
Andra mencengkeram lengan Decklan, berusaha melepaskan lengan Decklan dari lehernya.
"Deck...lan." rintihnya dengan suara tercekik.
Tepat pada saat itu papa Decklan masuk.
"Deklan! seru papanya kaget.
"Ada apa ini?"
Mengabaikan papanya, Decklan menatap wajah Andra lekat-lekat, kemudian melepaskannya dan berlari keluar dari situ. Ia ingin bertemu Chaby sekarang. Demi Tuhan, gadis itu mengalami masalah yang begitu besar tapi dia sebagai kekasihnya malah tidak tahu apa-apa. Chaby pasti sangat terpukul saat ini.
Papa Decklan menatap Andra yang masih terduduk lemas dengan wajah babak belur.
"Apa yang terjadi?" tanya pria tua itu.
Andra berusaha berdiri.
"Aku akan cerita nanti om." balasnya lalu keluar menyusul Decklan.
Decklan melajukan mobil dengan kecepatan penuh, tangannya mencengkeram kemudi erat-erat sampai sampai buku-buku jarinya memutih. Perasaannya kacau, gelisah, takut. Jantungnya masih terus berdebar keras dan seluruh tubuhnya terasa dingin.
Pantas saja Chaby tidak pernah mendatanginya selama ini. Gadis itu mengalami masalah yang jauh lebih tragis darinya. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana keadaan Chaby? Sepanjang perjalanan ia terus berdoa semoga gadis itu tidak apa-apa.
Ketika sampai didepan apartemen Chaby, Decklan langsung melompat keluar mobil dan berlari masuk. Ia tahu sandi apartemen gadis itu, Danzel sendiri yang memberitahunya beberapa waktu lalu.
Decklan menggebrak pintu kamar kamar Chaby dan mendapati dua orang yang dia kenal berada disana. Andra juga sudah berdiri dibelakangnya dengan tampang menyedihkan. Wajah babar belur itu membuat mata Bara melebar.
Decklan maju mendekati mereka. Pandangannya melihat ke sekeliling ruangan itu, mencari-cari sosok Chaby tapi tidak ada.
__ADS_1
"Dimana Chaby? Decklan menatap Bara tajam. Ia belum memberi perhitungan dengan cowok itu juga.
Bara hanya menunduk tidak tahu mau menjawab apa. Kenyataannya gadis yang sedang di cari pria itu memang sudah pergi.
"JAWAB GUE!" teriak Decklan merasa frustasi. Pandangannya berhenti pada sebuah kertas yang disodorkan Galen.
Decklan membacanya. Dadanya terasa sakit. Ia membaca catatan itu berulang kali berharap ia salah membaca.
Decklan memejamkan mata dan berusaha mengatur nafas. Sesuatu yang gelap dan asing mulai menjalari dirinya, menyesakkannya. Ia merasa dirinya tenggelam dalam kegelapan yang dingin dan berputar-putar.
Tidak bisa bernapas... ia tidak bisa bernapas.
Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi. Ia tidak siap. Ia sangat ingin melihat Chaby. Memeluknya, menghiburnya dan bilang kalau ia tidak menyalahkannya atas kecelakaan yang menimpa Pika.
Decklan merasa telah melakukan kesalahan. Seharusnya ia menemui Chaby walau sibuk mengurus Pika. Kalau saja ia menemui gadis itu dan bilang kalau gadis itu tidak salah apa-apa dan tidak menyalahkannya pasti Chaby tidak akan merasa bersalah dan melarikan diri.
Decklan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri kalau sampai Chaby terluka. Ia tidak sanggup menanggungnya. Ia yakin ia bisa gila.
Andra, Bara dan Galen menatapnya dalam diam. Andra merasa sangat bersalah. Harusnya ia cerita saja. Awalnya yang dia pikirkan diam adalah cara yang paling baik. Namun ia sama sekali tidak berpikir Chaby akan kabur dan membuat keadaannya makin kacau.
Galen tidak bicara apapun. Ia merasa khawatir, ia harus mencari Chaby. Ada sesuatu yang belum dia bilang.
Tentang Danzel.
Sebenarnya waktu itu, waktu dirinya mengatur pemakaman pria itu, Danzel tiba-tiba bernafas lagi.
Galen cepat-cepat membawanya ke klinik salah satu teman dokternya dengan diam-diam untuk di rawat. Hal itu juga yang membuatnya cepat-cepat melakukan pemakaman palsu itu.
Danzel sekarang sudah sadar dan beberapa hari lalu ia berangkat ke Seoul. Pria itulah yang sering menelpon Galen akhir-akhir ini dan memintanya terus beracting didepan Chaby.
__ADS_1
Sebenarnya Galen ingin secepatnya memberitahu Chaby tapi Danzel melarangnya.
Danzel harus berangkat ke Korea dan mengurus semua masalah yang disebabkan oleh mamanya. Meski keadaannya belum benar-benar pulih, ia tetap pergi.
Ia meminta Galen merahasiakan keadaannya sementara karena khawatir Chaby mati-matian mau ikut dia ke Seoul.
Danzel takut mama mereka akan melukai Chaby lagi kalau sampai melihatnya. Ia telah mendengar kabar dari persidangan di Korea kalau wanita itu hanya di masukan ke rumah sakit jiwa karena hasil pemeriksaannya yang mengalami gangguan kejiwaan.
Kejahatannya di anggap tidak sengaja. Sudah separah ini perbuatannya dan hanya dianggap tidak sengaja? Yang benar saja.
Danzel harus mengurus semuanya agar wanita itu mendapat larangan pergi ke luar Negeri. Ia harus bertemu papanya juga dan sebisa mungkin membuat mamanya di masukan ke penjara. Itu alasannya kenapa Galen belum cerita. Namun sekarang ia menyesal, harusnya ia bilang saja.
Kalau Chaby tahu, gadis itu tidak akan kabur seperti ini. Lagipula ia sudah tidak bisa ikut Danzel lagi karena pria itu sudah berangkat.
Galen mengusap wajahnya kasar, merasa dirinya sangat bodoh. Ia sudah tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ia harus menemukan gadis itu, sebelum Danzel pulang.
***
Di tempat lain, Chaby berjalan tanpa arah. Ia tidak tahu mau kemana. Niatnya memang begitu besar untuk pergi, mengubah dirinya untuk menjadi lebih kuat dan lebih mandiri. Namun ia tidak tahu mau mulai dari mana.
Seharian ini ia hanya duduk didepan rumah sakit tempat Pika di rawat. Saat malam tiba dan rumah sakit itu makin sunyi, ia pergi melihat Pika diam-diam. Lagi-lagi ia tidak bisa menahan air matanya. Butiran-butiran air itu meluncur dari mata indahnya begitu saja.
Chaby tidak melihat Decklan disana. Hanya ada Gatan dan tante Lily, juga seorang pria tua yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Mungkin itu suaminya tante Lily, papanya Pika dan kak Decklan. Kak Decklan kemana? Ia sangat ingin melihat cowok itu.
Setelah puas melihat Pika gadis itu berbalik pergi. Kali ini ia duduk di bangku jalan dekat rumah sakit itu. Sudah tengah malam dan jalanan sudah sepi namun gadis yang biasanya takut gelap dan berada di tempat asing itu kali ini tidak merasakan apapun. Pikirannya di penuhi dengan rasa bersalah dan terus menangis sendirian tanpa suara.
Dari seberang sana, berdiri seorang pria jangkung dan tampan kira-kira berumur di awal dua puluhan tengah terus mengamati gadis itu.
__ADS_1
Masih ingat teman Pika yang ketemu mereka beberapa menit sebelum kejadian tragis itu terjadi? Yah. Pria itu yang saat ini terus mengamati Chaby dari tempatnya berdiri di ujung sana.
Namanya Karrel.