
Akhirnya Decklan bisa menghirup udara negara kelahirannya lagi. Ia tidak begitu merindukan negaranya. Yang ia rindukan adalah seseorang yang yang berada di negaranya. Pria itu tersenyum senang. Setelah lama pergi akhirnya dia bisa balik lagi. Tanpa menunggu lama, Decklan keluar bandara dan naik taksi langsung ke kampus Chaby. Sekarang sekitar jam satu siang, pastinya gadis itu ada di kampus. Ia tidak tahan menunggu sampai gadis itu pulang. Pokoknya ia ingin bertemu sekarang juga.
Decklan sempat bertanya pada satpam didepan di mana letak jurusan musik. Setelah pak satpam menjelaskan, ia lalu menitipkan kopernya sebentar dan masuk ke dalam. Decklan tidak berniat menelpon Chaby karena ingin memberinya kejutan. Langkahnya terhenti ketika melihat Chaby dan adiknya berdiri didepan sana. Ia bisa melihat ekspresi terkejut mereka. Tapi...
Decklan malah melihat Chaby berbalik dan lari secepat kilat dari hadapannya.
Gadisnya lari?
Decklan menggeram kesal. Pasti dia mau kabur karena sudah berbuat salah. Enak saja.
"CHABY!"
tanpa pikir panjang Decklan mengejar Chaby. Koridor di siang hari itu cukup ramai sehingga banyak pasang mata yang menyaksikan Chaby dan Decklan saling kejar-kejaran. Chaby berlari sekencang mungkin. Ia jadi geli sendiri kalau kak Decklan sampai berhasil mengejarnya. Aduh, kok dirinya jadi parno begini yah.
"Chaby, berhenti nggak!" teriak Decklan dari belakang namun Chaby tidak mendengarnya, malah terus berlari sambil berteriak-teriak tidak jelas. Astaga, sejak kapan kekasihnya itu bisa berlari sekencang ini, dia sampai kesusahan mengejarnya. Para mahasiswa makin banyak yang menonton aksi kejar-kejaran dua sejoli itu dengan tampang heran.
"Ada apa?" tanya Risa yang baru keluar kelas harmoni. Dibelakangnya berdiri Aska. Kebetulan hari ini Aska mau latihan dengan Risa untuk penampilan minggu depan nanti di ulang tahun kampus.
__ADS_1
Pandangan Aska lurus ke Chaby yang berlari kencang melewatinya. Seorang pria yang ia tidak tahu siapa itu mengejar gadis itu dari belakang sambil sesekali meneriakkan nama Chaby. Aska terdiam di tempatnya berdiri. Matanya fokus melihat dua orang yang masih saling kejar-kejaran itu. Siapa pria itu dan apa hubungan mereka? Wajah pria itu tidak seperti anak baru. Ia tampak lebih dewasa dari gadis yang tengah dikejarnya sekarang.
"Nggak tahu," sahut salah satu cowok angkatan Risa. Risa memutuskan tidak peduli lalu menatap Aska.
"Ka, mau lanjut ke ruang latihan?" tanya Risa. Aska menoleh ke gadis itu lagi lalu mengangguk. Ia masih sempat menoleh ke arah Chaby sebentar sebelum pergi.
Chaby masih terus berlari didepan sana, ia bahkan tidak sadar sudah mencapai kebun kampus yang pohonnya. Di tempat itu memang tak ada lagi banyak orang, namun masih ada sejumlah kecil mahasiswa yang tengah duduk santai dibawah pohon.
Chaby menghentikan langkahnya sejenak dan mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Ketika menyadari Decklan makin dekat, ia menghentikan langkah cowok itu dengan sebelah tangan yang terangkat ke udara sebelah tangannya lagi memegang pinggangnya. Decklan refleks berhenti.
"K..kak Decklan, ber..henti s..sebentar ya, aku capek." pintanya sambil terus mengatur nafas. Decklan terkekeh tapi hanya sebentar dan berubah memasang tampang galaknya.
"Nggak." balasnya. Decklan memicingkan matanya.
"Kesini nggak?" katanya lagi. Kali ini Chaby tidak menjawab. Ia sudah mengancang-ancang mau kabur lagi namun Decklan berhasil dengan secepat mungkin menangkapnya.
"Hwaaaa.." teriak Chaby ketika tangan Decklan berhasil meraihnya dan malah memeluknya dari belakang kuat-kuat.
__ADS_1
"Mau lari kemana lagi, hm." gumam Decklan di ceruk leher Chaby sambil mengendus-endus leher jenjang itu, membuat Chaby merasa geli. Decklan bahkan tidak peduli kalau mereka lagi ada di tempat umum sekarang. Ia terlalu rindu pada gadis itu. Untung posisi mereka tertutupi dengan pohon besar, kalau tidak mereka pasti akan menjadi tontonan gratis hari ini. Sudah cukup orang-orang tadi melihat mereka kejar-kejaran.
Decklan terus memeluk gadis itu, melampiaskan segala rasa rindunya setahun ini, setelah itu baru membuat perhitungan dengannya.
"K..kak Decklan," gumam Chaby merasa geli di lehernya.
"Sst, diem." balas Decklan. Tangannya masih setia melingkar di perut Chaby cukup lama sampai matanya terbuka lalu meraba-raba perut gadis itu.
"Kamu gemukan." ucapnya membuat Chaby refleks berbalik menatap lelaki itu.
"Nggak kok!" balasnya cepat. Decklan terkekeh lalu menjepit hidungnya. Cowok kemudian seluruh menangkup wajah Chaby dan menatap gadis itu lama. Wajahnya tetap imut namun terlihat lebih dewasa. Dan bibir itu, bibir yang menjadi candunya, Decklan lalu mengecup bibir Chaby sekilas. Mata Chaby mengerjap-ngerjap, ia cepat-cepat mengunci bibirnya rapat-rapat saat Decklan melepaskan ciuman sekilas itu. Sudah lama mereka tidak berciuman, karena itu Chaby merasa malu.
Decklan tersenyum tipis. Ia mendekatkan wajahnya lagi ke bibir Chaby dan mencium gadis itu. Memaksanya membuka bibirnya. Setelah berhasil, lidahnya mulai masuk dan bermain didalam mulut Chaby. Keduanya menutup mata, menikmati setiap sensasi aneh yang sudah lama tidak mereka rasakan itu. Decklan menekan tengkuk Chaby dan memperdalam ciumannya, sementara Chaby mulai memberanikan diri membalas ciuman Decklan membuat mata Decklan terbuka dan menghentikan ciuman mereka sesaat dan menatap kekasihnya. Chaby ikut menatap cowok itu bingung.
"Oh, udah berani bales ciuman aku sekarang." goda Decklan. Biasanya Chaby tidak pernah membalas ciumannya, hanya Decklan yang memimpin.
"K..kak Decklan nggak su.. mmph.."
__ADS_1
Decklan kembali mencium Chaby, ciumannya makin berani sampai suara seseorang menghentikannya.
"Wow!"