
"Kak Decklan kok gigit aku sih?" omel Chaby sebal. Ia mengusap-usap bagian belakang leher dan tulang selangkanya yang digigit Decklan tadi. Dua kali cowok itu menggigit lehernya dibagian yang berbeda dan ini pertama kalinya Decklan melakukannya semenjak mereka pacaran.
Decklan tertawa pelan. Gadis itu memang belum tahu apa artinya ia melakukan itu karena ini pertama kalinya. Cowok itu memilih tempat yang cukup tersembunyi supaya tidak dilihat orang lain. Di area belakang leher akan tertutup dengan rambut panjang milik Chaby sedang di bagian tulang selangkanya sudah pasti tertutup dengan baju yang digunakan gadis itu.
"Aku nggak gigit sayang."
Chaby mendelik tajam.
"Nggak gigit apaan, aku ngerasain sendiri kak Decklan gigit aku kok yee.." semburnya kesal.
"Itu tanda cinta aku ke kamu, nanti aku ajarin caranya biar kamu bisa bikin ke aku juga." Chaby terdiam, sepertinya ia ingat pernah sekali nonton film sama Pika yang cowoknya ngelakuin begituan ke cewek. Pipinya merona. Meski mereka sering berciuman tapi dirinya terus saja merasa malu didepan Decklan.
"Ciee malu." goda Decklan menoel-noel pipi Chaby. Gadis itu terus menunduk membuat Decklan tambah gemas.
"Mau aku tambahin?"
"Nggak!" tolak Chaby galak, cowok didepannya itu tertawa lalu mengacak-acak rambut gadis itu.
"Kak Decklan nggak balik asrama?"
"Kamu ngusir aku?"
"Nggak kok, kan aku nanya doang." Decklan tersenyum tipis.
"Aku temenin kamu dulu sampai kakak kamu pulang." gumamnya pelan lalu menarik Chaby agar bersandar pada tubuhnya.
***
Pika menatap berkeliling rumah mewah yang tak kalah besar dari rumahnya itu. Dia sekarang berada di rumah teman mamanya yang membuat acara ini, kata mamanya sih hari ini sang pemilik rumah berulang tahun, gadis itu hanya ikut-ikut saja.
__ADS_1
Sejak tadi Pika lihat hanya ada beberapa anak muda yang seusianya, kebanyakan yang datang adalah para orang-orang tua atau dua puluhan tahun keatas.
Kebanyakan dari mereka juga adalah orang-orang berkelas dan ada banyak pengusaha. Meski Pika juga termasuk dalam salah satu keluarga yang terpandang, namun kehidupan sederhana yang dijalaninya membuatnya merasa jauh dari orang-orang itu. Apalagi dia masih anak sekolah.
Pandangan Pika jatuh ke sekumpulan cowok berjas yang berjarak kira-kira tiga belas meter darinya. Mereka tampak berbincang-bincang. Pika menyipitkan matanya, ia seperti mengenal salah satu cowok dalam kumpulan mereka. Tanpa pikir panjang ia berjalan mendekat.
"Karrel?" ternyata memang Karrel. Ini adalah kebetulan yang menyenangkan karena ia tidak punya teman satupun di pesta ini, pastinya ia senang bertemu dengan orang yang dia kenal.
Karrel dan teman-temannya menoleh. Ia tampak heran melihat Pika.
"Jadi ini acara keluarga kamu?" tanya Pika langsung. Ia ingat sore tadi Karrel bilang harus pulang karena ada acara keluarga. Berarti ia punya hubungan keluarga dong dengan pemilik rumah ini.
Karrel tersenyum lalu mengangguk.
"Ini rumah aku. Yang bikin acara mamaku." jelas cowok itu. Pika tertawa pelan, kebetulan sekali.
"Mama kamu mana?" Karrel tidak bertanya lagi Pika datang bersama siapa karena ia juga ingat tadi gadis itu bilang mau menemani mamanya ke acara temannya. Ia hanya penasaran siapa mama Pika karena dirinya cukup kenal dengan teman-teman mamanya.
"Tante Lily?" tanya Karrel lagi.
"Kamu kenal?" Pika balas bertanya. Karrel mengangguk. Ia malah terkekeh mengingat tante Lily pernah cerita tentang anak perempuannya dan sering menjodoh-jodohkan mereka. Jadi anak perempuan yang di maksud wanita tua itu pasti Pika. Karena setahunya tante Lily cerita ia hanya punya satu anak perempuan. Sayang sekali, ia hanya menganggap Pika murni sebagai teman. Gadis itu juga pasti sama.
Mata Pika tiba-tiba menangkap sosok lain yang dikenalnya berdiri di ujung sana. Wah, kebetulan macam apa ini.
"Kak Danzel?" ia menggumamkan nama Danzel. Karrel ikut melirik pria yang dilihat Pika tengah berbincang-bincang dengan rekan-rekan kerjanya. Karrel kenal pria itu. Bulan lalu pria yang ia tahu bernama Danzel itu menjalin kerjasama dengan perusahaan papanya.
"Kamu kenal Danzel?"
"Mm." Pika mengangguk pasti. Karrel cukup heran karena gadis seumuran Pika ini bisa kenal pebisnis besar seperti Danzel.
"Kak Danzel itu kakaknya Chaby." Karrel lebih heran lagi mendengar penjelasan Pika. Ia lalu menatap Danzel lama dan mengingat Chaby. Setelah lama mengamati pria itu Karrel bisa lihat ada kemiripan wajahnya dengan sih Chaby Chaby itu. Cowok itu lalu tertawa pelan saat membandingkan sifat keduanya yang berbanding terbalik.
__ADS_1
"Kak Danzel!" panggil Pika saat melihat Danzel sudah sendiri. Orang-orang didekat situ menatapnya aneh, menganggap dirinya sangat tidak berkelas berada di pesta orang kelas atas. Sebenarnya Pika merasa malu karena tidak sadar malah berteriak memanggil Danzel tapi mau apalagi sudah terjadi, lebih baik memasang muka tembok saja.
Danzel yang mendengar namanya dipanggil menoleh kebelakang. Ia lalu melangkah ke arah Pika ketika melihat gadis itu.
"Hai kak." sapa Pika senang. Karrel masih berdiri disebelahnya.
"Kamu datang sama siapa?" tanya Danzel lalu melirik Karrel. Ia kenal Karrel adalah anak dari mitra bisnisnya. Karrel juga saat ini sedang membuka bisnisnya sendiri.
"Sama mama." jawab Pika. Danzel mengangguk. Oh, ternyata pikirannya salah. Dipikirnya tadi gadis itu datang dengan Karrel.
"Kak Galen nggak ikut?" Pika lagi-lagi bertanya. Ia selalu merasa senang melihat Galen karena lelaki itu sangat baik padanya. Kalau kak Danzel sih memang baik juga tapi orangnya jauh lebih serius dan kebanyakan diam jadi Pika sering tidak apa topik bicara dengan pria itu. Tapi kak Danzel orangnya sangat baik juga padanya.
"Dia ada urusan lain." sahut Danzel. Pika manggut-manggut mengerti.
"Chaby sendirian dong di apartemen?" Danzel mengangguk lagi. Kalau dulu ia tidak bisa meninggalkan adik kesayangannya itu sendirian, sekarang sudah tidak lagi. Chaby sudah banyak berubah. Meski manjanya tidak hilang namun sisi dewasanya mulai kelihatan. Walau sesekali gadis itu masih suka ngomel-ngomel karena dia sering pulang larut malam.
Pandangan Danzel beralih ke Karrel lagi.
"Aku dengar kau sedang buka bisnis baru?"
Karrel mengangguk.
"Tapi masih harus kerja keras untuk bisa bersaing denganmu." ujarnya tersenyum. Danzel balas tersenyum.
"Kau pasti akan sukses." balasnya. Karrel mengaminkan ucapan pria itu dan lagi-lagi tersenyum. Di dunia bisnis, Danzel adalah salah satu panutannya.
"Karrel," ketiganya menoleh ke arah panggilan, ke pria berjas yang sepertinya teman Karrel itu.
"Mama kamu cariin kamu." ujar lelaki yang entah siapa namanya itu.
Karrel menoleh sebentar ke Danzel dan Pika lalu pamit pergi. Setelah itu beberapa orang datang mendekati Danzel.
__ADS_1
"M..kak Danzel, aku ke mama dulu yah." ucap Pika. Setelah Danzel mengangguk ia berbalik pergi.