GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 85


__ADS_3

Mbak Sarni menunduk-nunduk takut saat ditatap garang oleh majikannya itu. Ia pernah sekali dimarahi habis-habisan oleh Andra dan takut hal itu terjadi lagi. Sudah lama Andra tidak pernah marah-marah, namun hari ini kedatangan perempuan yang tidak dikenalnya itu dan seenaknya masuk begitu saja kembali memicu emosi Andra.


"S..saya udah nahan diluar den, tapi dianya yang bersikeras mau masuk." ucap mbak Sarni membela diri. Memang benar kan gadis itu yang memaksa masuk tadi.


Pandangan Andra beralih ke Prisa yang kini berdiri sambil berkacak pinggang didepannya. Cowok itu mencibir. Decklan dan Chaby setia menjadi penonton.


Andra menatap Prisa dengan alis naik turun, ia sungguh tak berminat pada gadis itu. Ia sudah ilfeel. Padahal mereka bahkan belum resmi pacaran, namun Prisa sudah menganggapnya sebagai milik gadis itu, mengaturnya, melarangnya dekat dengan perempuan-perempuan lain, menyuruhnya melapor kegiatan yang dia lakukan tiap hari bahkan sampai keuangannya mau dia atur, sinting. Ada yah perempuan kayak begini. Bagaimana jadinya kehidupan dia kalau menikah dengan cewek macam itu.


"Ngapain lo ke sini?" tanyanya ketus.


"Kenapa lo nggak hubungin gue dan nolak telpon gue terus? lo selingkuh?"


Andra tertawa keras. Selingkuh? Yang benar saja.


"Gue nggak punya pacar, kenapa lo bilang gue selingkuh?"


"Terus gue apa? Lo nggak mau ngaku gue ini pacar lo?"


Andra mendesis kesal. Ia sangat muak dengan cewek sinting ini. Sejak kapan mereka pacaran? Kapan dia nembaknya?


"Gue nggak pernah ingat pernah minta lo jadi pacar gue. Kalo lo pikir kita jalan sekali dua kali itu pacaran, lo bener-bener nggak tahu malu."


Prisa mengepal kedua tangannya kuat-kuat, menatap Andra tidak terima.


"Jelasin alasannya kenapa lo deketin gue dan sekarang tiba-tiba nyuekin gue?"


"Karena kamu itu kasar makanya mmpphh.."


Decklan cepat-cepat membungkam mulut Chaby dengan tangannya ketika gadis itu mau bicara.


"Udah aku bilangkan nggak usah campurin masalah mereka." bisiknya pelan ditelinga Chaby. Chaby memukul-mukul tangan cowok itu seolah meminta Decklan untuk menurunkan tangan kekar miliknya itu dari mulutnya, gadis itu merasa kesulitan bernafas.

__ADS_1


"Janji dulu nggak ngomong lagi sama mereka." gumam Decklan pelan tepat di telinga Chaby. Mau tak mau gadis itu mengangguk. Ia langsung mengambil nafas banyak-banyak setelah Decklan menurunkan tangannya kemudian mencubit bagian dalam lengan cowok itu karena kesal. Decklan tertawa pelan mengusap-usap lengannya yang malah terasa gatal bukan sakit akibat cubitan kecil itu.


Disana ada Prisa yang melemparkan tatapan tidak sukanya ke Chaby. Ingin rasanya ia robek-robek tuh mulut.


"Lo siapa? Berani ngata-ngatain gue? Nggak takut gue robek tuh mulut sialan lo? Cewek murahan." tukas Prisa dengan mulut tajamnya. Ia melihat cowok dibelakang gadis itu berdiri. Mereka berdua tadi duduk dengan posisi cewek itu bersandar pada sih cowok. Prisa menyimpulkan kalau kedua orang itu adalah sepasang kekasih. Ia tidak kuliah di kampus Decklan jadi tidak mengenal cowok itu. Tapi, ia suka wajah tampannya yang terkesan dingin dan mendominasi itu.


Decklan yang awalnya tidak mau mencampuri urusan Andra dan perempuan itu, jadi terpancing ketika mendengar perempuan itu berkata kasar pada Chaby bahkan mengatakan pacarnya itu cewek murahan. Murahan? Huh, Decklan mendengus kasar. Ia berdiri dari posisi duduknya dan melemparkan tatapan tajamnya pada gadis didepan sana. Aura gelap dan kejamnya keluar. Ia sudah tersulut emosi.


"Coba aja kalo lo berani." tekan Decklan dengan suara rendah yang amat menusuk.


"Kak Decklan." gumam Chaby dari bawah cowok itu. Tangannya memegang ujung baju Decklan. Kalau cowok itu sudah berubah serius dan menyeramkan begitu, ia juga ngeri.


Decklan meraih dan menggenggam tangan Chaby yang memegangi ujung bajunya dengan erat tanpa melihat gadisnya itu. Pandangannya terus melihat cewek didepan sana namun ia tetap ingin memberikan kenyamanan pada Chaby dengan menggenggam tangan lembut gadis  itu seolah memberinya isyarat agar tidak khawatir.


Prisa tertawa miring. Cinta banget tuh cowok sama tuh cewek kayaknya. Ia mengakuinya tapi juga merasa kesal.


"Prisa, mending lo pergi dari sini sekarang." usir Andra dingin. Kehadiran cewek itu hanya merusak suasana.


"Oke, gue pergi sekarang. Tapi gue bakal bikin perhitungan sama lo nanti." kata Prisa ketus dan berbalik pergi. Mbak Santi yang masih berada disitu bernafas lega. Tapi ia masih was-was karena takut dimarahi majikannya itu.


Chaby buru-buru menarik Decklan sampai cowok itu kembali duduk dan mengusap-usap dada pacarnya untuk meredakan emosinya. Ia melihat raut wajah Decklan masih sangat tegang.


"Kak Decklan udah marahnya dong. Kan kak Decklan sendiri yang ngomong sama aku jangan campurin masalahnya kak Andra sama cewek itu." gumam Chaby di sela-sela kegiatannya mengusap-usap dada Decklan.


Decklan menatap Chaby lekat


"Dia bilang kamu murahan, aku nggak terima." tuturnya masih kesal.


Chaby tertawa. Ia baru sadar betapa beruntungnya dia mendapat pacar seperti kak Decklan ini.


"Kak Decklan."

__ADS_1


Decklan masih setia menatap gadis itu. Chaby lalu membisikan sesuatu ditelinganya yang membuat Decklan tidak mampu menahan senyumnya. Entah apa yang dibisikkan gadis itu namun Decklan langsung lupa pada kemarahannya dan berubah senang. Hanya mereka berdua yang tahu apa yang Chaby bisikan itu.


"Kamu mancing aku?" ujar Decklan sambil mengulum senyum. Ia tidak tahan mau mencium Chaby disini sekarang juga namun ia harus menahannya karena disana masih ada Andra dan pembantu rumah cowok itu. Chaby melemparkan senyum kemenangan pada cowok itu.


"Den Andra."


panggilan itu membuat Chaby dan Decklan melirik ke sang pemilik suara.


Mbak Sarni terus menunduk takut-takut didepan Andra sedang majikannya itu terus menatapnya tajam.


"Kamu itu kalo ker.."


"Kak Andra nggak usah marah-marah terus deh. Kasian mbak Sarninya. Kan aku udah terus menerus ingetin kalau marah-marah itu nggak baik, liat tadi kak Decklan hampir kejang-kejang kayak orang epilepsi karena terlalu emosi."


Andra yang tadinya mau marah berubah jadi menahan tawanya. Sementara Decklan melotot lebar pada Chaby.


"Kok balik serang aku sih? Aku nggak sampe gitu yah." seru Decklan mulai mengeluarkan sisi kekanakkannya. Ia tidak terima dikatain begitu sama Chaby.


Chaby malah tertawa. Ia memang sengaja bilang begitu karena mungkin saja perkataan asalnya itu bisa membuat suasana lebih cair. Lihat saja kak Decklan sekarang yang kesal  juga kak Andra yang malah tersenyum lebar dengan wajah meledek menatap Decklan.


"Tuh, kalo kak Andra senyum gitu kan adem liatnya." pandangan Chaby pindah ke mbak Sarni.


"Mbak Sarni balik kedalam aja." katanya.


Mbak Sarni melirik Andra lagi. Ia takut pergi kalau tidak ada ijin dari majikannya. Andra menghela nafas.


"Pergi aja mbak, lain kali nggak usah terima tamu yang kayak gitu." ucapnya melembut membuat mbak Sarni mengangguk senang merasa lega. Ia lalu berbalik pergi setelah berterimakasih ke Chaby yang sudah membantunya.


Andra balik menatap Chaby


"Sekarang lo cari cara ngebujuk pacar lo tuh." cowok itu menunjuk Decklan yang terlihat dongkol dengan dagunya. Chaby hanya tertawa dan memulai aksinya dengan melakukan segala cara demi membujuk sang pacar. 

__ADS_1


__ADS_2