
Decklan, Bara dan Andra mulai sibuk mendirikan tenda mereka juga tenda milik Pika dan Chaby. Hugo sudah bergabung dengan mereka.
Sesekali mata Decklan akan mencari-cari Chaby melihat apa yang dilakukan gadis itu. Bukannya gimana-gimana, cewek itu harus terus di pantau karena sering sekali melakukan hal-hal diluar dugaannya.
Meski Decklan sudah mengingatkan pada Pika untuk memperhatikan gerak-gerik Chaby, ia tetap tidak bisa kalau tidak mencuri-curi pandang ke mereka yang terus terlihat didepan matanya.
Dua gadis itu sedang berfoto-foto ria di ujung sana dekat pendopo.
Mata Chaby berbinar-binar saat melihat kolam renang tak jauh dari situ.
"Pika ke kolam yuk." ajaknya tapi Pika menahannya. Chaby menatapnya bingung.
"Entar aja bareng sama kak Decklan. Kak Decklan udah ingetin tadi jangan kemana-mana dulu. Kita cuma bisa di sekitar sini. Lo mau kena marah?"
Chaby menggeleng.
"Liat tuh mata kak Decklan kesini terus."
Pandangan Chaby bertemu dengan mata hitam pekat milik Decklan. Chaby melambai-lambai pada cowok itu. Ia melihat pacarnya itu balas tersenyum lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Lo jadi beda banget kalo sama pacar imut lo itu gue perhatiin." ungkap Hugo di sebelah Decklan. Hugo belum habis-habisnya heran kalau Decklan akan pacaran dengan tipikal-tipikal cewek macam Chaby itu. Bucin banget lagi.
"Go, lo liat paku nggak?"
Hugo menoleh ke Bara. Bara bertanya padanya karena memang lelaki itu yang sejak tadi ia lihat terus memegang peralatan-peralatan mereka.
"Tadi gue taro disitu." balas Hugo menunjuk benda yang di tanya Bara. Bara mengangguk, ia berjalan ke tempat yang ditunjuk Hugo tadi dan mengambil benda yang dicarinya itu.
"ARGH!!!
Semua orang yang sibuk membangun tenda menoleh ke suara teriakan. Decklan langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh ke Pika yang berlari ke dekat mereka dan Chaby yang mengejarnya dari belakang.
Decklan menggeram kesal. Sudah berulang kali ia memperingatkan pada pacarnya itu supaya tidak lari-lari tapi lihat sekarang. Pika juga malah ikut-ikutan.
Decklan terus menatap wajah Pika yang berlari dengan ketakutan dan Chaby di belakangnya malah senyum-senyum jahil. Sebelah tangannya disembunyikan dibelakang dengan mengerling jahil.
"Kenapa sih teriak-teriak?" tanya Hugo saat Pika dan Chaby berhenti didekat mereka. Decklan terus menatap Chaby. Ia menyipitkan mata curiga. Apa yang disembunyikan di tangannya itu.
"Chaby tuh nakutin aku." ujar Pika. Chaby terus tersenyum jahil mau mendekati Pika. Pika cepat-cepat berlindung di balik punggung Andra, menarik-narik cowok itu.
"Buang nggak?" seru Pika dari belakang Andra dengan tampang galak.
Chaby menggeleng-geleng jahil. Ia terus maju mendekati Pika dan Andra. Decklan paham kalau Chaby mau menakuti Pika tapi bingung apa yang disembunyikan Chaby di tangannya itu.
"Masa sama ini doang takut, kalah sama aku yee.." ledek Chaby terus maju.
__ADS_1
Pika melirik kakaknya.
"Kak Decklan tolongin dong, Chaby mau nakutin aku tuh." lapornya. Decklan tetap diam di tempatnya, belum bisa mencerna baik-baik.
Pika makin waspada. Ketika dilihatnya Chaby makin dekat, ia berpindah ke sisi Bara. Ah, Pika cemen menurut Chaby.
"Chaby, lo sebenarnya mau apa sih? Apaan tuh yang lo sembunyiin di tangan?" tanya Andra. Ia menyipit curiga saat Chaby tersenyum aneh padanya. Cewek itu maju selangkah lalu tanpa aba-aba memasukan sesuatu yang entah apa itu kedalam kaos cowok itu dan tertawa.
Andra sangat kaget. Ia merasakan ada sesuatu yang bergerak dalam bajunya. Cowok itu melotot menatap Chaby.
"Itu cecak kak Andraa." seru Pika geli sekaligus jijik.
Andra membelalak lebar dan refleks melompat-lompat karena merasa geli, kemudian membuka kaosnya sedang Chaby malah tertawa terpingkal-pingkal karena merasa lucu melihat Andra.
"CHABYY!" teriak Andra kesal. Anak itu benar-benar. Refleks Chaby berlari ke Decklan dan bersembunyi dibelakang cowok itu.
"Wleee..." ia memeletkan lidahnya pada Andra dengan kepala yang sesekali menyembul keluar dari balik punggung Decklan.
Hugo dan Bara menertawai Andra. Tampang kagetnya tadi itu sangat lucu. Bisa-bisanya tuh cowok di kerjain sama Chaby.
"Chaby, lo tuh yah." Pika sudah berdiri disamping Chaby dan menjitak kepalanya pelan saking gemasnya ke tuh cewek.
"Dapat cicak darimana?" tanya Decklan. Tangannya merogoh ranselnya, mengeluarkan tisu basah dan menggosok-gosok tangan Chaby bekas pegang cicak tadi.
"Nggak tahu tuh." sahut Pika karena Decklan menatapnya.
"Lo kok nggak takut sama tuh hewan sih By? Gue aja nggak berani pegang. Jijik gue sama yang macem begitu." tanya Pika lagi. Decklan masih sibuk membersihkan tangan Chaby dengan telaten namun tetap mendengar semua cerita Pika.
Chaby mengangkat dagu dengan tampang sombongnya pada Pika.
"Itu doang takut." ejeknya. Pika mencebik. Pandangannya berpindah ke Andra. Tampang tuh cowok masih kesal. Pika melirik Chaby lagi.
"Lo udah bikin kak Andra kesel, liat tuh." tunjuknya pada Andra, cowok itu menatap terus ke arah mereka dengan raut wajah menahan kesal.
Kali ini Decklan menangkup kedua pipi Chaby membuat gadis itu menatapnya.
"Pergi minta maaf ke Andra sekarang." perintahnya. Chaby menatapnya keberatan.
"Tapi,"
Decklan menatapnya lurus.
"Sekarang aku nanya, kalo ada orang yang nakutin kamu kayak gitu kamu marah nggak?"
Chaby terlihat berpikir.
__ADS_1
"Tapi kan becanda doang." ia masih membela diri menatap Decklan.
Decklan menghela napas.
"Coba kamu liat, Andra beneran kesel apa nggak?"
Chaby menoleh menatap Andra. Kayaknya sih emang kesal beneran. Ia lalu mengangguk menatap Decklan lagi.
"Ya udah, sana minta maaf cepet."
Decklan mendorong pelan tubuh Chaby. Mau tak mau gadis itu melangkah pelan mendekati Andra.
"Kak Andra,"
Andra diam saja, hanya menatap gadis itu dongkol. Jujur saja ia malu diliatin banyak orang tadi karena ulah gadis itu.
Bara didekat situ mendorong Chaby pelan biar lebih dekat sama Andra. Tangan Chaby terangkat menusuk-nusuk pelan punggung Andra dengan telunjuknya.
"Apaan?" seru Andra galak.
"Kak Andra marah yah sama Chaby?"
"Menurut lo?"
"Iya." balas Chaby langsung.
"Kak Andra jangan marah dong, Chaby minta maaf deh, nggak bakal ulangin lagi, ya ya yah?"
karena tidak ada balasan apapun dari Andra gadis itu berniat mau terus membujuk.
"Kak Andra, kak Andra ganteng, kak Andra baik, cupu, cemen, penakut..."
Andra menggeram kesal tapi juga merasa lucu.
"Lo itu mau minta maaf apa cari masalah sih?" sentaknya galak. Ia sebenarnya sudah tidak marah lagi.
Chaby malah melompat girang.
"Yey! Kak Andra udah maafin aku." serunya sambil menari-nari girang.
Andra melongo takjub. Ia jadi tidak bisa menahan tawanya karena tingkah Chaby.
"Ya udah, jangan ulangin lagi yah." ucapnya kemudian. Chaby berdiri tegak didepannya seperti gaya mau memberi hormat.
"Siap kakak penakut." setelah itu gadis itu berbalik cepat ke tempat Decklan dan Pika.
__ADS_1
"Chaby..!" geram Andra.
Bara disebelahnya hanya bisa senyum-senyum.