GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 7


__ADS_3

Chaby sangat panik karena putra tercintanya, Arion tiba-tiba mengeluh sakit perut sesudah itu menangis dengan kuat. Sharon sedang tidak ada di rumah, hanya ada dua orang pekerja yang sibuk merangkai bunga pesanan orang.


Dua orang pekerja itu menghentikan pekerjaan mereka sebentar, mereka ikut panik melihat keadaan Arion.


"Bawa ke rumah sakit aja Si," kata salah satu pekerja bernama Tuti.


"Iya, takutnya Arion kenapa-napa." tambah gadis satunya lagi. Chaby biasa memanggilnya Lusi. Padahal Arion jarang sakit, makanya Chaby panik.


Chaby lalu menggendong Arion yang terus-terusan merengek padanya dan berlari cepat ke depan rumah. Biasanya taksi selalu lewat tempat itu. Tuti dan Lusi membantunya menghentikan taksi. Ketika sebuah taksi berhenti didepan mereka Chaby cepat-cepat naik. Ia masih panik namun berusaha tetap tenang. Arion adalah putra satu-satunya, ia tidak mau Arion kenapa-napa.


"Tahan ya sayang, bentar lagi kita sampai rumah sakit. Om dokter bakal sembuhin kamu," ucapnya menghibur sang putra tercinta. Tangannya tak berhenti-berhenti mengelus-elus punggung Arion yang ada dalam pelukannya.


"Hiks.., hiks... Pelut Alion s..sakit bangeet mama.." lapor Arion sambil terus menangis.


"Iya, mama tahu sayang.. pak, cepetan dikit." ujar Chaby. Sih sopir mobil itu mengangguk.


Chaby turun dari taksi dan secepat mungkin masuk ke rumah sakit setelah tiba di gedung besar itu. Ia memanggil-manggil dokter dengan panik tapi yang datang adalah seorang suster. Suster itu membantunya menurunkan Arion di salah satu ranjang dalam ruang IGD kemudian berbalik memanggil dokter.


Chaby terus setia menemani anaknya. Meski panik tapi masih bisa tenang. Ia ingin mengutuk para dokter yang datangnya kelamaan menurutnya. Mereka tidak tahu apa anaknya sangat kesakitan begini.


Ketika Chaby membalikan badannya, matanya bertemu dengan sosok pria tinggi memakai jas putih. Wajahnya sangat tampan namun ekspresinya dingin. Tapi ketika pandangan mereka bertemu, pria itu tampak sangat kaget. Pandangannya juga  berulang kali berpindah-pindah melihat Arion dan dirinya bergantian. Setelah itu malah memeluknya dengan kuat. Tentu saja Chaby kaget, apalagi mendengar pria itu memanggilnya dengan sebutan sayang.


Sinting!


Chaby berusaha keras melepaskan pelukan kuat dari pria berjas dokter itu. Apalagi mendengar Arion yang makin merengek memanggil-manggil namanya.


"Le..p..asin!" Chaby terus berusaha melepaskan diri namun lelaki yang memeluknya ini sangat kuat. Ia tidak bisa melepaskan diri. Lalu tanpa pikir panjang, Chaby menggigit bahu pria itu kuat-kuat sampai pelukan itu terlepas.

__ADS_1


"Periksa anak aku cepet! Anda dokter kan?" seru Chaby lantang dengan nada suara terdengar marah. Sungguh ia akan membunuh lelaki didepannya ini kalau sampai Arion kenapa-napa.


Decklan sendiri yang berdiri didepannya malah tercengang karena Chaby seperti tidak mengenalnya, ia tidak mampu berbuat apa-apa, hanya berdiri diam sambil terus menatap Chaby. Andra dibelakangnya, yang ikut kaget melihat Chaby cepat-cepat maju menggantikan Decklan memeriksa anak kecil yang merintih kesakitan itu.


Chaby melemparkan tatapan mematikannya ke Decklan tapi hanya sekilas, karena pandangannya langsung berpindah ke Arion yang kini ditangani dokter yang lain. Anaknya lebih penting saat ini.


"Gimana dok?" tanyanya pada Andra setelah pria itu selesai memeriksa. Chaby melirik Arion langsung tertidur setelah di suntik.


Andra balik menatap gadis itu. Sesekali ia melirik Decklan yang berdiri seperti orang bodoh dibelakang gadis itu. Ia kembali menatap Chaby dengan tampang kebingungan. Jelas gadis didepan mereka ini adalah Chaby, tapi kenapa tidak mengenal mereka? Memangnya Chaby punya kembaran? Setahu Andra tidak.


Chaby sendiri jadi keheranan dengan dokter-dokter itu.


"Dok, aku nanya keadaan anak aku gimana. Kok dicuekin sih, aku kan berhak tahu." katanya kesal.


Tuh, gadis didepan mereka ini benar-benar adalah Chaby. Suaranya dan cara bicaranya ketika lagi kesal aja sama. Sebagai dokter Andra langsung berpikir kalau Chaby tidak kenal mereka lagi karena hilang ingatan. Hanya itu satu-satunya yang masuk akal. Meski hilang ingatan jarang di alami banyak orang, namun ada beberapa yang mengalaminya. Mungkin Chaby salah satunya. Tidak mungkin juga kan ia pura-pura tidak kenal mereka.


Anak?


Andra lalu menatap Decklan lagi. Dan melirik bocah yang kini ketiduran itu. Dilihat dari umur bocah itu, harusnya pas kalau dia adalah anaknya Decklan, hidung anak itu bahkan persis seperti hidung Decklan, garis rahangnya juga. Andra tersenyum senang. Ia pasti tidak akan salah.


"Chaby, anak kamu baik-baik saja. Dia hanya tertidur. Sekarang, mari bicara tentang kamu," 


Chaby tertegun, gaya dokter ini bicara padanya seolah mereka sudah sangat akrab. Dan...


"Chaby? Nama aku Si..."


Perkataan Chaby terhenti. Ia tiba-tiba ingat Aska, pria tampan yang datang tempo hari di rumahnya kak Sharon, yang bilang mengenalnya. Aska menyebut nama yang sama dengan dokter didepannya ini.

__ADS_1


"Dokter kenal aku?" Andra menatap Decklan sekilas lalu mengangguk pada Chaby.


"Ayo bicara di tempat yang lebih privat." ujar Andra. Ia tahu ada banyak pasang mata sedang mencuri-curi pandang ke mereka di sini. Akan lebih baik bicara di ruangan Decklan saja. Lalu tanpa permisi Andra menarik tangan Chaby, berniat membawanya pergi dari situ. Ia tahu Decklan tetap akan mengikuti mereka, pria itu terus diam sejak tadi pasti karena masih syok mengetahui istrinya yang tidak mengenalinya sama sekali. Padahal sudah enam tahun pria itu menunggu.


"Tapi anak aku," Chaby menatap Arion yang tertidur pulas.


"Pindahkan putranya dokter Decklan ke kamar khusus." perintah Andra pada perawat yang membantunya tadi. Perawat itu tampak terkejut, namun langsung mengangguk.


Chaby makin tidak mengerti lagi. Dokter Decklan? Siapa dokter Decklan? Suaminya? Papanya Arion? Jelas sekali pria didepannya ini bilang Arion itu putranya sih dokter bernama Decklan itu. Berarti suaminya dong.


"Kamu dokter Decklan?" tanya Ara dengan mata membulat lebar menatap Andra. Jangan-jangan lelaki itu suaminya lagi. Tapi ia malah melihat Andra tertawa lebar. Membuatnya makin bingung. Ah, kenapa dia harus hilang ingatan sih. Kan pikirannya jadi kacau sekarang.


Berbeda dengan Chaby yang kebingungan, Decklan malah tampak kesal karena istrinya itu salah mengenali orang. Sama dengan Andra, ia yakin sekali Chaby hilang ingatan sekarang ini. Itu adalah alasan yang jelas kenapa gadis itu tidak bisa mengingatnya, dan kenapa Chaby tidak mencari mereka. Bagaimana mau cari coba kalau ingat saja tidak.


Dan bocah tadi, apa itu anaknya? Ya Tuhan, kalau memang benar, Chaby pasti kesulitan harus melahirkan sendiri tanpa ada dirinya menemani disisi gadis itu. Ia akan membahas anak itu nanti. Sekarang ia harus menangani Chaby dulu.


Mereka masuk ke ruangan Decklan dan pria itu langsung mengunci pintu. Chaby yang melihat pintu dikunci jadi panik.


"Kenapa di kunci? Aku bisa takut beneran nih," ungkap Chaby. Andra menahan tawanya. Sikap Chaby tidak pernah berubah sampai sekarang.


Decklan mendekati gadis itu dan langsung menangkup wajah Chaby dan mengamati setiap semua anggota tubuhnya kalau ada yang terluka atau tidak. Tentu saja Chaby keheranan sekaligus takut.


Decklan tidak ingin bertanya tentang Chaby yang hilang ingatan atau tidak karena ia tahu istrinya pasti hilang ingatan. Ia hanya perlu tahu kehidupan Chaby selama gadis itu tidak bersamanya. Apa gadis itu baik-baik saja atau tidak.


Chaby merasa merinding. Beberapa tahun ini tidak ada satu pun pria yang berani mendekatinya sedekat ini. Pandangannya berpindah ke Andra seolah meminta penjelasan.


"Dia Decklan, suami kamu." jawab Andra langsung seolah mengerti maksud tatapan Chaby.

__ADS_1


"HAH?!"


__ADS_2