
Suara menggelegar Danzel amat kuat dan menakutkan. Pika sampai-sampai memeluk lengan Bara karena takut melihat perubahan kakak dari sahabatnya tersebut. Mereka semua bingung saat Danzel tiba-tiba masuk dengan seorang dokter yang mereka kenali. Tentu saja mereka mengenal Luna. Bukan karena menyukai dokter itu, tapi mereka tahu Luna ada perasaan pada Decklan dan sering sekali mencari-cari kesempatan mendekati suaminya Chaby itu. , Hanya Danzel yang tidak tahu siapa sih Luna-Luna itu.
Terus terang Pika sendiri tidak suka pada perempuan rubah itu. Ia ingat dulu ketika Chaby masih hilang, perempuan itu selalu saja mencari alasan buat datang ke rumahnya. Alasannya bermacam-macam. Mau anterin berkas ke papanyalah, minta resep kue buatan mamanyalah, dan masih banyak lagi. Dipikir Pika nggak tahu apa niatnya yang sebenarnya. Sebenarnya waktu itu Pika sudah bilang ke mamanya untuk tidak terlalu baik pada Luna karena Luna punya maksud lain mendekati sang mama. Tapi karena mamanya sangat baik pada semua orang, jadi wanita paruh baya itu tetap menerima Luna. Untung saja kakaknya jarang sekali keluar kamar waktu di rumah dulu. Jadi Luna tidak bisa berbuat banyak.
Nanti setelah Chaby ketemu barulah Decklan kembali hidup seperti orang normal lagi, dan lebih banyak tersenyum. Ya iyalah, orang hidupnya seorang Decklan seolah berhenti berputar karena kehilangan seseorang yang sangat dia cintai, tentu saja obatnya adalah orang yang sama tersebut, bukan orang baru yang tiba-tiba datang dengan niat terselubung.
Tapi hari ini, Pika dan yang lain ikut penasaran kenapa Danzel semarah itu pada Luna dan teriakan keras laki-laki itu... Apa maksudnya?
Decklan ikut bangkit dari duduknya. Melirik Luna sebentar, dan memandang Danzel. Seolah ingin meminta penjelasan kenapa kakak iparnya itu sangat marah.
"Perempuan ini..." Danzel mengatur emosinya dan mulai berbicara. Ia menunjuk Luna yang berusaha bersikap biasa saja. Meski dalam hati perempuan licik itu ketakutan setengah mati. Decklan dan yang lain menunggu Danzel melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Dia penyebab Chaby jatuh. Dia yang mendorongnya." Danzel masih menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang buruk pada perempuan itu.
Sementara Pika dan yang lainnya terbelalak tidak percaya. Decklan mengepal tangannya kuat-kuat. Kalau Luna seorang laki-laki, ia pastikan wanita itu sudah habis ditangannya saat ini juga, tapi pria itu berusaha menahan emosinya agar tidak memukul perempuan itu. Apalagi Chaby masih belum sadar. Andra bilang istrinya tadi hanya tertidur, dan Decklan tidak mau sampai Chaby terganggu kalau dirinya berbuat kacau dalam kamar ini.
Luna sendiri menggeleng-geleng ke Decklan. Ia tidak peduli pandangan orang lain terhadap dirinya, dia hanya ingin Decklan percaya padanya. Oleh sebab itu, dia akan mencari segala alasan. Tidak ada bukti dirinya yang mendorong Chaby, hanya Nanda saja yang melihat. Karena itu buktinya tidak kuat. Ia bisa bilang kalau Nanda sengaja memfitnahnya didepan mereka.
"Decklan, jangan percaya. Aku difitnah. Mana mungkin aku tega menyakiti istrimu. Dan laki-laki itu..." tangan Luna menunjuk Danzel.
Pika dan Bara saling berpandangan. Pika sendiri merasa geram dengan sikap tidak tahu malunya Luna. Dia pikir dia siapa? Berani sekali perempuan itu mengusik seorang Danzel. Dia tidak tahu saja Danzel itu sosok laki-laki yang kejam apalagi kalau ada yang mengusik seseorang yang dia sayang. Karena tidak tahan, Pika melepaskan genggamannya dilengan Bara dan melangkah mendekati Luna. Bara membiarkan sang kekasih. Ia sendiri geram melihat wanita jahat seperti Luna itu.
"Heh, Luna! Jaga mulut busuk lo itu. Kak Danzel ini kakak kandungnya Chaby, asal lo tahu. Dan... lo beneran yang dorong Chaby sampe jatoh dari tangga? Lo waras? Gimana kalo Chaby kenapa-napa? Hah?!" sembur Pika sambil berkacak pinggang didepan Luna. Luna melemparkan tatapan tidak suka ke Pika. Untung adiknya Decklan.
__ADS_1
"Nggak ada buktinya kalo aku yang dorong dia. Jangan menuduh sembarangan. Decklan..." pandangannya fokus ke Decklan.
"Kamu percaya sama aku kan?" katanya lembut. Decklan memicingkan mata. Jelas-jelas perempuan ini berbohong. Laki-laki itu masih mencoba bersabar, lagi-lagi karena tidak mau Chaby yang lagi tidur terusik.
Diujung sana, setelah berpikir keras, Nanda akhirnya memutuskan. Luna sudah sangat keterlaluan. Ia tidak menyesali perbuatannya dan terus saja berbohong. Lebih baik ia keluarkan saja bukti rekamannya. Wanita itu menghembuskan napas panjang lalu mengeluarkan ponsel dari saku jas dokternya.
"Memang Luna yang mendorong istrinya dokter Decklan, aku punya bukti rekamannya." kata Nanda sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Menunjukkan hasil rekaman perbuatan Luna.
Dalam video tersebut, Chaby sedang berdiri didekat tangga sambil menatap kebawah, tiba-tiba seseorang muncul dari belakang dengan gaya mencurigakan, lalu mendorong Chaby. Wanita dalam video itu lalu berbalik dan berlari cepat dari sana setelah melakukan perbuatan jahatnya pada Chaby.
Oke, kali ini Decklan tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia menatap Luna dengan amarah yang luar biasa. Lelaki itu maju mendekati Luna yang melangkah mundur dengan ekspresi ketakutan. Namun sebelum Decklan mencapai perempuan itu, Danzel begitu cepat menyambar tubuhnya dan terakhir ia lihat kakak iparnya itu sudah mencekik leher Luna dengan wajah kesetanan.
__ADS_1
"Lihat bagaimana aku membunuhmu!" ucap Danzel dengan suara amat rendah yang terdengar begitu menakutkan. Auranya berubah gelap seketika.