GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 44


__ADS_3

"Aku iri banget deh sama Chaby. Dia beruntung banget." gumam Pika. Ia lagi duduk berdua dengan Bara di taman belakang habis makan malam bersama di rumahnya.


Berita tentang Chaby hamil itu membuat orang rumah heboh. Tante Lily masak besar malam ini untuk merayakannya. Wanita tua itu juga menyuruh Chaby menelpon kak Danzel dan kak Galen untuk datang merayakan bersama. Tiba-tiba rumah mereka sudah ramai. Ada Sharon juga yang datang hari ini. Danzel yang membawanya, meski Chaby yang menelpon.


"Kamu juga beruntung kok." balas Bara lembut. Pika menatap lelaki itu.


"Tapi Chaby lebih beruntung. Dia punya semuanya. Semua orang juga sayang banget sama dia. Kak Decklan aja tetap cinta mati sama dia meski udah  bertahun-tahun nggak ketemu. Kadang aku pengen jadi dia. Nggak perlu berusaha keras tapi dicintai banyak orang." ungkap Pika.


"Kalo aku hilang kayak Chaby, kak Bara bakal nunggu aku nggak?" Bara menatap gadis itu serius. Ia tidak suka Pika bicara begitu.


"Kok kamu ngomong kayak gitu sih? Aku nggak suka." katanya datar.


"Loh, kenapa? Aku kan pengen tahu doang kak Bara secinta apa sama aku. Jangan-jangan kak Bara belum nikahin-nikahin aku sampe sekarang karena masih ragu sama aku yah? Kak Bara bosan pacaran sama aku?" nada bicara Pika makin menuduh. Ia merasa akhir-akhir ini hubungannya dan Bara memang sedikit berbeda dari dulu. Jujur ia merasa bosan karena sikap Bara yang terlalu dingin dan kadang tidak peka. Pria itu terlalu mementingkan pekerjaannya dibandingkan pacar.

__ADS_1


"Kamu ragu sama cinta kita?" balas Bara. Tiap kali bertengkar dengan Pika, dadanya terasa sesak. Pika selalu mengulang kata-kata yang sama dan terus menuduhnya tidak menyukai gadis itu lagi.


"Yah, selama ini kak Bara lebih fokus sama pekerjaan kak Bara daripada aku. Liat kak Decklan, sekalipun sibuk di rumah sakit, tetep aja tuh utamain Chaby." Bara berdiri dari tempat duduk.


"Sampai kapan kamu akan banding-bandingin aku sama pria lain? Masalahnya bukan sama aku Pika, tapi pikiran negatif kamu." ujar pria itu mencoba bersikap tenang. Ia tidak mau yang lain mendengar pertengkaran mereka. Akhir-akhir ini Bara memang merasa Pika sangat sensitif. Dia tahu Pika mungkin merasa khawatir karena ia tidak melamar-lamarnya juga. Tapi Bara perlu mempersiapkannya dengan matang. Apalagi sekarang kondisi mamanya membutuhkan penanganan yang lebih serius. Bara ingin mamanya bisa melihatnya menikah. Cintanya pada gadis itu memang tidak berkurang sedikitpun, tapi kalau mau menikah sekarang ini dengan keadaannya Pika yang sering sekali bersikap labil, membuatnya harus benar-benar menyiapkan mental yang kuat.


"Jadi maksud kak Bara aku yang salah? Aku yang terlalu kekanakan gitu? Hah, bilang aja kak Bara udah bosan. Nggak usah cari alasan lain" balas Pika tak mau kalah.


"Aku nggak mau berdebat sama kamu lagi. Lebih baik kita berdua menenangkan diri dulu baru bicara lagi. Aku pulang sekarang." kata pria itu lalu berjalan keluar meninggalkan Pika sendirian. Gadis itu mengepal tangannya kuat-kuat lalu melempar gelas ditangannya ke tanah. Untung tidak pecah, hingga tidak menimbulkan kegaduhan.


"Mau kemana lo?" Andra bertanya ketika melihat Bara yang mengambil ponselnya dan beranjak keluar. Ia mau pamitan ke orangtua Pika tapi mereka sibuk ngobrol sama Chaby dan Danzel. Decklan juga ada di sana.


"Pulang. Bilangin ke tante Lily dan yang lain ada yang harus aku kerjakan." ujar Bara lalu lanjut keluar. Andra merasa aneh. Tampaknya pria itu tidak terlihat begitu baik. Jangan-jangan dia bertengkar sama Pika lagi. Akhir-akhir ini Bara memang sering bercerita tentang Pika yang selalu mengeluh dengan hubungan mereka.

__ADS_1


                                  ***


"Jadi nak Sharon punya toko bunga sendiri?" tante Lily bertanya dengan antusias. Ia juga salah satu orang yang sangat menyukai bunga. Sharon mengangguk senang. Tampaknya ia cocok ngobrol dengan mama mertuanya Chaby. Mereka punya hobi yang sama.


"Kapan-kapan boleh dong tante mampir ke toko kamu." kata tante Lily lagi.


"Iya tante. Tante bisa datang kapan saja kok. Sekalian liat bunga-bunga aku." ucap Sharon senang.


"Ohya, mengenai Chaby sama Arion, hitung aja berapa banyak uang kamu yang udah keluar karena ngurusin mereka berdua. Jangan sungkan-sungkan, suaminya kaya kok." kata tante Lily lagi sambil menatap Decklan yang sekarang lagi ngobrol berdua sama Andra. Chaby sendiri sibuk bermain dengan Arion dan Gatan di depan tv. Galen terlihat bergabung dengan mereka. Danzel, tampaknya sedang bicara serius dengan suaminya.


"Nggak apa-apa kok tante, Chaby sama Arion udah kayak keluarga aku sendiri. Nggak pantes hitung-hitungan gitu." tante Lily yang mendengar perkataan Sharon langsung tersenyum penuh arti.


"Oh iya tante lupa, kan kamu sama kakaknya Chaby pacaran kan sekarang." Sharon tersenyum malu-malu. Sesekali ia mencuri-curi pandang ke Danzel di ujung sana.

__ADS_1


__ADS_2