
Decklan dan yang lain menyambut Chaby yang diturunkan oleh Danzel didepan rumahnya. Chaby pamit sebentar pada kakaknya sebelum berbalik menghampiri Decklan.
Mereka melambai-lambai saat Danzel membunyikan klakson dan memutar balik mobilnya meninggalkan tempat itu. Sekarang ini Danzel dan Galen tidak khawatir lagi kalau Chaby perginya sama kelompok Decklan.
"Gimana? Lo udah beli semua titipan gue kan?" tanya Pika ketika Chaby sudah berdiri disampingnya.
Chaby mengangguk, tangannya merogoh barang-barang yang dipesan Pika dalam tas besarnya. Karena lama Pika ikut membantunya. Ketika memegang benda yang entah apa itu, Pika mengeluarkan dan mengamatinya lama. Ia tidak mengerti benda apa itu. Ia hanya membaca tulisan Durex Invisible di benda kecil itu dan tidak melihat tulisan paling kecil dibawah. Karena bingung itu benda apa, Pika menatap Chaby.
"By, ini benda apaan?" tanyanya.
Chaby menatap benda yang diangkat Pika tinggi-tinggi.
"Oh, itu permen Pik. Kemaren aku beli. Sih kakak kasir bilang banyak rasanya, jadi aku beli banyak dengan berbagai rasa. Nanti kita makan pas di tenda aja yah?" jelas Chaby polos. Pika masih bingung, ia baru liat bentuk permen model begitu.
Decklan, Bara dan Andra kaget bukan main melihat benda apa yang diangkat oleh Pika. Refleks Decklan merampasnya dari tangan Pika dan menyembunyikan kebelakang membuat Pika menatap cowok itu bingung.
Astaga, Decklan nggak ada salah apa-apa tapi kenapa dia yang gugup yah.
"Apaan sih?" seru Pika merasa aneh.
Bara dan Andra mati-matian menahan tawa saat melihat raut wajah Decklan dan Chaby yang sangat bertolak belakang. Gadis itu yang berbuat tapi Decklan yang benar-benar jadi salah tingkah. Wajah cowok itu merah padam. Mereka tahu Chaby itu masih polos sekali dengan hal-hal begituan makanya tuh cewek keliatan biasa saja begitu, karena yang ia tahu yang dibelinya memang adalah permen.
"Kak Decklan mau juga? Masih ada banyak rasa kok di Chaby." ucap Chaby lagi-lagi dengan senyum lebarnya yang menampilkan barisan-barisan giginya yang rapi.
Ingin rasanya Andra tertawa sekencang-kencang mungkin tapi di tahannya. Kasian sih Decklan, bisa tambah malu nanti.
Decklan menyeka keringatnya yang bercucuran karena gugup lalu menarik Chaby ke dekatnya. Ia mengatur nafasnya dan menatap gadis itu lekat-lekat.
__ADS_1
"Lain kali kalo mau beli beginian tanya-tanya dulu ini apaan sama kasirnya, ngerti?" katanya.
"Permenkan?" balas Chaby mengerjap-ngerjapkan mata.
"Bukan." jawab Decklan langsung. Chaby berpikir bingung. Pika ikut-ikutan penasaran, ia memang belum pernah lihat permen yang bentukannya begitu. Tapi.. kayaknya ia mulai curiga deh, apalagi dari tadi kakaknya jadi aneh gitu saat melihat barang yang di beli Chaby.
"Terus apaan? Kok ada banyak rasanya?"
Astaga. Decklan menutup matanya dalam-dalam. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Kalau tidak ada tiga makhluk itu bersama mereka, ia pasti tidak akan semalu ini. Hanya Chaby seorang yang bisa membuatnya sangat malu seperti sekarang ini dan tidak bisa berkata-kata.
"Chaby manis, lo tuh masih polos banget belum ngerti benda-benda kayak gituan." Andra mencoba mewakili Decklan menjelaskan. Chaby tambah bingung, sementara Pika mulai paham. Ia ikut tertawa lucu. Bisa-bisanya Chaby beli benda kayak begituan, dikira permen lagi.
"Itu bukan permen By, nanti juga lo bakal tahu kalo udah nikah sama kak Decklan. Kak Decklan bakal ajarin semuanya sama lo, iya kan kak?" ucap Pika sengaja mau menggoda Decklan. Ia makin merasa lucu saat kakaknya balik menatapnya tajam.
"Gue nggak bakal pake begituan saat nikah!" sentak Decklan. Pika malah terbahak. Padahal becanda doang.
Decklan lalu menarik tangan Chaby menuju mobil. Ia harus berterimakasih pada Bara karena memotong pembicaraan tentang benda yang dibeli Chaby itu. Ia tahu Chaby adalah tipikal cewek yang nggak bakal berhenti bertanya kalau belum mengerti, dan ia tidak mau menjelaskan barang sensitif seperti itu pada pacarnya didepan orang lain. Meskipun mereka semua orang-orang terdekatnya.
Hal pribadi yang menyangkut pasangan seperti itu hanya ingin ia bicarakan berdua saja dengan pacarnya, tentu saja.
Sebelum sampai mobil Decklan mengambil semua ****** lain yang ada dalam tas Chaby dan membuangnya ke tempat sampah. Bisa-bisa kalau teman-teman kampusnya lihat, mereka akan menganggap Chaby cewek gampangan lagi. Ia tidak mau itu. Chabynya adalah gadis lugu yang yang sangat ia sayang. Ia harus menjaga dan melindunginya baik-baik.
Sepanjang perjalanan Chaby terus merengek pada Decklan untuk mengganti semua permen yang sudah dibuang cowok itu katanya.
"Pokoknya nggak mau tahu, kak Decklan harus gantiin permen aku, titik."
Chaby terus-terus memukul-mukul lengan Decklan. Posisi mereka duduk Bara mengemudi, Andra disamping cowok itu, Pika, Chaby dan Decklan dibagian tengah. Barang-barang mereka paling belakang.
__ADS_1
"Chaby, tenang dikit dong. Kepala gue pusing nih karena lo gerak-gerak terus." omel Pika.
Chaby membuang muka dari cewek itu dan mengaitkan tangannya pada lengan Decklan dan menyandarkan kepalanya pada bahu cowok itu. Ia memeletkan lidahnya pada Andra yang sesekali melihat mereka dari kaca spion.
Andra terkekeh.
"Kasian tuh yang disampingnya nggak ada pasangannya." ledek Andra ke Pika.
"Nggak peduli.." balas Pika masa bodoh.
***
Mobil yang dikendarai Bara berhenti di gunung geulis area Sentul. Perjalanan mereka tempuh hampir dua jam dari pusat kota, di hitung dengan Chaby dan Pika yang keseringan mampir ke supermarket.
Bara memarkirkan mobilnya di lapangan parkir sekitar camping ground. Setelah itu mereka semua turun dengan membawa barang masing-masing. Pika dan Chaby sih hanya tahu enak karena semua barang-barang mereka dibawah oleh cowok-cowok keren itu.
Decklan menyampirkan jaketnya ke tubuh Chaby dan memberi jaket lain milik Bara pada Pika. Anginnya bertiup cukup kencang membuat udara gunung di siang menjelang sore hari itu makin dingin. Ia tidak mau dua gadis kesayangannya itu kedinginan dan masuk angin.
Beberapa anggota club cewek yang melihat mereka merasa iri dengan perlakuan Decklan. Mereka ingin juga ada di posisi Chaby dan Pika.
"Nggak papa gue dapat Bara aja deh karena Decklan udah ada yang punya. Lagian mereka semuanya ganteng bangeet." seru Nia dengan jeritan tertahan. Hampir satu kampus juga sudah tahu Decklan sudah bertunangan, semenjak kedatangan Pika dan Chaby waktu itu.
Yang paling apes adalah Elsa. Semenjak itu ia tidak bisa sembarangan dekat-dekat sama Decklan lagi. Banyak mata yang melihat gerak-geriknya.
Biasanya Decklan sering bicara dengan Elsa kalau cewek itu yang bertanya duluan. Kalau nggak seperti itu sih, mana ada Decklan mau ngomong sama dia. Di jurusan mereka cowok itu yang paling cuek, hanya sibuk belajar, bikin tugas kadang kumpul sama teman-temannya dan di waktu kosong Elsa sering mendapati cowok itu bicara di telpon sambil tersenyum. Pasti telponan sama pacar manjanya itu.
Ada satu waktu Elsa pura-pura terpeleset didepan Decklan, tapi cowok itu malah memanggil orang lain didekatnya untuk membantu Elsa berdiri. Elsa malu sekali tiap kali mengingat kejadian itu.
__ADS_1