GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 68


__ADS_3

Tenda sudah jadi. Letak tenda Chaby dan Pika berada di dekat para anggota club perempuan. Keduanya juga sudah berkenalan dengan beberapa dari mereka dan ternyata mereka semua ramah-ramah. Memang sih ada beberapa dari mereka yang tidak begitu ramah-ramah amat dan rada-rada angkuh tapi tidak mengapa. Kan tidak semua orang juga yang akan menyukai mereka.


"Jadi Chaby sama Decklan pacarannya udah berapa lama?" tanya Fily. Mereka sekarang lagi gabung sama kumpulan cewek-cewek. Ada Elsa juga disitu. Elsa dengan teman disampingnya itu sejak tadi melihat Chaby dan Pika dengan tatapan seperti tidak suka. Pika bisa merasakan hawa-hawa cewek yang merasa tersaingi macem begitu. Ok. Dia akan manas-manasin Elsa.


"Udah mau jalan dua tahun kak mereka." jawab Pika mewakili Chaby.


Fily mengangguk-angguk. Ternyata udah lama.


"Yang ngejar duluan siapa? Pasti Chaby kan?" giliran Ningsi yang bertanya. Soalnya menurutnya, cowok kayak Decklan itu nggak mungkin ngejar cewek duluan. Sikap Decklan aja dingin dan kaku begitu. Awal-awal mereka kuliah pun Decklan sangat tidak bersahabat pada para makhluk yang namanya perempuan. Hobinya kalau di kelas lebih banyak membaca.


"Nggak." kali ini Pika dan Chaby sama-sama menjawab. Cewek-cewek yang lain terus menatap mereka. Ningsi yang bertanya pun agak keheranan, antara percaya nggak percaya. Masa iya Decklan yang ngejar-ngejar tuh cewek duluan. Ia masih kurang percaya.


"Jadi kak Decklan itu udah suka sama Chaby dari awal-awal kenal dia. Ngejarnya pas udah bucin-bucinnya, liat nih. Kak Decklan sampe bela-belain pesan cincin dari Paris buat ngikat Chaby jadi tunangannya. Biar nih anak nggak lari." jelas Pika sambil mengangkat tangan kiri Chaby yang tersemat cincin berlian indah di jari manisnya. Semuanya menatap kagum sekaligus iri. Ternyata Decklan so sweet banget, pacarannya sangat serius.


"Gue juga kayaknya pernah liat Decklan pake cincin yang sama kayak begitu." tambah Fily masih terkagum-kagum. Ia ingat pernah sekali ketika Decklan duduk di kelas, di jarinya ada cincin. Awalnya dia sempat mau nanya sih, tapi malu. Takut nanti teman-temannya pikir ia sok dekat lagi sama Decklan, kayak sih Elsa itu.


Pika tersenyum puas. Enak banget rasanya manas-manasin orang. Lihat saja wajah cemburunya Elsa sekarang. Senang banget pokoknya Pika melihatnya. Makanya, kalau tahu cowok yang di suka udah punya orang, jauhin aja. Jangan rese sok deket-deket padahal cowoknya jelas-jelas merasa risih.


Pika tahu kakaknya merasa risih pada Elsa yang sok akrab itu. Jelas banget di wajahnya kak Decklan. Apalagi tadi sore ia sengaja melihat Elsa yang sok mau bantuin Decklan bikin tenda. Untung ada kak Bara yang ngomong kalau mereka tidak butuh bantuan cewek.


Jelas dong. Niatnya Elsa apa coba, ia kan sudah lihat yang kerja empat cowok sispek dan kuat-kuat, kak Decklan sama sahabat-sahabatnya. Tentu saja mereka nggak butuh bantuan yang lain bukan. Eh sih cewek belagu itu sok-sok mau bantuin, bikin Pika emosi aja.


Sih Chaby lagi. Pacarnya dideketin cewek lain, eh dianya malah nggak sadar-sadar dan hanya asyik foto-foto sendiri dengan hp kak Decklan. Ckckck, kayaknya Pika harus turun tangan ajarin Chaby supaya bisa lebih peka dan tegas sama cewek-cewek yang mau deketin kakaknya.

__ADS_1


"Kamu tuh beruntung banget bisa dipacarin sama kak Decklan Chaby." Ningsi bersuara lagi. Chaby mengangguk setuju.


"Bener. Kak Decklan baik banget sama aku. Tapi suka jahilin aku, suka gigit-gigit telinga aku kalo lagi berduaan aja, kan geli rasanya."


Fily dan Ningsi hampir tersedak. Mereka sungguh harus bertepuk tangan dengan kejujuran Chaby. Entah terlalu polos atau sengaja mau manas-manasin Elsa. Yang pasti mereka melihat Elsa langsung berdiri dan pergi dari situ dengan wajah merah padam menahan emosi.


Pika yang duduk berhadapan dengan Chaby merasa puas. Di saat-saat tertentu, Chaby memang sangat bisa diandalkan.


Ketik gadis itu menatap Chaby, ia mengernyit bingung, sepertinya perkataan tadi memang sengaja dikatakan sama Chaby untuk membuat Elsa cemburu. Lihat saja wajah Chaby yang kayak senang banget melihat Elsa marah begitu.


Oh.. udah peka ternyata tuh cewek. Kali ini Chaby menatap Pika dengan dagu di angkat tinggi-tinggi menyombongkan diri. Pika mengacungkan jempolnya.


"Decklan sering nyium-nyium kamu di bibir juga nggak?" entah kenapa Fily malah bertanya begitu. Ia ingin tahu sikap sang cowok populer yang terkenal dingin itu pada pacarnya. Menurutnya sih ciuman bibir juga pasti mereka sering. Kalau hubungan yang lebih dari itu? Ah, Fily tidak berani membayangkannya. Ia sudah gila berpikir sampai sejauh itu.


"Udah deh, nggak usah pada nanyain hubungan pribadi mereka. Liat tuh, dianya jadi malu." kata Ningsi menunjuk wajah Chaby yang sudah memerah. Mereka menertawai gadis itu.


"Eh, yuk kesana. Api unggunnya udah jadi." seru Dini. Mereka sama-sama melihat ke tempat pembuatan api unggun yang sudah ada banyak anggota lainnya yang duduk melingkari api unggun.


Pika, Chaby dan cewek-cewek yang bergosip dengan mereka tadi cepat-cepat berdiri dan berlari kecil ke tempat api unggun itu.


Pika menahan Chaby sebentar dan berbisik padanya sebelum bergabung dengan para mahasiswa itu.


"Lo sengaja kan mau manas-manasin Elsa tadi?" bisik Pika. Chaby balas berbisik.

__ADS_1


"Siapa suruh dari kemaren-kemaren dia deketin kak Decklan terus." balasnya pelan. Mata Pika membulat lebar menatap Chaby.


"Chaby lo ternyata..."  Ternyata tuh cewek memang udah peka tapi pura-pura biasa aja. Udah pinter jagain miliknya ternyata.


Chaby hanya tertawa dan berjalan  dengan sombong. Jangan dikira ia tidak tahu, dia tidak sebodoh itu kalau nggak bisa melihat maksud Elsa. Enak aja sok-sok deket sama kak Decklan.


                                 ***


Decklan menarik pelan Chaby kedekatnya saat melihat gadis itu datang bersama Pika.


"Duduk disamping aku aja." gumamnya pelan. Seorang teman cowok yang duduk disebelahnya bergeser sedikit untuk memberi ruang pada Chaby supaya bisa duduk disebelah Decklan. Pika lebih memilih duduk antara Andra dan Bara, ia tidak mau melihat dua sejoli itu bermesraan. Bisa-bisa jadi nyamuk lagi.


"Kenapa nggak bareng Chaby sama kakak lo aja?" tanya Andra. Niatnya sih sebenarnya mau meledek Pika.


"Nggak ah, nggak mau jadi nyamuk." balas Pika langsung. Andra terkekeh. Bara disebelahnya ikut tersenyum. Pandangan cowok itu sesekali melihat ke Decklan dan Chaby. Mereka tampak serasi bersama dan terlihat sangat senang. Ia mendesah pelan. Setelah semua masalah yang dilewati mereka dulu, akhirnya sekarang mereka bisa terus bahagia.


Bara turut senang melihat Chaby dan Decklan bahagia. Pandangannya beralih pada cewek diujung sana, yang duduk tak begitu jauh dari mereka.


Elsa.


Kening Bara berkerut. Ia melihat tangan Elsa terkepal kuat dengan wajah yang terus menatap ke Decklan dan Chaby. Tampangnya tentu saja tidak senang. Bara tahu arti tatapan itu. Sudah lama ia mendengar Elsa mengejar Decklan, tentu saja gadis itu pasti cemburu melihat Decklan bersanding dengan gadis lain.


Bara tersenyum miring. Cemburu sih nggak apa-apa, tapi nggak perlu ditunjukin sampe sebegitunya juga kan. Yang ada cuman bikin malu doang. Emangnya nggak ada cowok lain apa? udah tahu cowok yang dia suka udah punya pacar, masih aja nggak tahu malu mau deketin.

__ADS_1


Bara menggeleng-geleng kasihan. Ia tidak suka tipe cewek seperti itu.


__ADS_2