GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 94


__ADS_3

"Pika," gumam Bara dengan nafas tercekat. Ia mengulurkan tangannya menyentuh pipi Pika. Gadis yang meringkuk di sudut itu menatapnya sebentar lalu berhambur ke dalam pelukannya dan terisak. Bara mengepal tangannya kuat, harusnya ia habisi saja sih brengsek itu tadi.


"Jangan takut, mulai sekarang aku bakal selalu jagain kamu." Pika tidak melepaskan pelukannya dari Bara. Ia masih terisak namun perkataan cowok itu seolah membuat dirinya merasa dilindungi.


"Aku anterin kamu pulang yah." ucap Bara lagi setelah Pika sudah tidak menangis. Gadis itu mengangguk. Bara lalu mengangkat Pika yang masih duduk di lantai dan menggenggam tangannya keluar dari tempat itu. Ia tidak pamitan ke temannya karena terlalu khawatir dengan kondisi Pika.


Sesampainya di rumah Pika, gadis itu berhamburan memeluk mamanya yang sedang duduk di ruang baca bersama Decklan dan Gatan. Jelas mereka heran. Bagaimana tidak, Pika yang jarang sekali menangis itu pulang-pulang matanya sudah sangat bengkak. Tante Lily mengusap-usap punggung Pika lalu melirik Bara yang berdiri didepannya sambil memegang tas Pika.


"Pika kenapa Bara?" tanya wanita paruh baya itu, tangannya terus mengelus-elus punggung Pika. Bara mendesah pelan kemudian mulai bercerita. Mendengar itu, Decklan langsung berdiri seketika itu juga dengan emosi saat Bara selesai memberi penjelasan. Sama seperti Bara, ia juga ingin menghabisi lelaki brengsek itu sekarang juga.


"Gue bunuh tuh cowok sekarang juga." kata Decklan penuh emosi. Tangannya terkepal kuat. Biar bagaimanapun Pika adalah adiknya dan ini sudah yang kedua kalinya mantan pacar gadis itu mencoba memperkosanya.


"Decklan, tahan emosi kamu!" tegur mamanya.


"Sekarang duduk." kata mamanya lagi. Kalau tidak tegas, ia tahu anak sulungnya itu akan melakukan kehendaknya sendiri. Mau tak mau Decklan menuruti perintah sang mama.


"Bara, makasih ya udah nolongin Pika." ucap tante Lily menatap Bara.

__ADS_1


"Harusnya aku yang minta maaf tante karena nggak becus jagain Pika." cowok itu merasa bersalah. Tante Lily menggeleng.


"Udah jangan dipikirin lagi. Kamu udah datang tepat waktu dan nggak terjadi apapun sama Pika kan, jadi kamu nggak salah apa-apa." balas tante Lily dengan sikap dewasanya. Pandangan Bara berpindah ke Pika yang melepaskan pelukan dari sang mama.


"Aku udah nggak apa-apa kok kak Bara." ucap Pika mendongak ke Bara sambil mengusap sisa-sisa air matanya dan tersenyum. Ia sungguh tidak mau cowok itu merasa bersalah, karena memang bukan salah kak Bara.


"Ya udah, kita bicara yang lain aja sekarang. Jadi gimana pertunjukkan tadi?" seru tante Lily mengalihkan pembicaraan.


                                 ***


Keesokan harinya, Pika menceritakan semua kejadian yang dia alami ke Chaby. Hari ini hari sabtu dan seperti biasa, mereka akan berkumpul bersama Decklan, Bara dan Andra. Pika dari pagi-pagi sudah ada di apartemen Chaby jadi mereka berdua berangkat bersama ke Cafe tempat biasanya mereka ngumpul. Katanya kak Decklan bakalan sedikit terlambat, dia di panggil papa mereka ke rumah sakit. Tapi Bara dan Andra sudah di jalan.


"Gue aja heran kenapa dulu bisa mau-maunya pacaran sama tuh cowok brengsek." cewek itu malah merasa jijik sekarang.


"Udah, nggak usah bahas cowok nggak guna itu lagi." Kata Pika kemudian menatap Chaby. Ia dengar hari ini Chaby mengajak teman sekelas mereka. Dia dengar dari kak Bara saat telponan sama cowok itu tadi.


"Lo beneran ngajakin teman sekelas kita buat dikenalin ke kak Andra? siapa?" tanyanya penasaran. Chaby mengangguk.

__ADS_1


"Aku ngajak Dina. Paling entar lagi dia nyampe." Pika langsung terbatuk ketika mendengar Chaby menyebut nama Dina. Bukannya mau menghina atau gimana-gimana, tapi Dina itu beneran nggak banget kalo dibandingin sama tipenya kak Andra. Dan giginya... Dua gigi Dina paling depan ompong, kalau tertawa terlihat jelek bangetlah. Udah gitu makeupnya, Pika nggak bisa bayangin kalau Andra dan kak Bara melihat sosok Dina. Pika pernah sekali bertanya ke Dina kenapa nggak pake gigi palsu saja, tapi kata Dina dia lebih percaya diri kalau ompong karena orang-orang selalu menertawainya. Ia senang kalau orang tertawa ketika melihatnya, itu artinya dia lucu. Pika bahkan tidak habis-habis herannya. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Dina, tapi ya sudahlah asal dia bahagia aja.


"Tapi gue nggak yakin kak Andra bakalan,"


"Gue bakalan apa?" Andra dan Bara tiba-tiba muncul dari belakang. Pika tidak jadi melanjutkan ucapannya. Ia malah tertawa memikirkan wajah kak Andra nanti saat melihat Dina. Bara menarik kursi dan duduk disebelah Pika. Ia lega melihat gadis itu sudah terlihat biasa saja, tidak ada tekanan. Mereka berdua saling menebar senyum hingga Andra yang melihatnya merasa geli sendiri. Untung Decklan belum ada, kalau tidak ia hanya bisa gigit-gigit jari menatap mereka.


"Chaby, mana temen lo? Katanya lo mau kenalin sama gue?" tanya Andra melirik Chaby.


"Sabar kak Andra, Dina masih di jalan katanya." sahut Chaby. Andra manggut-manggut. Penasaran juga dia seperti apa teman Chaby itu.


"Kalian udah pesen makan?" tanya Bara melirik ke Pika. Gadis itu  menggeleng.


"Baru pesen minum doang kak, nungguin lengkap aja baru pesen nanti." jawabnya. Bara mengangguk.


"Tuh Dina!"


mereka semua menoleh ke arah yang sama yang di tunjuk Chaby. Baru mencapai pintu masuk saja Pika sudah menahan-nahan senyum memikirkan bagaimana ekspresi kak Andra nanti. Sebenarnya Dina itu baik dan ramah, juga cukup cantik kalau giginya tidak ompong dan dandanannya di rubah.

__ADS_1


"Hai By, Pika." sapa Dina pada Pika dan Chaby. Chaby menggeser kursi disebelahnya supaya Dina bisa duduk. Awalnya Dina biasa-biasa saja, tapi ketika matanya beralih ke dua cowok ganteng yang duduk bersama Chaby dan Pika dan kini tengah menatapnya dengan ekspresi tak terbaca, Dina tiba-tiba merasa canggung dan malu. Tadi pagi Chaby mengajaknya makan bareng di cafe dengan Pika dan teman-temannya, tapi Dina tidak menyangka kalau teman-teman dua cewek itu bakal sekeren ini. Dina sesekali menunduk malu saat cowok dihadapannya itu terus menatapnya. Ada sesuatu di wajahnya? Tanpa sadar ia memegangi pipinya yang merona merah.


Di depan sana, Andra terus menatap cewek yang menurutnya alisnya itu melebihi tebalnya alis Sinchan dan pipinya merah kayak ondel-ondel. Andra hampir tersedak ketika melihat gadis itu tersenyum ke Chaby. Dua gigi depannya tidak ada, alias ompong yang membuat wajah cewek itu jadi sangat lucu kalau tertawa. Andra, Bara dan Pika mati-matian menahan tawa mereka. Mereka terus melihat cewek itu dan Chaby berbicara serius. Sebenarnya Pika merasa berdosa menertawai kekurangan temannya sendiri, tapi mau bagaimana lagi, ia betul-betul tidak tahan karena lucu.


__ADS_2