedang berusaha keras menghilangkan rasa kesalnya dengan fokus membaca. Siapa juga yang berani mengganggunya pagi-pagi begini.


Cowok itu mendongak keatas dan makin bete melihat seorang gadis yang di kenalnya itu tengah berdiri di depannya.


Nana...


Cowok itu membuang nafas kasar. Cewek itu nggak ada bosan-bosannya mengganggunya. Padahal sudah berkali-kali ia tolak.


"Lo ada waktu nggak besok?"


Alis Decklan terangkat menatap Nana. Mau apa lagi dia?


"Gue mau ngundang temen-temen sekelas ke pesta ulang tahun gue. Nih undangannya."


Nana menyodorkan sebuah lembaran undangan didepan Decklan. Cowok itu belum ada gerakan apapun untuk mengambil benda itu. Ia hanya melihat sebentar dan...

__ADS_1


"Kolam?"


Tanpa sadar ia menggumamkan isi hatinya.


"Iya."


Jawab Nana langsung.


"Gue pengen buat pesta ulang tahun gue di taman dekat kolam renang. Biar suasananya lebih berasa segar aja." tambahnya antusias.


Decklan berpikir sebentar mulai menimbang-nimbang dengan tangan mengusap-usap dagu. Ia ingat Chaby yang pernah membicarakan pengen berenang beberapa waktu lalu. Sekalian saja ia membawa gadis itu.


"Decklan?" panggil Nana lagi. Ia sangat berharap cowok itu mau datang supaya rencananya berhasil.


Cewek itu langsung tersenyum senang ketika Decklan mengambil kartu undangan di tangannya.


Akhirnya setelah hampir dua tahun ini Decklan bersikap cuek padanya, hari ini cowok itu tidak menolaknya. Apa Decklan mulai sadar dia cewek yang berharga? pikir Nana percaya diri. Pokoknya ia harus pamer ke teman-teman mereka.


"Udahkan?"


Decklan menatap datar Nana yang masih berdiri didepannya. Gadis itu menunduk malu-malu.


"K..kalo gitu gue balik ke bangku gue yah."


    


                                ***


"Lo nggak mimpikan mau ke ultahnya Nana?"


Andra masih terheran-heran menatap Decklan. Ia dan Bara bahkan hanya dengar dari teman-teman sekelas mereka yang mendadak heboh bergosip sana sini karena Nana bilang Decklan bakalan datang ke pesta ulang tahunnya.


Decklan melirik Andra malas. Ia lebih memilih menatap ring basket didepan sana. Sekarang mereka memakai waktu istirahat untuk bermain basket sebentar. Sudah lama mereka tidak melakukan kegiatan olahraga itu dan siang ini waktunya tepat. Sudah bosan di kantin terus.


"Jujur sama gue, lo mulai ada rasa sama Nana?"


Pertanyaan itu sontak mengundang tatapan tajam Decklan.


"Lo jelas tahu siapa yang gue suka." balasnya to the point. Ada nada keberatan dalam suaranya.


Andra mengulum senyumnya menatap cowok itu. Karena tahu siapa yang cowok itu sukalah yang membuatnya menjadi heran kenapa sahabatnya itu mau datang ke pesta Nana. Padahal Decklan tidak pernah memberi Nana kesempatan sekali pun semenjak cewek itu mulai mengejarnya hingga sekarang.


Kalau di film atau novel-novel banyak kisah cewek ngejar cowok terus nanti sih cowok bakal jatuh cinta ke sih cewek namun di kasus Decklan ini beda. Sebelum cowok itu tertarik sama Nana, Chaby sudah muncul lebih dulu membutakan matanya melirik cewek lain. Hahaha. Kasian Nana yang udah kejar Decklan lebih dari dua tahun ini tapi malah kalah sama Chaby yang bahkan belum sampai tiga bulan mereka saling kenal. Andra balik fokus menatap Decklan.

__ADS_1


"Terus kenapa lo mau ke pesta Nana? lo cuman bikin tuh cewek tambah kepedean, tahu nggak."


Bukannya Andra mau menjelek-jelekkan Nana. Justru gadis itulah yang terlalu kepedean mengumumkan sana-sini kalau Decklan sudah mulai menerimanya.


Dia bahkan kasih bukti Decklan bakalan datang ke pesta ulang tahunnya. Bahkan bukan hanya teman-teman sekelas saja yang dia undang, Andra dengar tadi Nana mau undang seluruh kelas dua belas. Katanya mau pamer kalau dia benar-benar berhasil mengundang Decklan. Hah, dasar ratu pamer.


Bukannya gimana-gimana yah, tapi ia lebih setuju Decklan sama Chaby kemana-mana. Lucu lihatnya dan cewek itu sifatnya nggak licik seperti Nana, apalagi pamer. Mending yang kekanakan daripada yang licik kemana-mana.


"Lo pasti punya alasan pergi ke pesta itu kan?" giliran Bara yang bertanya melirik cowok yang duduk disebelahnya itu. Decklan menoleh menatap Bara sebentar lalu menatap depan lagi.


"Pestanya di buat dekat kolam." ucapnya nggak jelas.


Bara dan Andra belum bisa menangkap apa maksud perkataannya.


"Maksud gue ke sana sekalian ajarin Chaby renang." tambahnya lagi


Perkataan itu kontan membuat kedua cowok didekatnya itu saling  berpandangan. Tak lama kemudian tawa Andra pecah berbeda dengan Bara yang hanya tertawa pelan


Andra nggak menyangka setelah mengenal Chaby, Decklan jadi ikut-ikutan polos kayak cewek itu. Atau otaknya mungkin sudah penuh sama tuh cewek sampai-sampai ia jadi gak berpikir panjang.


Astaga, yang benar saja. Ini pesta orang dan dia mau berenang di lokasi pesta? Pake ngajakin orang segala buat diajarin. Orang itu sih Chaby pula. Kan bisa cewek itu diajarin di rumahnya.


Andra masih tak berhenti-berhenti menertawai Decklan sampai menahan perutnya yang sakit, membuat Decklan mendelik tajam menatapnya.


"Maksud lo ngetawain gue?" cowok itu menatap Andra kesal. Memangnya ada yang salah?


"Lo tuh yah, masa ke pesta orang malah mau ngajarin renang. Di saat semua orang pake gaun pesta, Lo sama Chaby datang pake baju renang, nggak malu lo?"


Andra masih menahan tawanya. Apalagi saat memikirkan penampilan Decklan dan Chaby yang datang ke pesta pakai baju renang, konyol banget.


"Ya udah gue batal pergi." putus Decklan jengkel, membuat Andra berhenti tertawa.


"Loh, nggak bisa gitu dong. Lo udah terlanjur janji sama Nana." ujarnya.


Biar bagaimanapun menurutnya Decklan harus bertanggung jawab. Sekalipun Nana orangnya ngeselin, setidaknya mereka harus menghargai kan kalau sudah janji. Cowok sejati tuh gitu, harus gentle.


Decklan mengacak-acak rambutnya dongkol. Ia kan mau datang ke pesta itu dengan alasan mau ngajarin Chaby renang, sekalian berduaan. Dan kalau bisa sekalian nembak aja karena kemaren gak jadi.


Kalau begini ceritanya sih dirinya yang sial. Tidak jadi mengajari cewek yang dia suka, plus harus datang ke pesta perempuan yang tidak membuatnya tertarik sedikitpun.


"Lo bisa ngajak Chaby sama Pika."


Andra ikut melirik Bara. Memang diantara mereka bertiga, cowok itu yang paling punya banyak ide.

__ADS_1


__ADS_2