GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 86


__ADS_3

Selasa siang pulang sekolah, Chaby dan Pika sudah duduk di sofa ruangan kantor Danzel lengkap dengan seragam sekolah mereka. Sebenarnya Pika mau langsung pulang saja, namun mendengar bahwa Chaby ingin mampir ke kantor kakaknya ia langsung bilang mau ikut juga. Sekalian bisa cuci mata. Pika terkikik, tidak salahkan kalau ia memanjakan matanya dengan yang tampan-tampan. Memang sih ada kakaknya yang wajahnya tidak kalah tampan, namun sudah biasa ia lihat tiap hari.  Kalau kak Galen dan kak Danzel kan jarang-jarang.


Hari ini Chaby berhasil masuk kantor itu dengan mulus. Tidak seperti pertama kalinya ia datang. Dua resepsionis yang bertemu dengannya beberapa waktu lalu masih mengenalinya dan perlakuan mereka berubah drastis. Mungkin takut kalau-kalau ia melaporkan pada kakaknya jika ada perlakuan mereka yang kasar.


"Kakak lo kemana sih?" tanya Pika terus melirik-melirik ke pintu ruangan itu. Sudah hampir dua puluh menit mereka di ruangan itu namun belum ada tanda-tanda kedatangan Danzel ataupun Galen. Pika bukanlah gadis seperti Chaby yang sabar menunggu biar berjam-jam. Ia tipe yang gampang merasa bosan dengan menunggu seperti itu.


"Kan kamu denger sendiri sekretarisnya kak Danzel bilang mereka sedang rapat." balas Chaby yang tengah sibuk sendiri memainkan congklak, papan berlubang yang berisi biji-biji kerang. Permainan yang tergolong jadul, jadul banget malah tapi menurut Chaby seru.


Kakaknya sering membeli mainan-mainan unik yang seperti itu untuknya mengisi waktu luang, karena gadis itu tidak begitu suka melihat hp. Yah, mungkin karena Danzel tidak memperbiasakannya main hp dari kecil jadi hal itu terbawa sampai sekarang. Bukannya ia tidak suka benda pipih itu, hanya saja ia lebih senang main permainan seperti ini daripada game-game baru di hpnya.


Pika berdecak pelan. Ia mengakui kesabaran Chaby dalam menunggu. Gadis itu lalu berdiri dan berjalan keluar, ia sudah kebelet mau ke toilet. Chaby meliriknya sekilas, mengangkat bahu lalu melanjutkan permainannya lagi. Ia bahkan tidak sadar ada yang masuk dan duduk didepannya, menatapnya dengan bersedekapdada. Sesekali orang itu menyeringai.


Lelaki itu berusaha keras menahan bibirnya agar tidak tersenyum. Ia merasa lucu melihat mulut gadis itu yamg mencak-mencak tidak jelas, seolah asyik dengan dunianya sendiri. Apalagi wajah kaget Chaby yang menggemaskan ketika mengangkat wajah dan menyadari keberadaannya.


"Karrel?" seru Chaby dengan mata melotot sempurna. Ia heran kenapa lelaki itu tiba-tiba berada disini, diruangan kakaknya. Karrel melemparkan senyumnya.


"Sepertinya permainan itu ngalahin wajah tampan aku." kali ini sebelah tangannya menopang dagu menatap Chaby sambil menunjuk ke permainan yang dimainkan Chaby tadi.


"Kamu bahkan nggak sadar aku sudah duduk disini cukup lama." ia melanjutkan. Chaby menyengir.


"Kok ada disini?" tanyanya kemudian. Ia tidak tahu bagaimana Karrel mengenal kakaknya, kak Danzel juga nggak pernah cerita.

__ADS_1


Karrel menunjuk sebuah map biru disampingnya dengan telunjuk.


"Papaku ingin aku ngantarim berkas ini sama kakak kamu." jawabnya.


"Papa?" Chaby masih bingung. Karrel mengangguk.


"Aku juga baru tahu ternyata kamu itu adiknya Danzel, pebisnis muda yang beberapa waktu lalu menjalin kerjasama dengan perusahaan keluarga aku."  jelas cowok itu. Setelah itu Chaby baru bisa paham. Jadi begitu. Ia menganguk-anggukan kepala. Karrel mengamati gadis itu lama kemudian mencondongkan badannya ke dekat wajahnya.


"Jadi, kamu selalu mampir kesini  tiap pulang sekolah?" gumamnya pelan. Entah kenapa ia jadi tertarik untuk tahu kegiatan gadis itu. Sejak awal bertemu dengannya pun ia pikir Chaby ini gadis yang menarik.


Chaby mengibaskan tangannya didepan Karrel.


"Nggak, jarang banget malah." jawabnya langsung. Memang kenyataannya begitukan?


"Hmm, aku tanya kak Decklan dulu yah? Kata kak Decklan kalau mau pergi ke tempat baru harus lapor."


Karrel mengernyit bingung.


"Decklan? Kakak Pika?" ia merasa heran kenapa gadis itu harus bertanya pada kakaknya Pika. Ia melihat Chaby mengangguk.


"Kenapa harus lapor? Memangnya dia pa.." perkataan Karrel terhenti ketika melihat sebuah cincin yang tersemat indah di jari gadis itu. Ada rasa yang mengganjal hatinya. Ia berusaha tersenyum. Ia tidak butuh jawaban lagi, ternyata gadis itu sudah milik orang lain. Hah, benar juga. Gadis menarik seperti Chaby ini pasti banyak yang suka.

__ADS_1


"Kak Decklan itu suka marah kalau aku pergi kesembarang tempat dan nggak bilang-bilang." imbuh Chaby. Karrel tetap memperlihatkan senyumannya. Ia jadi penasaran seperti apa Decklan yang sering di sebut-sebut oleh gadis itu. Ingatannya kembali ke waktu ia pertama kalinya bicara dengan Chaby di depan rumah sakit. Disitu ada satu cowok yang terlihat sangat kacau yang menarik Chaby dan memberinya tatapan tajam. Mungkin Decklan yang disebut-sebut Chaby adalah cowok waktu itu.


"Kak Danzel!" Chaby berlari ke kakaknya yang muncul dari balik pintu diikuti Galen dan Pika dibelakangnya. Pika sedikit penasaran kenapa tiba-tiba ada Karrel namun ditepis saat mengingat perusahaan keluarnya punya kerjasama dengan perusahaannya kak Danzel.


Danzel menyambut adiknya yang selalu bergelayut manja padanya itu dengan senyuman lembut. Pika memonyongkan mulutnya. Ia juga mau bermanja-manja seperti itu, tapi kalau melakukan hal itu pada kakaknya, dipastikan kak Decklan akan merasa jijik.


Galen menertawai Pika. Ia bisa melihat ekspresi gadis itu.


"Jangan khawatir, sebentar lagi kamu bisa bermanja-manja pada seseorang." godanya. Galen tahu Bara sedang mengejar gadis itu, adiknya sendiri yang cerita. Pika menatap Galen bingung.


"Maksud kak Galen?"


Galen tidak menjawab dan hanya senyum-senyum. Pandangannya lurus ke seseorang yang duduk di sofa dalam ruangan itu. Keningnya berkerut, ia merasa lelaki itu familiar. Galen langsung mengenali Karrel ketika cowok itu berbalik menghadap mereka. Ia belum tahu kalau Karrel itu adalah anak dari rekan kerja mereka. Ia hanya tahu cowok itu adalah lelaki yang bersama Chaby dulu ketika gadis itu kabur. Tapi, kenapa cowok itu bisa ada disini?


"Kau sudah datang?" perkataan Danzel membuat Galen lebih keheranan.


"Dia siapa?" tanyanya langsung. Karrel juga tadi langsung mengenali Galen ketika melihatnya.


"Temannya Pika sama aku." jawab Chaby cepat, kali ini ia berpindah kesisi Galen dan menggandeng lengan pria itu.


Galen terkekeh mengacak-acak rambut Chaby.

__ADS_1


"Kamu tuh yah." ucapnya gemas. Ruangan Danzel yang biasanya hanya diisi oleh dirinya atau Galen kini berubah ramai karena kehadiran tiga orang itu.


"Ini berkas dari papa aku." Danzel mengangguk dan mengambil berkas yang disodorkan oleh Karrel. Ia lalu menjelaskan siapa Karrel pada Galen selain cowok itu adalah teman Pika dan Chaby. Galen baru mengerti.


__ADS_2