GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 24


__ADS_3

Chaby bergerak mondar-mandir didepan Decklan dan Arion yang tengah sibuk memainkan pasel. Di luar hujan deras, papa dan mama mereka mengikuti acara di sebuah hotel berbintang. Gatan sibuk bikin tugas di kamarnya, dan Pika belum pulang-pulang juga dari kantor. Tapi ia sudah menghubungi Decklan tadi. Katanya Bara yang akan menjemput dan mengantarnya pulang. Akhirnya yang tersisa adalah keluarga kecil itu.


Mereka berada di kamar. Sebenarnya hujan-hujan begini sangat cocok untuk memanaskan diri dengan berhubungan intim dengan istri tercintanya itu. Decklan juga bisa berusaha untuk membuat bayi kembar yang ia harapkan. Sayangnya mereka tidak bisa melakukannya karena ada Arion. Tidak mungkin kan  mereka melakukan hubungan suami istri itu didepan anak mereka yang masih kecil. Akhirnya Decklan memilih menemani Arion bermain.


Sesekali mata Decklan melirik-lirik ke Chaby yang mondar-mandir didepan sana seperti cacing kepanasan. Tentu saja pria itu bingung. Ada apa dengan istrinya? Ada yang dia khawatirkan?


"Ali tahu papa, bial Ali aja." seru Arion setelah mendapatkan jawaban atas permainan yang tengah dia mainkan dengan papanya. Decklan tersenyum mengacak-acak pelan rambut anaknya itu lalu pandangannya kembali ke istrinya. Masih sama. Chaby masih bertingkah khawatir seperti tadi. Pria itu menatap Arion sebentar. Ketika dilihatnya bocah itu sibuk sendiri dengan permainannya, Decklan lalu berdiri mendekati sang istri.


"Kenapa sayang, kamu ada masalah?" tanya Decklan menggenggam tangan Chaby.


"Aku telpon kak Sharon tapi dari tadi nggak di angkat-angkat terus. Kan aku jadi khawatir. Kak Sharon itu takut banget sama petir, dia nggak tenang tinggal sendirian di rumah kalau hujan deras kayak gini, dan ada petir pula. Kak Decklan tahu nggak kenapa kak Sharon nggak angkat-angkat telponnya?" Chaby menatap Decklan. Karena terlalu khawatir pada Sharon yang tidak angkat-angkat telponnya juga, ia malah membuat pertanyaan tidak masuk akal yang membuat Decklan sampai melongo menatapnya.


"Kok nanyanya ke aku sih sayang, mana aku tahu. Aku kan nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Nggak masuk akal deh pertanyaan kamu." sela Decklan mencubit pipi istrinya gemas.

__ADS_1


"Terus kemana dong kak Sharonnya?" ujar Chaby lagi tidak tenang. Decklan menghembuskan nafas lalu menariknya duduk di sofa sebelah Arion. Karena Arion memakai  space sofa terlalu banyak dengan mainan diatasnya, Decklan membuat Chaby duduk di pangkuannya dengan duduk membelakangi sambil bersandar di dada bidang pria itu.


"Tenang dulu, nggak usah khawatir. Kan Sharon udah dewasa." ucap Decklan mengusap-usap lengan Chaby, berusaha menenangkan gadis itu. Pria itu menyandarkan dagunya di ceruk leher sang istri. Kemudian lengannya yang kekar turun melingkari pinggang Chaby.


"Tapi..."


"Udah sayang, aku yakin kakak Sharon kamu itu nggak apa-apa. Percaya deh sama aku."  potong Decklan.


"Ari bikin sendiri?" tanya Chaby karena susunan parsel itu sangat cepat di kerjakan oleh putranya.


"Mm, yang lain ditunjukin sama papa." sahutnya. Decklan tersenyum tipis mengacak-acak rambut Arion.


"Anak papa pinternya emang kayak papa." Arion tersenyum bangga mendengar pujian dari papanya. Bocah itu menatap mamanya lagi.

__ADS_1


"Mama, nanti Ali mau tunjukin pelmainan ini ke tante Shalon." katanya. Mendengar nama itu Chaby kembali teringat kalau dirinya sedang memikirkan Sharon sejak tadi. Mana hujannya belum berhenti-berhenti lagi. Saat Chaby bersiap-siap mau menelpon Sharon lagi, ponselnya berdering. Ia pikir itu Sharon ternyata kakaknya Danzel. Gadis itu lalu mengangkat telpon kakaknya tersebut dan bersuara dengan nada lemah.


"Halo?" sapanya lemah. Rambutnya kini dimain-mainkan oleh Decklan dari belakang. Bahkan suaminya itu mengambil-ambil kesempatan mengecup lehernya saat Arion tidak melihat ke mereka. Chabylah yang merasa terganggu dengan perbuatan suaminya itu, padahal ia masih sementara menelpon. Ia berusaha menjauhkan kepalanya tapi suaminya itu tidak memberi ijin dan terus menekannya dari belakang, menciuminya. Dasar kak Decklan, mengganggu orang lagi telponan saja.


"Kamu nelpon Sharon?" tanya Danzel diseberang sana. Chaby tampak heran.


"Kok kakak tahu?" ia balas bertanya dengan bingung.


"Kakak sekarang lagi sama dia. Kebetulan kami ketemu di tempat makan. Waktu mengantarnya tadi, ada sedikit masalah dengan mobil kakak, tapi ini udah diperbaikin. Sharon sudah di rumah." jelas Danzel panjang lebar. Chaby mengangguk-angguk mengerti. Akhirnya ia bisa bernafas lega. Ternyata kak Sharon tidak sendiri


"Kak Danzel bisa temenin kak Sharon sampai hujannya berhenti nggak?" Soalnya kak Sharon takut guntur sama kilat. Mau ya kak." pinta Chaby. Tak ada suara, belum ada jawaban. Danzel masih terdiam. Lalu beberapa saat ia mengiyakan. Chaby langsung bersorak senang. Tak lama kemudian ia menutup telponnya dan berbalik menatap sang suami dengan wajah galak.


"Jangan gerak gitu, dibawah sana punya aku udah tegang banget. Kalo kamu gerak-gerak gitu aku nggak bisa tahan lagi sayang." bisik Decklan pelan. Ia tidak mau putra mereka mendengar perkataan mesumnya itu. Mata Chaby membulat lalu mencubit lengan suaminya. Dasar mesum. Decklan malah tertawa, dari tadi ia menahan diri untuk tidak mencium bibir istrinya. Ya ampun, ini nih kalau napsunya pada istrinya sudah naik tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa karena ada sang anak.

__ADS_1


__ADS_2