
"AAARHHGGGG !!!
Teriakan keras itu menggema di seluruh bangsal VVIP rumah sakit Ludira SCN itu.
Decklan, Bara dan Andra yang baru keluar dari lift rumah sakit menuju bangsal lantai 16 itu berlari kencang saat mendengar teriakan itu. Teriakan itu berasal dari ruangan Pika di rawat. Beberapa suster dan dan petugas medis lainnya yang bertugas di bangsal itu saling menatap kebingungan. Ada yang ikut berjalan menuju kamar VVIP tempat terdengar nya teriakan kuat itu. Mereka penasaran siapa yang berteriak sekencang itu siang hari begini. Di ruangan anaknya kepala rumah sakit mereka lagi. Beberapa pasien yang berada di bangsal itu sampai kaget akibat teriakan menggema itu.
Decklan, Bara dan Andra yang tadinya panik karena teriakan itu menghentikan langkah mereka didepan pintu ruangan Pika. Mereka melihat Chaby yang sudah terduduk di lantai sambil menatap lurus ke depan. Ekspresinya seperti baru habis melihat hantu.
Decklan mengikuti arah pandangan kekasihnya itu. Rasa senang bercampur kaget merasuki pikiran cowok itu. Ia melihat Pika sudah sadar dan kini telah duduk menghadap seseorang. Orang itu dan Pika sama-sama menoleh menatap mereka. Mereka semua masih diam. Kini Decklan mengerti kenapa Chaby berteriak. Gadis itu hanya syok. Pandangannyanya berhenti pada sosok yang duduk didepan Pika.
Danzel?
Decklan kaget bukan main. Apa itu hantunya? Tapi dia bergerak dan tersenyum pada mereka. Danzel masih hidup? Kalau pria itu masih hidup Decklan sangat senang. Karena pacarnya tidak akan mengalami kesedihan lagi tiap mengingat kakak kandungnya itu. Tapi...
Apa dia benar-benar manusia?
Decklan maju mengangkat Chaby dari lantai dan membimbingnya berjalan perlahan ke tempat tidur Pika. Chaby masih diam saking syoknya.
Bara dan Andra ikut berjalan masuk dari luar pintu. Bara sempat meminta para suster dan beberapa orang lain yang tidak ia kenal itu untuk kembali melakukan pekerjaan mereka karena tidak ada masalah yang serius. Ia meminta para petugas rumah sakit itu memberi mereka ruang pribadi. Setelah mereka pergi ia baru berbalik masuk, tak lupa menutup pintu.
"Kenapa wajah lo kaget gitu? Pika berbicara menatap Chaby. Ia ingat tadi ketika ia membuka matanya dan melihat Danzel tengah duduk di sisinya. Karena kecelakaan, tentu saja ia tidak tahu apa-apa tentang kak Danzel yang dikira mereka semua sudah mati.
Pika merasa seluruh badannya sulit di gerakan namun ia berusaha untuk bangun. Danzel lah yang berinisiatif membantunya duduk.
Entah sudah berapa lama dirinya tidur, tentu saja ia tidak tahu. Namun terkadang ia mendengar suara-suara orang yang berbicara pada saat dirinya koma.
Gadis itu sebenarnya heran kenapa saat ia membuka mata malah Danzel yang dilihatnya, bukan mamanya papanya atau Decklan kakaknya.
__ADS_1
Ia ingin bertanya pada Danzel namun sebelum mereka berbicara, Chaby tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar itu dan berteriak sekeras mungkin.
Danzel dan Pika sama-sama menatap Chaby dengan ekspresi yang berbeda. Kalau Pika terkejut kenapa Chaby berteriak, Danzel justru menatap penuh kerinduan. Ia baru sampai siang tadi dari Seoul. Ia sudah mendengar dari Galen kalau Chaby hampir tiap hari berada di rumah sakit menjaga Pika. Itulah kenapa ia langsung ke rumah sakit. Selain itu, ia ingin bertemu keluarga Pika untuk meminta maaf atas semua kejadian yang terjadi yang dilakukan oleh mamanya sekaligus melihat kondisi gadis yang ia dengar masih koma itu.
Ketika masuk di ruang rawat Pika, Danzel tidak melihat seorang pun. Chaby yang sangat ia rindukan tidak ada, juga keluarga Pika. Hanya ada Pika yang masih terbaring tak sadarkan diri. Pria itu memilih menunggu dan duduk di kursi sisi tempat tidur Pika sambil mengamati gadis itu.
Hampir sepuluh menit ia duduk lalu melihat ada pergerakan dari gadis itu. Jemarinya bergerak diikuti dengan kelopak matanya dan perlahan-lahan matanya terbuka.
Danzel melihat Pika menatapnya heran dan berusaha bangun. Pria itu membantunya duduk. Ia tersenyum dan baru mau berbicara namun Chaby tiba-tiba muncul bahkan berteriak kencang.
Danzel tahu adik kecilnya itu pasti kaget bukan main melihat keberadaannya saat ini. Lihat ekspresinya sekarang, pria itu tertawa ketika Chaby menoel-noel lengannya takut-takut.
"Kamu pikir kakak hantu, hm?"
Chaby hampir terjatuh lagi kalau tidak cepat-cepat di tahan oleh Decklan.
"K..kak Danzel m..masih hidup?" Chaby menutup mulutnya ingin menangis ketika melihat Danzel mengangguk dan tersenyum menatapnya.
Pika yang melihat mereka merasa heran karena tidak tahu apa-apa.
"Memangnya kak Danzel kenapa?" ia menatap mereka heran. Decklan menatap adiknya itu dan maju memeriksa kondisinya.
"Gimana tubuh lo? Susah digerakin? Ada yang sakit?" tanyanya bertubi-tubi. Pika sampai terheran-heran karena tidak biasanya cowok itu terlihat khawatir seperti ini. Ternyata enak juga koma.
"Aku mau koma lagi ah biar kak Decklan nggak jutekin aku lagi." serunya tanpa pikir panjang. Decklan langsung menoyor kepalanya dan menatapnya tajam. Gadis itu baru saja sadar dan malah bercanda seperti itu. Ia tidak tahu apa seluruh keluarga mereka sangat khawatir.
Andra tersenyum menepuk punggung Bara. Mereka ikut senang karena semuanya tampak membaik. Kesedihan selama beberapa bulan ini perlahan terobati.
__ADS_1
"Hwaaaa..."
Semuanya menatap Chaby yang kini duduk di lantai sambil membanting-banting kakinya seperti anak kecil dan menangis kuat.
Gadis itu merasa kesal dibohongi. Ia sangat senang tapi juga kesal.
"Kak Danzel kok masih hidup."
Perkataannya membuat semua orang dalam ruangan itu melongo termasuk Danzel tentu saja. Decklan tertawa. Ia tahu Chaby tidak bermaksud berkata begitu. Setelah lama menghabiskan waktu dengan gadis itu ia makin tahu semuanya tentang Chaby termasuk ucapan blak-blakannya itu yang kebanyakan tidak jelasnya.
"Kak Danzel kenapa nggak bilang ke Chaby kalo masih hidup sih. Kan Chaby nggak bakalan sedih banget kehilangan kak Danzel. Untung Chaby nggak bunuh diri."
Decklan menunduk cepat dan memukul mulut gadis itu pelan. Asal banget kalo ngomong.
Danzel malah tertawa. Ia tahu kalau dirinya harus memberi penjelasan pada gadis itu. Pria itu maju membantu Chaby berdiri.
"Kakak dengar kamu udah mulai dewasa. Mana, nggak keliatan."
Chaby membuang muka. Ia masih kesal. Danzel mengacak-acak rambutnya pelan. Pandangannya berpindah ke Decklan.
"Makasih udah selalu ada disisi Chaby dan terus menghibur dia." ucapnya.
"Hm." balas Decklan. Ia ingin marah tapi ia mencoba untuk tidak kekanakan. Pasti Danzel punya alasan kenapa harus menutupi kematiannya.
Ia ingin bicara lagi tapi mama dan papanya tiba-tiba muncul.
"PIKA!"
__ADS_1