GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 33


__ADS_3

Di tengah-tengah keasyikan berbincang mereka, papa Decklan datang menghampiri mereka. Laki-laki tua yang punya posisi sebagai direktur rumah sakit itu datang bersama orang lain. Decklan dan Andra yang sudah bergabung tadi bersama Chaby dan yang lain tentu tahu siapa seseorang yang datang bersama papanya itu. Itu adalah Luna salah satu dokter yang bekerja di rumah sakit mereka. Tapi mereka tidak kenal laki-laki tua yang berdiri di sisi Luna.


Luna tersenyum menatap Decklan dan Andra. Meski sejak tadi matanya memang hanya terfokus pada Decklan. Sejak awal bekerja di rumah sakit milik keluarga pria itu, Luna selalu memimpikan Decklan. Ia terus berpikir bahwa dirinya pasti akan mendapatkan pria tak tersentuh itu. Ia sudah sangat yakin Asal terus berusaha, Decklan pasti meliriknya. Tapi istrinya tiba-tiba muncul lagi.


Luna bisa terima kalau Decklan memiliki istri yang pintar dan berkelas. Tapi ketika melihat istri pria itu yang terlihat seperti orang bodoh itu ia masih merasa tidak terima sampai sekarang. Decklan berhak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari perempuan bodoh itu. Seperti Luna. Ia sangat percaya diri kalau dirinya yang lebih bisa membahagiakan pria seperti Decklan. Dia akan mengurus pria itu dengan baik. Itu pasti.


"Decklan, Andra, perkenalkan ini adalah tuan Antara. Papa dari dokter Luna." ujar papa Decklan memperkenalkan papa Luna. Decklan dan Andra mengulurkan tangan bergantian ke tuan Antara. Decklan sendiri merasa ada sesuatu yang lain yang ingin papanya sampaikan.


"Mm, begini. Tuan Antara adalah direktur di salah satu perusahaan perikanan. Dia ingin mengajukan diri menjadi salah satu investor di rumah sakit kita. Bagaimana pendapat kalian?" jelas pria tua itu.


Decklan dan Andra saling berpandangan. Benarkan pikiran Decklan. Tidak mungkin papanya mempekenalkan seseorang tanpa ada maksud. Ia tahu sekali seperti apa papanya. Chaby sendiri berpindah tempat dari samping Decklan ke tengah-tengah Pika dan Bara. Ia menulusupkan tangannya pada lengan pasangan itu. Dan membawa mereka sedikit menjauh dari Decklan dan yang lain lalu berbisik.

__ADS_1


"Kalian liat nggak perempuan itu dari tadi natap aku kayak nggak suka? Kalian kenal nggak? Kira-kira dulu dia sama aku musuhan apa nggak?" bisik Chaby di telinga Bara dan Pika. Ia ingat beberapa waktu lalu perempuan yang sama, yang memasuki ruangan suaminya itu menatapnya dengan Bara tertawa kecil mendengar bisikan gadis itu.


"Namanya Luna. Gue denger dia salah satu dokter perempuan paling populer di rumah sakit. Kak Andra bilang waktu lo hilang, dia suka deketin suami lo. Tapi dicuekin terus, kasian. Kayaknya dia nggak suka sama lo karena merasa cemburu." bisik Pika. Chaby manggut-manggut. Pantesan dia merasa wanita itu memusuhinya.


"Kak Decklan gimana? Pernah berduaan sama dia nggak?" tanyanya lagi ingin tahu. Ia merasa tidak senang saat berpikir suaminya berduaan saja dengan perempuan lain. Pika dan Bara berpandangan dan saling bertukar senyum. Ternyata Chaby bisa cemburu juga.


"Mana gue tahu. Tanya aja sendiri sama kak Decklan." balas Pika. Mereka kembali melirik ke arah depan. Memperhatikan Decklan dan Andra berbicara serius dengan papa mereka,  Luna sama papanya.


"Pa, aku pikir rumah sakit kita sedang tidak butuh investor." kata Decklan.


"Papa aku senang bekerja sama dengan rumah sakit. Aku juga tidak merasa keberatan. Menurut aku itu bagus." ia melanjutkan. Decklan menatap wanita itu datar, merasa tidak suka. Ia tahu Luna sudah sering sekali mencoba mendekatinya. Pasti ini juga ulahnya. Pasti dia sengaja meminta ayahnya untuk menjadi investor di rumah sakit mereka. Andra disebelahnya diam saja tidak mengatakan apapun. Papanya juga. Ia memang menerima niat baik tuan Antara dan anaknya sih Luna. Tapi ia menyerahkan semua keputusan itu pada Decklan. Menurutnya putranya itu cukup tegas dan dewasa dalam mengambil keputusan.

__ADS_1


"Maaf. Tapi aku sudah punya orang lain yang sudah setuju untuk menjadi investor kami. Dan aku pikir itu sudah cukup. Kami belum butuh yang lain." tolak Decklan menatap tuan Antara. Pria tua itu tersenyum kaku lalu menatap Luna.


"Siapa?" tanya Luna ingin tahu. Ia yakin Decklan berbohong hanya untuk menolaknya. Padahal menurutnya itu tawaran yang menarik.


Decklan menoleh ke samping. Ketika tidak didapatinya istri tercintanya itu, ia berbalik ke belakang. Chaby sedang berdiri bersama Pika dan Bara. Jarak mereka kira-kira lima meter jauhnya.


"Sayang, ke sini sebentar." panggil Decklan sengaja dikuatkan. Luna tersenyum sinis tidak suka mendengar panggilan itu. Lihat gaya istri Decklan itu. Kampungan sekali. Jangan-jangan latarbelakangnya miskin lagi. Kenapa keluarga Decklan setuju pria itu menikah dengan perempuan bodoh itu.


Chaby cepat-cepat melepaskan tangannya dari lengan Bara dan Pika lalu berlari kecil ke arah suaminya.


"Kenapa?" tanyanya semangat. Papa mantunya memperhatikan gaun sederhana yang dipakai gadis itu dengan kening berkerut. Tapi ia tidak bertanya. Ia sudah biasa melihat keanehan istri anaknya itu. Biarkan saja gadis melakukan apa yang dia mau selama hatinya senang.

__ADS_1


Decklan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan menarik gadis itu sampai bahu keduanya saling menempel kemudian menatap Luna dan tuan Antara bergantian.


"Istriku adalah adik kandungnya pemilik perusahaan CGD. Kalian pasti tahu perusahaan itu bukan? Danzel, kakaknya sudah bilang akan menjadi investor di rumah sakit kami. Aku tidak mungkin menolak orang dalam bukan? Jadi, terima kasih untuk tawarannya, tapi kami sungguh tidak bisa menerima tawaran anda tuan Antara." Decklan menjelaskan dengan panjang lebar. Sementara senyum di wajah Luna memudar. Ternyata istri Decklan anak orang kaya juga. CGD? Bukannya itu adalah salah satu perusahaan paling terkenal di Indonesia? Bahkan perusahaan papanya kalah jauh. Sial. Luna merasa tersaingi. Chaby sendiri memandang suaminya dengan wajah bingung. Memangnya kapan kak Danzel menjanjikan hal itu?


__ADS_2