GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 43


__ADS_3

Chaby terdiam tapi hanya sebentar. Ia lalu kembali mengomel panjang lebar membuat Decklan tanpa pikir dan tanpa ijin membungkam mulut gadis itu dengan mulutnya membuat lawan bicaranya itu terdiam kaku saking kagetnya mendapat serangan tiba-tiba.


Awalnya bibir mereka hanya saling menempel tapi entah dirasuki iblis atau apalah Decklan mulai menggerakkan mulutnya perlahan. Sensasi baru yang aneh namun membuat dada mereka bergemuruh hebat. Sensasi aneh ini pertama kalinya dirasakan keduanya. Decklan bahkan tidak bisa membayangkan kenapa ia begitu lihai padahal ini pertama kali baginya mencium seorang gadis.


Ciuman itu berlangsung tidak lama karena cowok itu tidak mau membuat gadis didepannya itu takut.


Decklan menatap gadis itu dalam-dalam dengan nafas terengah-terengah. Rasa gugup membanjiri tubuhnya. Jantungnya berdebar keras. Chaby balas menatapnya dengan mata membulat besar dan tangan memegangi bibirnya yang terasa sedikit membengkak. Ia benar-benar kaget tadi dan jantungnya...


Chaby memegangi dadanya. Mungkin banyak yang menganggapnya cewek yang sangat polos, namun masalah yang seperti ini dirinya jelas tahu. Dia bukan anak SD lagi.


Cewek itu cepat-cepat menundukkan kepalanya malu-malu sambil menggigit-gigit bibirnya. Ia sangat malu mengingat kejadian Decklan yang tiba-tiba menciumnya tadi, ia malu menatap wajah cowok itu.


Decklan mengulum senyumnya melihat tingkah malu-malu cewek itu. Entah kenapa perasaannya begitu senang. Cowok itu sudah tidak gugup lagi. Ia lalu mendekatkan wajahnya lagi ke cewek itu dan berbisik di telinganya pelan.


"Aku sayang kamu, mau kan jadi pacar aku?" bisiknya pelan lalu kembali menatap gadis itu dalam-dalam. Jarak mereka sangat dekat sampai-sampai Chaby bisa merasakan nafas cowok itu begitupun sebaliknya.


Chaby terperangah. Ia mendongak menatap cowok itu. Kak Decklan menyukainya? sejak kapan? Dan lagi, kenapa jantungnya masih nggak bisa kompromi sih.


Ingin rasanya ia menghilang dari situ sekarang juga karena merasa sangat malu.


Yah ampun, bagaimana bisa kabur kalau didepannya itu ada cowok yang baru saja menembaknya dan terus mengamati setiap gerak-geriknya itu dengan jarak yang begitu dekat dan ekspresi yang...


Aaahh... Pokoknya dia malu banget. Chaby kembali menundukkan kepalanya malu-malu. Ia tidak tahu harus berkata apa. Mulutnya berat untuk bicara.


Decklan yang sejak tadi menatap dan menunggu gadis itu bicara tersenyum tipis. Ia kemudian menarik Chaby, meraihnya begitu erat dalam pelukan dan mencium pipi kirinya perlahan.

__ADS_1


"Sekarang kamu pacar aku." putusnya sepihak. Ia tidak butuh jawaban cewek itu lagi karena bahasa tubuh dan tingkah cewek itu membuatnya yakin kalau dirinya tidak akan di tolak. Pria itu lalu menarik nafas lega. Akhirnya perasaan yang selama ini ia tahan bisa ia ungkapkan hari ini.


                                   ***


"APA!" Kak Decklan nyium lo di mana?"


Pika berteriak kencang dengan mata membelalak menatap Chaby. Ia seolah tak percaya kakaknya akan melakukan hal begitu pada gadis itu.


Ia bertanya-tanya sendiri apakah anak sekolah sudah bisa melakukan hal begitu kalau pacaran?


Cewek itu kemudian menertawai dirinya sendiri. Anak-anak jaman sekarang bukannya banyak melakukan itu juga? Bahkan lebih malah.


Tapi,


Pika mengusap-usap dagunya menatap Chaby dan mengamatinya lama. Ini benar-benar gila. Ia menggeleng-geleng kuat. Masa dia kalah telak sama cewek polos begini sih. Kak Decklan bener-bener hebat. Baru juga jadian tapi udah main nyosor begitu. Bagaimana kalau kakaknya Chaby tahu, iih...


"Oh ya By, kak Galen bilang nggak sama lo mau pulang jam berapa gitu?"


tanya cewek itu mengganti topik. Ia sudah puas setelah tahu Chaby dan kakaknya udah pacaran. Cewek itu sesekali merasa geli melihat tingkah Chaby yang masih malu-malu padahal kak Decklan sama sekali nggak ada disini. Perasaan waktu dirinya pacaran dulu biasa aja. Pika mengangkat bahu acuh tak acuh.


Hari ini ia nginap di apartemen Chaby. Dari rumahnya tadi cewek itu sudah semangat bergebu-gebu. Ia senang karena berpikir akan bertemu dengan kak Galen yang ganteng dan baik hati itu, tapi waktu sampai kak Galennya malah nggak ada. Hanya ada kak Danzel yang sekarang ini pun lagi sibuk dengan kerjaannya diruang kerjanya.


Pika menghembuskan nafas lelah. Padahal ia sudah semangat sekali mau bertemu kak Galen, eh orangnya malah nggak ada. Ia menatap Chaby masih menunggu jawaban cewek itu.


"Kalo sibuk biasanya kak Galen pulangnya malem banget." jawab Chaby. Mereka sekarang lagi tidur-tiduran dikamarnya. Pika tersenyum masam. Ya sudahlah, mungkin emang belum jodoh.

__ADS_1


\*\*\*


Hampir seminggu ini dijalani Decklan dan Chaby dengan status yang beda. Tentu saja sekarang mereka adalah pasangan kekasih. Keduanya jadi sangat dekat, bahkan Decklan kadang lupa melihat situasi kalau mau godain Chaby didepan umum.


"Jadi gimana rasanya di sidang sama kakaknya kemaren?" pertanyaan yang dilontarkan Andra itu membuat mereka semua melirik Decklan. Cowok itu tidak punya niat menjawab.


Sekarang ini mereka ada di cafe dekat sekolah. Sepertinya tempat itu sudah menjadi tempat nongkrong baru buat mereka berlima. Yah, semenjak Decklan dan Chaby jadian mereka memang lebih sering berlima.


Decklan kembali ingat pertemuan mencekamnya dengan Danzel dan Galen saat mereka tahu ia memacari Chaby. Pandangannya turun ke gadis disebelahnya. Ia masih tidak habis pikir pada cewek itu yang dengan gamblangnya malah menceritakan tentang ciuman mereka pada kedua kakaknya.


Decklan sampai di sidang habis-habisan. Bahkan ada Bara yang ikut kena amukan Galen. Bara sampai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, memangnya dia salah apa?


Namun semua itu sudah berlalu. Sekalipun Decklan belum bisa dipandang sebagai orang dewasa, namun pikirannya jauh lebih dewasa dari kebanyakan anak SMA lainnya. Ia bisa membuat Danzel dan Galen tidak khawatir bagaimana dirinya akan memperlakukan Chaby kelak.


Ia berjanji akan menjaga gadis itu dan tidak akan melakukan hal-hal yang bisa mengotori pikiran Chaby. Lagipula, untuk apa dia melakukan hal itu pada wanita yang dia cintai. Ia bukanlah tipe cowok yang pacaran hanya untuk main-main.


Semenjak pacaran keduanya makin dekat dan Chaby pun mulai bergantung pada cowok itu. Para siswi di sekolah hanya bisa gigit-gigit jari ketika tahu idola mereka sudah nggak jomblo lagi.


Satu hal lagi, dua sejoli itu jadi sering berdua kalau ada waktu kosong. Decklan akan selalu menggunakan kesempatan berduaan dengan Chaby kalau dirinya dan cewek itu gak lagi sibuk.


Pikalah yang sering merasa kesal karena sekarang waktunya ngerumpi bareng Chaby jadi berkurang. Ia sempat menyesal kenapa dulu pengen banget kedua makhluk itu cepat-cepat jadian. Ternyata hasilnya malah dia yang rugi banget. Iih, sebel sebel sebel.


"Chaby, sekarang lo pilih gue atau kak Decklan?" saking kesalnya Pika sampai-sampai bertanya begitu pada Chaby. Pasalnya dari tadi ia terus menerus menjadi penonton setia dua orang yang tengah kasmaran itu.


Chaby menatap Pika heran. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan tatapan Decklan pada adiknya itu yang seolah mengatakan,

__ADS_1


"Maksud lo ngomong gitu apa?"


__ADS_2