GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 40


__ADS_3

Galen tidak mengijinkan Chaby pergi ke pesta. Ia tidak suka adiknya itu bertemu dengan orang-orang tidak bertanggung jawab yang bisa saja sudah mabuk dan sewaktu-waktu mengganggunya. Walau badannya sudah terlihat seperti orang dewasa, Galen tahu sekali gadis itu masih jauh banget dari kata dewasa itu. Pikirannya masih anak-anak. Galen takut Chaby akan dipolosin orang dan mau-mau saja karena tidak mengerti apa-apa. Ia yakin kalau Danzel ada disini, pria itu juga akan keberatan.


Namun sejak tadi gadis itu dan Pika terus memaksanya. Ia malah jadi tidak tega tiap kali melihat wajah memelas Chaby. Harusnya ada Danzel disini. Danzel yang paling tahu menghadapi gadis itu kalau ia sudah mulai berulah.


Pandangan Galen beralih ke Bara yang tidak ada angin tidak ada hujan malah nongol di apartemen itu bersama kedua gadis itu. Masih lengkap dengan seragam sekolah lagi.


Ia tahu hubungan keduanya sudah dekat sekarang. Pasti tuh cowok sampai ikut mereka kesini karena ada maunya. Mungkin membantu mereka buat dapat ijin. Pinter juga Chaby sekarang yah.


"Ijinin aja bang. Gue sama temen-temen gue bakal jagain dia." ucap Bara menatap Galen.


Tuhkan bener


Galen menghembuskan nafas panjang. Ia kembali melirik Chaby yang sejak tadi terus memeluk lengannya.


"Kak Galeeeen..."


Ini nih kalau gadis itu sudah mulai bersikap manja dan memelas begitu ia jadi makin tidak tega. Kenapa pake ada pesta segala sih. Ia merutuk kesal.


Pandangannya turun ke Bara lagi.


"Gue titip Chaby sama lo." katanya kemudian.


"Kalo sampe ada apa-apa sama dia gue gak bakal segan-segan sekalipun Lo adek gue." tambahnya memberi peringatan.


Bara tersenyum remeh menatap abangnya itu.


"Gue tahu." balasnya pendek.

__ADS_1


Kedua gadis itu langsung bersorak senang. Chaby mencium pipi Galen berkali-kali sampai membuat pria itu tersenyum geli. Kalau maunya diturutin aja tingkahnya jadi manis begitu.


                                 ***


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Pika terus-terusan merasa iri pada Chaby. Andai aja dia juga dekat dengan kak Galen seperti cewek itu.


Gadis itu mendesah pelan lalu menyandarkan diri di kursi mobil. Bara yang mengemudi disebelahnya melirik bingung. Ia jadi penasaran kenapa cewek yang selalu heboh kemana-mana itu sepanjang perjalanan ini malah kebanyakan bengong.


"Lo kenapa? tanyanya. Mungkin saja tuh cewek sakit perut atau apalah, biar ia bisa berhenti sebentar. Pika menoleh kesamping.


"Maksud kak Bara? ia balas bertanya tidak mengerti. Kak Bara ini hobinya nanya-nanya ngegantung begitu. Bikin dia lebih bingung aja.


"Dari tadi lo diam aja. Gue pikir lo sakit." sahut Bara tanpa menatap cewek itu. Bisa-bisa mereka celaka lagi kalau dirinya tidak fokus mengemudi.


Oh maksudnya itu. Pika kembali mendesah berat dan menyandarkan dirinya di kursi. Matanya memandang  lurus kedepan.


                                 ***


"Nice!"


Gumam Pika terus mengamati Chaby. Ia baru habis mendandani gadis itu.


Karena aslinya Chaby memang sudah cantik, ia hanya memoles sedikit make up diwajahnya biar sahabatnya itu lebih kelihatan cerah dan kak Decklan makin klepek-klepek, heheh.


Rambut Chaby di Curly lengkap dengan dress panjang warna dongker model sabrina yang memperlihatkan bahu indahnya. Mereka baru membelinya bareng kak Bara tadi.


Chaby nggak tahu aja kalau gaun itu mereka beli pake duit kak Decklan. Kak Decklan sempat memberinya kartu kredit tadi sebelum mau ke apartemen Chaby buat minta ijin.

__ADS_1


Sekedar pemberitahuan saja kalau kak Decklan itu punya pekerjaan online mengajar dan menerjemahkan beberapa bahasa. Pernah lihat kan kalau cowok itu sering banget baca buku? Otak pandainya ia pakai buat cari uang sendiri di masa mudanya. Dan hasilnya terbilang fantastis. Jangan bilang kartu kreditnya itu di kasih papanya. Tidak sama sekali. Itu kak Decklan dapat dengan hasil kerja kerasnya sendiri hampir tiga tahun ini.


Orang tua mereka udah ngajarin mereka dari kecil buat hidup sederhana dan belajar untuk mandiri sekalipun hidup mereka berkelimpahan.


Sebenarnya banyak orang yang tidak tahu kalau papa mama mereka itu banyak menyumbang di beberapa Yayasan fakir miskin dan anak yatim piatu. Hanya tidak mau bilang nama saja karena menurut mereka nggak penting.


Pika sendiri pun sudah sering dapat bayaran dari hasil jual lukisannya. Meski belum terbilang besar. Namun setidaknya ia sudah mulai mandiri. Kekayaan hanya titipan. Yang penting hati di jaga dulu biar gak sombong dan memperlakukan semua orang itu harus sama. Kita nggak tahu kan kapan kita ada dibawah.


Balik ke Pika.


Cewek itu sendiri memakai dress hitam dan make up tipis yang tak terlalu beda dengan Chaby. Ia nggak suka terlihat norak.


"Yuk ke bawah. Kak Decklan sama yang lain udah nunggu." ucap Pika menarik tangan Chaby keluar kamar. Mereka hanya pakai kets yang cocok dengan dress biar nanti jalannya lebih gampang.


Dari bawah, pandangan Decklan tak lepas dari Chaby yang malam ini terlihat begitu cantik di matanya. Diam-diam cowok itu tersenyum.


Tampaknya ia harus pamer ke orang-orang kalau pemilik wajah manis ini dekat dengannya, biar mereka iri. Bukan hanya cewek yang bisa memamerkan cowoknya yang tampan kan?


Andra disebelahnya menyenggol bahunya dan tersenyum menggoda. Ia sudah tahu sejak tadi cowok itu tidak sabar melihat gadis yang disukainya itu.


Pandangan Andra pindah ke Bara yang tak kalah tampan penampilannya malam ini.


"Jadi gimana pengalaman lo jadi supir tuh dua cewek rumpi sampe temenin ke mall?"


Bara tak menjawab, hanya tersenyum tipis. Jujur ia menikmati kebersamaan mereka tadi. Banyak kejadian lucu yang mereka lewati. Ia banyak tersenyum bersama mereka.


Menurutnya Chaby dan Pika bukanlah tipe cewek-cewek yang suka caper sana-sini dan banyak maunya. Mereka menikmati hidup mereka apa adanya. Mungkin karena itu Bara merasa nyaman kalau bersama mereka.

__ADS_1


__ADS_2