
Sharon memandangi hujan yang turun sejak satu jam yang lalu melalui kaca jendela ruang tamu. Ia sudah berada di rumahnya. Ada pria itu juga, kakaknya Chaby. Wajahnya bersemu merah ketika mengingat dirinya yang tiba-tiba memeluk Danzel didalam mobil lelaki itu tadi. Astaga, apa yang dia lakukan? Dasar bodoh. Ia sangat malu membayangkan hal tadi. Apalagi mengingat Danzel membalas pelukannya. Ia tahu pria itu pasti hanya ingin membuatnya merasa aman, tapi itu malah berhasil membuat jantungnya berdetak kencang. Sharon menggeleng kuat, menghilangkan pikiran konyol itu.
Wanita itu menghela napas. Kemudian melihat ke jam dinding. Harus berapa lama lagi? Berapa lama lagi hujan akan berhenti? Memang kilat dan guntur tidak terdengar lagi, tapi karena hujan tidak berhenti-berhenti juga, kakaknya Chaby itu tidak pulang-pulang. Kan rasanya canggung berdua dengan pria itu. Sudah kaku, jarang bicara, Sharon juga tidak tahu mau membahas apa dengan pria itu.
Pandangannya sesekali menengok ke dapur. Ia terlalu lemah akibat rasa takutnya tadi. Bahkan Danzel harus menuntunnya masuk ke dalam rumah. Pria itu langsung menanyakan dapur ketika sampai di ruang tamu. Sharon tidak mengerti kenapa Danzel menanyakan letak dapur rumahnya. Namun beberapa saat kemudian ia mengerti apa yang dilakukan lelaki itu didapurnya. Ia melihat Danzel kembali ke ruang tamu dengan membawa secangkir teh panas untuk untuknya. Pria itu duduk di samping Sharon dan mengamati gadis itu menyesap tehnya dengan pelan. Danzel memperhatikan tangan Sharon sudah tidak terlalu gemetar seperti dalam mobil tadi. Ia ingat jelas raut wajah Sharon yang begitu ketakutan karena bunyi petir.
Terus terang Danzel merasa penasaran. Apa yang membuat Sharon takut petir? Ia ingin bertanya namun rasa gengsinya kembali memenuhi dirinya.
"Terimakasih." gumam Sharon pelan. Danzel terus menatap gadis itu sambil bersedekap dada.
"Tehnya enak." puji Sharon lalu tersenyum tipis. Ia tidak tahu mau bilang apa lagi.
"Kau tinggal sendirian?" pria itu angkat bicara.
"Sebelumnya aku tinggal bersama Chaby dan Arion." sahutnya. Ia merasa sedih dalam hati. Menyayangkan dirinya yang tinggal sendirian lagi sekarang. Dulu waktu orangtunya meninggal, ia tinggal berdua dengan adik kandungnya Aya. Ketika Aya meninggal karena sakit gadis itu tinggal sendirian di rumah itu. Namun beberapa tahu ia secara tidak sengaja menemukan Chaby. Sharon lalu tinggal dengan gadis itu ada anaknya. Sekarang, setelah Chaby menemukan keluarga kandungnya, dirinya kembali jadi sebatang kara lagi.
__ADS_1
"Orangtuamu kemana?" tanya Danzel lagi.
"Sudah meninggal." jawab Sharon langsung. Ia sudah biasa di tanya tentang keberadaan orangtuanya jadi sudah merasa biasa. Namun jawabannya itu jelas membuat Danzel merasa tidak enak.
"Maaf," gumam Danzel tidak enak. Sharon menggeleng lalu tersenyum tipis, seolah mengatakan tidak apa-apa. Sesaat kemudian keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Ceritakan tentang kehidupanmu." perkataan itu membuat Sharon menoleh pada Danzel. Mungkin pria tadi merasa bosan karena dari tadi mereka hanya diam.
"Aku?"
Danzel menaikan alisnya. Jelas sekali ekspresinya mengatakan memangnya ada orang lain di sini. Sharon jadi ingin tertawa tapi mati-matian ditahannya. Astaga, baru kali ini ia berhadapan dengan es kutub kayak Danzel ini. Sifatnya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan adiknya.
"Dirimu, terserah apapun itu."
"Namaku Sharon Isabel Putri. Umur dua puluh sembilan tahun, lahir dua puluh dua Maret, hobi merawat bunga, berat badan empat puluh tujuh kg, tinggi badan.."
__ADS_1
"Stop! Memangnya kau kira kau sedang wawancara pekerjaan?"
Sharon terdiam dan tersenyum kikuk, kemudian memandang Danzel lagi. Pria itu menatapnya, membuat keduanya saling pandang. Danzel baru menyadari Sharon memiliki bola mata kecoklatan yang indah.
"Aku bilang ceritakan tentang kehidupanmu, bukan biodatamu. Kau mengerti?" kata Danzel lagi. Sharon menghela napas.
"Apa gunanya kau tahu tentang kehidupanku? Aku rasa kita tidak terlalu akrab sampai harus bercerita tentang kehidupan pribadi. Lagipula kehidupanku biasa saja. Tak ada yang menarik." balas wanita itu panjang lebar.
Danzel menatap Sharon dengan pandangan aneh yang sulit diartikan.
"Kau salah. Aku perlu tahu tentang kehidupanmu, aku ingin tahu wanita seperti apa yang menyelamatkan adikku. Setelah itu, aku bisa memikirkan bagaimana membalas budimu. Bahkan kalau kau ingin menikah denganku tidak apa-apa. Aku bisa menggantikan Chaby untuk tinggal denganmu. Hitung-hitung agar kau tidak sendiri." kata Danzel datar namun sukses membuat Sharon me melongo tidak percaya.
"HAH??" Sharon tiba-tiba kaget. Apa? Menikah dengan sih kaku ini? Tinggal dengannya? Ya ampun, kegilaan apa ini?
"J..jangan main-main dengan ucapanmu. Kita juga tidak saling mengenal dengan baik, bagaimana mungkin kau bisa menikahi seseorang yang baru kau kenal?" sembur Sharon. Danzel malah terkekeh. Ia tidak menyangka ekspresi wanita itu akan seperti ini. Padahal ia hanya asal bilang. Meski ia heran dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba bilang seperti itu tanpa berpikir lebih dulu.
__ADS_1
Laki-laki itu lalu berdiri.
"Jangan terlalu dipikirkan, aku hanya bercanda. Sebaiknya aku pergi saja karena hujannya sudah berhenti." ucapnya lalu beranjak keluar dari rumah minimalis itu setelah meraih kunci mobilnya dari atas meja. Meninggalkan Sharon yang masih syok di tempatnya. Sinting. Ia mendengus kesal. Bisa-bisanya pernikahan dijadikan bercanda oleh pria itu. Kakaknya Chaby itu sungguh menyebalkan.