GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 46


__ADS_3

Darah yang mengalir dalam tubuh Bara seolah-olah membeku. Tanpa berpikir lagi, ia menarik pria yang berciuman dengan Pika itu berdiri, dan dengan satu sentakan keras, ia meninju wajahnya. Begitu pria itu  tersungkur di lantai, Bara langsung menariknya berdiri lagi dan mendorongnya dengan kasar ke dinding meja bar, sampai-sampai gelas dan botol minuman di sana jatuh berhamburan ke lantai dan pecah.


Saat itu Bara benar-benar kalap, tidak bisa berpikir jernih. Yang dirasakannya hanyalah amarah yang begitu besar dan perasaan yang dikhianati oleh pacarnya. Decklan langsung menahan lengan Bara, berusaha melepaskan lengan Bara dari leher pria itu. Sedang Pika hanya berdiri mematung. Ia kaget sekaligus syok. Mabuknya mendadak hilang.


"Bara, tenangkan dirimu." Decklan memberi peringatan. Bara menatap wajah pria yang babak belur itu lekat-lekat.


"Aku akan menghabisinya." gumam Bara dengan suara yang sangat rendah, sangat dingin, dan sangat serius. Suasana berubah menjadi sangat mencekam sementara Pika menatap Bara sambil menggelengkan kepala.


"Kak Bara, pleasee.. aku yang salah. Aku yang memulainya." gadis itu  memegang lengan Bara sambil terisak. Bara menatapnya sebentar tapi langsung membuang muka. Ia sangat terluka. Apalagi mendengar pengakuan Pika. Ia melirik Decklan yang berdiri di antaranya dan pria itu lalu melepaskan pria yang dipukulnya tadi.


"Aku pergi. Kau saja yang mengurusnya." ucapnya pada Decklan. Pika cepat-cepat menarik tangan pria itu, menggeleng-geleng kuat berusaha menghentikannya, memohon agar dia tidak pergi.


"Maafin aku kak Bara, aku salah..." gumam Pika menangis keras. Bara menutup matanya dalam-dalam lalu menoleh sebentar, menatap gadis itu.


"Aku tidak ingin melihatmu sekarang." katanya singkat lalu berjalan pergi. Ia perlu menenangkan pikirannya.


Bara meninggalkan Pika yang menangis tersedu-sedu. Ia begitu bodoh. Kenapa dia harus datang ke tempat terkutuk ini? Kenapa juga dia tiba-tiba mencium pria asing yang tidak dikenalnya itu. Hanya untuk melampiaskan kekesalannya pada Bara, ia malah minum-minum sampai tidak berpikir sama sekali. Ini semua karena alkohol sialan itu. Tidak, tidak. Bukan alkohol penyebabnya. Dia sendiri. Dirinya sendirilah yang membuat keadaan menjadi kacau. Dia yang salah.

__ADS_1


"Ayo pulang sekarang!" Decklan menarik tangan Pika dengan raut wajah menahan marah. Astaga, apa yang dilakukan adiknya itu. Bukannya menyelesaikan masalah, malah makin memperumit masalah. Pria yang dipukul Bara tadi sudah lebih dulu dibawa pergi oleh temannya.


                                   ***


"Kau tahu apa kesalahanmu?" Decklan bertanya pada gadis yang terus menunduk sambil terisak kuat di ranjangnya itu. Mereka sudah sampai di rumah. Untung semua orang sudah tidur jadi tidak ada yang menyadari mereka berdua pulang. Pika terus terisak. Tapi Decklan sama sekali tidak berusaha menghiburnya. Biar saja adiknya itu tahu apa kesalahannya.


"Kenapa harus ke bar? Kamu tidak biasa ke sana kan? Dan pria yang kau cium tadi, siapa dia?" tanya Decklan lagi dengan tangan terlipat di dada menatap lurus Pika. Ia heran. Pika tidak pernah seliar ini sebelumnya. Apa tanpa sepengetahuan mereka gadis itu bergaul dengan orang-orang tidak jelas? Tapi tidak mungkin. Decklan tidak percaya. Pika jelas tahu pergaulan yang buruk bisa menghancurkan kehidupannya.


"Pika, jangan nangis terus. Kamu mau masalah kamu sama Bara nggak selesai-selesai? Jelasin keadaan kamu di bar tadi. Kenapa sampai melakukan hal itu?" ujar Decklan serius. Di satu sisi, Bara adalah sahabatnya. Sedangkan Pika adalah adik kandungnya sendiri. Mana mungkin dia membiarkan keduanya. Ia tahu Bara sangat marah. Kalau gadis yang bercumbu dengan pria tadi adalah Chaby, ia pasti akan melakukan hal yang sama. Tapi sekarang ia harus menempatkan diri sebagai pria dewasa yang bisa membantu keduanya. Pika akhirnya mulai buka suara ketika sudah lebih tenang. Meski masih terisak sesekali.


"T..tadi a..aku marahan sama kak Bara. Terus kak Bara pergi. A..aku juga mutusin keluar rumah buat nenangin diri."


"Sedikit aja." Decklan membuang nafas kesal mendengar perkataan adiknya.


"Sedikit? Kamu tahu ukuran sedikit buat gadis yang tidak biasa minum sepertimu?" dasar gadis bodoh. Pika hanya menunduk lalu mengangkat kepalanya lagi menatap Decklan.


"Pokoknya aku hanya minum sedikit terus kepalaku tiba-tiba pusing. Ketika melihat laki-laki yang duduk di sebelahku, aku pikir dia kak Bara. Lalu..."

__ADS_1


"Lalu ciuman itu terjadi." sambung Decklan sudah yakin dengan apa yang akan Pika katakan selanjutnya karena setelah itu adiknya menunduk tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia masih sesenggukan. Kali ini Decklan tidak bicara lagi. Adiknya juga terlihat kelelahan. Decklan lalu memegang kepala Pika dan menepuk bahunya pelan.


"Tidurlah. Aku akan bicara dengan Bara besok. Sebaiknya kamu meminta maaf padanya. Bara sedang banyak pikiran akhir-akhir ini karena penyakit mamanya yang makin parah, kamu juga harus mengerti kalau dia sedikit sensitif."


Pika menaikkan wajahnya menatap kakaknya.


"Mamanya kak Bara sakit?" tanyanya. Ia pernah dengar Bara pernah bilang tentang kondisi mamanya, tapi tidak terlalu fokus waktu itu karena dirinya sibuk mengejar deadline kerjanya."


"Dia nggak ngomong?" Decklan balas bertanya. Ia pikir Pika sudah tahu.


"S..sepertinya pernah. Tapi aku nggak fokus waktu itu, jadinya lupa." Pika kembali menunduk, tambah merasa bersalah. Decklan menggeleng-geleng.


"Ya sudah. Tidurlah. Besok baru bicarakan lagi." ucap Decklan lagi lalu keluar dari tempat itu.


Ketika pintu kamarnya tertutup, Pika cepat-cepat meraih ponsel yang sengaja dia tinggalkan tadi. Ia tertegun. Ada sekitar empat puluh satu panggilan telpon dan satu pesan Wa panjang dari Bara. Namun panggilan itu sebelum dirinya ketahuan berciuman di bar.


Pika membaca pesan Wa Bara dengan saksama. Panjang sekali kalimat yang ditulis oleh pria itu. Dalam pesan itu Bara meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Pria itu juga cerita tentang kondisi mamanya dan rasa cintanya ke Pika yang tidak pernah berkurang sedikitpun.

__ADS_1


Pika menutup mulut dengan sebelah tangannya kemudian kembali menangis tersedu-sedu. Apa yang telah dia lakukan? Dia sangat bodoh. Benar-benar bodoh. Ia sudah menuduh pria itu seenaknya tanpa menanyakan Bara ada masalah atau tidak. Harusnya sebagai pacar, dia lebih peka.


__ADS_2