
Acara penyambutan telah berakhir. Semua orang berbondong-bondong keluar aula. Chaby dan Pika yang tidak mau ikut berdesak-desakan, memilih keluar terakhir. Keduanya saling berpandangan ketika melihat seseorang yang mereka kenal tengah berbicara dengan Aska dan Risa diatas panggung. Diatas panggung itu hanya ada tiga orang itu dan beberapa senior lain yang sibuk mengangkat barang-barang dan mengaturnya ke tempat semula.
"Karrel?"
dua gadis itu menyebut nama Karrel secara bersamaan dan kuat, hingga ketiga orang yang sedang berdiskusi diatas panggung itu menoleh. Karrel tampak terkejut juga menatap mereka. Pandangannya lebih condong ke Chaby. Setelah beberapa bulan tidak ketemu, gadis itu tambah cantik dan terlihat lebih dewasa. Ia akui perasaannya sukanya belum hilang. Ia juga tahu pacar Chaby kini tidak ada di Indonesia. Sebenarnya ia bisa memakai kesempatan ini untuk mendekati Chaby, hanya saja ia bukan lelaki sepicik itu. Ia tahu Chaby sangat mencintai kekasihnya itu. Jadi daripada merusak hubungan mereka, ia lebih ingin melihat Chaby bahagia. Meski dirinya harus menyimpan sendiri rasa sukanya pada gadis itu.
Chaby dan Pika ikut naik keatas panggung menyapa Karrel. Mereka senang bertemu lelaki itu lagi karena sudah cukup lama tidak ketemu. Pika sibuk dengan urusannya sendiri dan lebih banyak berdua sama Bara sang pacar dan Chaby.., setelah insiden pemukulan Decklan ia jadi tidak enak pada Karrel dan tidak punya alasan juga bagi mereka untuk bertemu.
"Kalian kuliah disini?" tanya Karrel menatap Chaby dan Pika bergantian.
"Mm, lo disini ngapain? Nggak mungkin kuliah kan?" Pika balik nanya. Karrel itu kan sudah lulus semenjak ketemu dia dulu, jadi nggak mungkin kuliah.
"Ah, gue ada urusan dikit disini." jawab Karrel menatap Aska. Aska sebenarnya adalah adik kandungnya, namun tidak banyak yang tahu selain orang-orang terdekat mereka. Adiknya itu sangat sibuk dan tidak tinggal di rumah lagi, jadi mereka jarang sekali bisa bertemu. Hari ini karena kebetulan dirinya juga ada waktu, akhirnya ia menyempatkan diri untuk bertemu dengan sang adik.
Pika manggut-manggut. Pandangannya berpindah ke Aska dan Risa. Kening Pika berkerut saat menyadari Aska terus menatap Chaby. Apa pria itu tertarik sama Chaby? Soalnya natapnya gitu amat. Tiba-tiba terbersit sebuah ide nakal dalam benaknya. Kayaknya ia bisa pakai kesempatan sekarang ini untuk membuat kak Decklan cemburu. Ia lalu buru-buru menarik Chaby mundur menjauh dari mereka dan berbisik ke telinga gadis itu. Karrel, Aska dan Risa saling menatap bingung.
"Lo bantu gue sekali ini aja bisa nggak?" bisik Pika.
"Bantu apa?" Chaby balas berbisik.
"Mintain nomor ponselnya kak Aska." mata Chaby melebar menatap Pika.
__ADS_1
"Kok aku? Kan kamu yang pengen." ucapnya merasa keberatan.
"Iya tapi aku malu banget tahu. Kamu kan orangnya nggak pemalu. Please By sekali ini aja bantu aku. Ya, ya, ya." Pika terus memohon. Ia melihat Chaby mendesah pelan lalu dengan berat hati mengangguk.
Pika tersenyum nakal. Mereka kembali mendekati tiga makhluk yang masih setia berdiri disana. Ketika Chaby menatap Aska dan mulai berbicara, Pika cepat-cepat mengaktifkan kamera hpnya dan mulai merekam. Karrel yang melihat hal itu nampak bengong.
"Kak Aska kan?" Chaby bertanya tanpa malu, menatap Aska yang terus memasang wajah datarnya sejak tadi dengan bersedekap dada. Chaby sempat tercengang melihat Aska. Setelah menatapnya dari dekat, ia langsung mengingat wajah itu. Pantas saja dirinya merasa sih pemilik wajah itu familiar, ternyata Aska ini adalah pria dingin yang dia tabrak di tangga beberapa jam yang lalu. Chaby memasang senyum lebarnya ke pria itu. Demi Pika, sahabatnya yang nyebelin itu, ia harus sebaik mungkin untuk mendapatkan nomor tuh cowok.
"Benarkan kak Aska?" Chaby mengulang pertanyaannya karena pria didepannya itu tidak juga menjawab. Pria itu malah terus menatapnya dengan alis naik turun. Gayanya sangat angkuh.
"Bisa minta nomor telpon kakak nggak?" kali ini gadis itu langsung ke intinya. Daripada nggak di jawab-jawab terus.
Karrel, Aska dan Risa sama-sama memasang tampang kaget. Risa nampaknya tidak begitu senang, namun berusaha bersikap biasa. Karrel? ia malah merasa Chaby dan Pika sedang ngerencanain sesuatu. Apa mereka lagi main permainan jujur nekat? Soalnya tadi mereka bisik-bisik.
"Mm..," mata Chaby melirik Pika sebentar sampai-sampai Pika buru-buru menyembunyikan ponselnya kebelakang. Ia bernafas lega karena Chaby sama sekali tidak sadar dan tidak curiga dengan perbuatannya itu. Saat Chaby menatap Aska lagi, Pika mengarahkan ponselnya kembali ke posisi mereka. Hanya Karrel yang menyadari gadis itu sedang merekam.
"Kak Aska itu ganteng, aku denger-denger pinter main musik juga. Mungkin aja nanti aku bisa berguru piano, bolehkan?"
perkataan itu meluncur begitu saja dari mulut Chaby dan sukses membuat seorang Aska tersenyum. Meski hanya senyuman tipis namun Karrel tertegun. Ia jadi khawatir adiknya itu akan menyukai gadis yang sama dengannya namun ia cepat-cepat membuang pikiran itu jauh-jauh. Aska belum bisa melupakan cinta pertamanya. Tidak mungkin ia mencintai gadis baru secepat itu. Tapi pesona Chaby... Karrel menggeleng-geleng kuat. Semoga tidak.
Memang banyak gadis yang sering mendekati Aska, namun baru gadis didepannya ini yang membuatnya betul-betul merasa tertarik semenjak kepergian tunangannya.
__ADS_1
Semenjak Chaby menabraknya di tangga, kelakuan polosnya dalam aula tadi dan perkataannya yang blak-blakan sekarang menurut Aska menarik.
"Karena lo cewek paling cantik di dunia, gue bisa kasih nomor gue."
Pika langsung mematikan kamera hpnya, menaruhnya ke dalam tas, menatap Aska sebentar kemudian menertawai Chaby yang sudah menutupi seluruh wajahnya dengan tangan karena malu. Ternyata Aska juga mendengar perkataan Chaby dalam aula tadi. Karrel malah makin bengong, sedang Risa, gadis itu terlihat sekali tidak suka. Ia tidak suka Aska memberikan nomornya sembarangan pada orang asing. Apalagi status pria itu yang istimewa. Sebagai pianis muda yang cukup terkenal. Tidak harusnya ia sembarangan memberikan nomornya.
"Katanya pengen minta nomor gue." kata Aska terus menatap Chaby. Pika disebelah gadis itu buru-buru mengambil ponsel Chaby dan memberikannya pada Aska supaya pria itu bisa mengetik nomornya setelah itu dia save. Chaby masih setia menutupi wajahnya yang malu dan tingkahnya itu menambah kesan pada Aska.
"Ka, lo nggak minta ijin dulu ke manajer lo? Bukannya nggak bisa yah ngasih nomor sembarangan sama orang asing." gumam Risa mengingatkan. Aska menatapnya malas.
"Gue bisa ngomong nanti." balasnya cuek lalu menatap Karrel.
"Bang, gue balik dulu." katanya berpamitan. Karrel mengangguk. Aska menoleh sebentar menatap Chaby.
"Bye, cewek tercantik di dunia." ucap pria itu memberikan tekanan pada kalimatnya sambil menyeringai kemudian berbalik pergi. Risa mengikuti langkah Aska dari belakang setelah ikut pamit ke Karrel.
Chaby lalu menurunkan tangan dari wajahnya yang terasa panas lalu mengerucutkan bibirnya karena Pika terus-terusan menertawainya.
"Semua gara-gara kamu tahu." katanya menatap Pika sebal.
"Lo berdua pulangnya gimana?" tanya Karrel. Ia sebenarnya masih pengen ngobrol banyak dengan mereka tapi setelah ini dirinya masih ada meeting, jadinya tidak bisa berlama-lama.
__ADS_1
"Kak Bara udah nungguin kita didepan." sahut Pika karena ia baru membaca pesan Bara. Karrel mengangguk mengerti. Sesaat kemudian ketiganya berjalan beriringan ke parkiran kampus.
Sepanjang perjalanan, Pika sibuk tertawa sendiri. Ia ingin lihat apa reaksi kakaknya setelah melihat video yang akan dia kirim nanti.