
"Astaga! Chaby, Pika, kalian cantik banget."
Heboh tante Lily. Wanita paruh baya itu nggak berhenti-berhenti memandangi anak perempuannya satu-satunya itu dan sahabatnya yang terlihat begitu anggun. Padahal gaya berpakaian mereka terbilang sederhana. Ketiga cowok yang berdiri didekat situ sampai-sampai menertawai sih wanita paruh baya itu.
"Siapa dulu dong ma, Pika."
Pika mengangkat dagunya tinggi-tinggi menyombongkan diri. Chaby yang melihatnya ikut-ikutan memperagakan gaya Pika.
"Chaby!" cewek itu mengikuti gaya Pika hingga mereka di tertawakan oleh yang lain.
"Kocak nih berdua." seru Andra menunjuk-nunjuk dua gadis itu di sela-sela tawanya. Pika ikut tertawa senang. Pandangannya berpindah ke Decklan yang tampak tersenyum lebar. Sangat lebar. Bukan hanya ke Chaby saja, tapi saat menatapnya juga.
Pika tertegun sesaat, ada rasa senang dalam hatinya namun juga agak canggung karena kadang sekali kakaknya akan tersenyum begitu menatapnya. Kenapa nggak dari dulu aja sih, kan adem banget liatnya.
"Udah-udah, cepet pergi gih. Nanti kalian telat lagi." ucap tante Lily mengingatkan. Bisa-bisa kelima remaja itu terlambat ke pesta karena lupa waktu.
"Ya udah ma, kita pergi yah. Dah mama." pamit Pika di ikuti yang lain.
Mereka semua semobil di mobilnya Bara. Decklan yang menyetir. Bara duduk di sebelah kemudi dan Andra nimbrung bareng Chaby sama Pika di bagian tengah. Mereka bertiga ribut banget kayak tante-tante arisan. Bara sesekali tertawa pelan. Bisa-bisanya sih Andra mau diajak ngerumpi ala cewek-cewek itu. Udah gitu pembicaraan mereka dari tadi hanya berputar-putar pada teman-teman sekelasnya dua cewek itu yang dandanannya menor lah, tukang caper sama cowok lah, kutubukunya kebangetan dan masih banyak lagi. Ya ampun, memangnya nggak ada pembahasan yang lebih berfaedah apa. Bara menggeleng-geleng.
***
Di tempat lain, Nana berulang kali menatap berkeliling mencari-cari keberadaan cowok yang sejak tadi ia tunggu namun belum kelihatan juga batang hidungnya.
Gaun berwarna merah terang yang dipakainya sangat pendek dan terbuka. Lokasi pesta ulang tahunnya dibuat di area taman dekat dengan kolam renang. Terletak di pusat Senayan, di salah satu hotel bintang lima.
Nana mulai terlihat gelisah. Kok Decklan belum datang juga sih. Kan dia sudah ngomong ke semua orang kalo tuh cowok bakalan dateng.
__ADS_1
"Na, katanya Decklan mau datang." tanya Mira salah satu teman sekelasnya. Cewek itu sudah berdiri didepan Nana bareng Mega, teman sekelasnya yang lain.
"Iya, kita kan kesini cuman pengen liat penampilan kerennya Decklan sama temen-temennya tanpa seragam." tambah Mega.
Nana berusaha menutupi rasa kesalnya. Jadi maksud mereka kalau Decklan sama teman-temannya gak ada, mereka juga nggak bakalan datang gitu? Masih untung di undang juga.
"Lo berdua tenang aja, Decklan udah bilang ke gue bakalan datang." katanya agak jengkel. "Nikmatin aja pes..."
"Tuh Decklan sama Bara!" seru Mira memotong perkataan Nana.
Nana dan Mega ikut menoleh kearah yang di tunjuk Mira. Senyuman di wajahnya mendadak hilang seketika saat melihat kedua cewek yang nggak dia suka itu datang bareng para cowok itu.
"Tuh dua cewek yang bareng mereka adek kelas bukan sih? cantik bangeet."
Mega ikut mengangguk mengiyakan pendapat Mira. Kelima orang yang datang bersama itu terlihat begitu enak di pandang. Semuanya punya aura yang berbeda-beda.
Pandangan mereka tidak lepas dari Decklan yang tampak perhatian pada sih cewek yang pakai dress navi. Mereka sampai-sampai tidak sadar Nana yang berdiri di sebelah mereka sudah kebakaran jenggot menahan emosi.
Cewek itu berusaha terlihat biasa saja saat melihat Decklan dan yang lainnya berjalan kearahnya. Ia yang berulang tahun hari ini, tentu saja mereka harus menghampirinya buat kasih ucapan.
Nana berusaha keras untuk tersenyum. Ini pestanya, ia harus terlihat yang paling bahagia didepan orang-orang.
"Happy birthday yah Na." ucap Andra sambil mengulurkan tangannya pada cewek itu lebih dulu dari yang lain.
"Makasih yah Ndra." balas Nana menyambut tangan cowok yang memberinya ucapan selamat itu.
Pandangannya berpindah ke Chaby dan Pika yang setia berdiri disamping Decklan. Tatapannya tajam dan tidak bersahabat melihat keduanya.
__ADS_1
Pika sejak tadi malah terus-terusan melihat penampilan cewek itu dari atas kebawah dengan ekspresi takjub. Waw.. mau jadi wanita penghibur? Lihat make up nya yang super super tebal itu. Kalau mau cari perhatian kakaknya mah cewek itu salah gaya. Padahal menurut Pika sih Nana ini aslinya cantik juga. Kelakuannya aja yang gak masuk sama dia, dia gak suka pokoknya.
"Gue suka gaya lo." katanya setelah berdiri menghadap Nana. Maksudnya sih mau meledek tapi entah kakak kelasnya itu peka apa nggak. Ia santai saja walau bisa melihat jelas wajah tidak suka Nana padanya dan Chaby.
"Makasih, tapi gue nggak ingat pernah ngundang adek kelas." balas Nana menohok. Ia terus menatap Pika tidak suka. Dirinya memang sudah berusaha menahan emosinya sejak tadi tapi gaya cewek didepannya yang mengejeknya dengan ekspresi sialan itu membuatnya tidak tahan.
"Kita di ajak kok sama kak Decklan biar nanti dibeliin hadiah. Kalo mau marah, marah aja sama kak Decklan." ucapan polos itu meluncur begitu saja dari mulut Chaby.
Pika, Andra dan Bara menoleh takjub ke cewek itu sambil menahan tawa mereka sedang Decklan yang di sebut namanya langsung menjitak pelan kepalanya.
"Ngomong apa, marahin aku?" cowok itu sengaja memasang tampang galaknya yang dibuat-buat membuat Chaby mengerucutkan bibirnya sambil mengusap-usap kepalanya.
"Bener kok, Pika yang ngajarin ngomong begitu tadi." katanya lagi menunjuk Pika. Sementara yang di tunjuk melongo tidak percaya. Memang benar dia yang ngajarin cewek itu tadi saat mereka dandan, tapikan itu cuman berandai-andai doang. Ia tidak menyangka Chaby sih penakut ini benar-benar berani mengatakan kalimat itu. Mode penakutnya lagi mati kali. Tapi Pika merasa senang karena Chaby seperti membelanya tadi didepan kakak kelas mereka itu. Pandangannya berpindah menatap Nana yang wajahnya sudah berubah merah padam menahan emosi atau, cemburu?
Decklan ikut menatap Nana.
"Gue yang ajak mereka, lo keberatan?" suaranya berubah datar saat berbicara pada cewek itu.
Nana memaksakan senyumnya menatap Decklan.
"N..nggak kok." sahutnya. Nggak mungkin kan ia bilang keberatan didepan cowok itu. Bisa-bisa cowok itu jadi lebih tidak menyukainya.
"Kak Bara fotoin aku disana dong, biar aku bisa pamer ke kak Galen sama kak Danzel kalo aku lagi di pesta."
Chaby menarik lengan Bara begitu saja, membawa cowok itu ke dekat kolam.
"Ya ampun, tuh anak kok jadi katro begitu sih." celoteh Pika namun tetap mengikuti Chaby dan Bara yang hampir mencapai kolam.
__ADS_1