
Sekolah betul-betul di gemparkan dengan peristiwa tragis yang menimpa Pika dan Chaby. Mereka tidak tahu apa hubungan Chaby dengan wanita yang menembak mati kakaknya itu namun mereka akhirnya tahu kalau Pika adalah adik kandungnya Decklan. Banyak yang merasa kasihan pada kedua gadis itu.
Bahkan sampai sekarang kelimanya tidak masuk-masuk sekolah termasuk Bara dan Andra. Mereka bisa memahaminya. Kepala sekolah juga melarang semua siswa untuk terus bergosip tentang peristiwa itu. Sebenarnya itu larangan langsung dari papanya Decklan yang beberapa waktu lalu mendatangi sekolah itu dan kepala sekolah menghormatinya.
Sudah dua hari berlalu setelah kejadian itu dan Decklan masih setia duduk di kursi sisi tempat tidur Pika. Menatap gadis itu lama. Mamanya yang sempat pingsan sedang dirawat di rumah sakit keluarganya karena syok. Rencananya juga Pika akan segera dipindahkan di rumah sakit mereka.
Decklan tiba-tiba teringat Chaby. Ia jadi lupa pada gadis itu karena terlalu syok dengan keadaan adiknya. Di ambilnya ponsel dari sakunya lalu menelpon gadis itu. Alisnya terangkat, hp Chaby tidak aktif.
"Decklan," Decklan menoleh.
Andra sudah berdiri tak jauh dibelakangnya. Pria itu sudah tahu apa yang telah terjadi pada Chaby termasuk Danzel yang meninggal. Bara menceritakan semuanya kemarin. Andra sampai tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ia takut menceritakan semuanya pada Decklan karena melihat cowok itu masih tampak frustasi.
"Lo nelpon Chaby?" tanya Andra kemudian. Decklan mengangguk lemah. Tak ada gairah.
"Hpnya nggak aktif." balasnya. Ia ingin sekali gadis itu berada disisinya sekarang, menemaninya. Andra memutar otaknya berusaha mencari alasan.
"Kata Bara Chaby masih syok karena perbuatan mamanya. Ia merasa bersalah. Sekarang lagi istirahat, tapi tenang saja karena gadis itu hanya syok ringan." jelas Andra sangat berhati-hati. Decklan tiba-tiba bangkit dari kursi membuat Andra gelagapan.
"Lo mau kemana?" tanyanya cepat.
"Ketemu Chaby." Andra makin gelagapan.
"Chaby sekarang ditemani sama kakaknya, lo nggak perlu khawatir. Bukannya lo masih harus urus buat pindahin Pika ke rumah sakit keluarga kita?"
Langkah Decklan terhenti. Benar, masih banyak yang harus dia urus. Sekarang ini ia harus memprioritaskan Pika dulu. Chaby ada banyak yang menemaninya, gadis itu akan baik-baik saja karena banyak yang menyayanginya.
__ADS_1
Decklan berbalik duduk di kursi sementara Andra langsung bernafas lega namun ia merasa bersalah telah membohongi Decklan. Memang menurutnya semua demi kebaikan pria itu, tapi... Kenapa perasaannya makin tidak tenang?
Hari-hari berlalu.
Hampir seminggu ini dilewati Chaby dengan rasa sedih yang amat mendalam. Ia terus mengunci diri dikamarnya.
Ada Bara yang terus memantau keadaan gadis itu karena Galen masih tampak kacau. Sudah berhari-hari ini pria itu tidak masuk kantor. Bara sampai harus meminta tolong sekretaris handal di perusahaan om mereka untuk menghandle sementara perusahaan yang didirikan kakaknya itu dan Danzel. Meski Galen tampak urak-urakan dan sangat kacau, ia tak pernah lupa untuk menemui Chaby dan menyuapi gadis itu makan. Karena Bara bilang Chaby tidak ada gairah makan, ia tidak tahu bagaimana membujuknya. Gadis itu akan makan kalau Galen yang menyuapinya.
Di tengah kegalauannya, Bara sering melihat Galen terus menelpon. Hampir seminggu ini ia terus sibuk dengan benda pipihnya itu. Entah siapa orang yang pria itu telpon tapi Bara jadi makin penasaran. kakaknya itu bahkan membiarkan perusahaanya begitu saja, jadi ada urusan apa dia dengan seseorang yang dia telpon berhari-hari ini.
Balik ke Chaby. Gadis itu tidak tahu bagaimana keadaan mamanya sekarang dan ia tidak mau tahu. Ia sempat mendengar dari Bara kalau wanita itu telah di tangkap polisi dan mereka sedang memproses memindahkannya ke Seoul untuk diadili disana. Berdasarkan pemeriksaan dokter, katanya wanita itu mengalami gangguan kejiwaan.
Chaby sangat membenci mamanya, disisi lain ia menyalahkan dirinya sendiri atas semua peristiwa yang terjadi.
Pika...
Chaby teringat gadis itu. Beberapa hari lalu ia dengar dari Bara Pika koma. Ini semua salahnya. Ia ingin menemui Pika tapi terlalu takut. Kak Decklan juga pasti membencinya.
Memikirkan hal itu ia kembali menangis. Apa yang harus ia lakukan? Hidupnya hancur dalam sekejap.
Chaby cepat-cepat menghapus air matanya saat mendengar suara pintu kamarnya di buka. Entah itu kak Galen atau kak Bara, ia tidak mau mereka melihatnya sedang menangis. Kak Galen sudah sangat sedih karena kepergian kak Danzel. Chaby tidak mau membuat pria itu lebih sedih lagi kalau melihatnya menangis. Kak Bara juga sudah banyak menghiburnya beberapa hari ini.
"Chaby." gadis itu menoleh. Bara telah berdiri disebelahnya. Seulas senyum tipis terpampang di wajah gadis itu. Pria itu memilih duduk disampingnya.
"Bagaimana perasaanmu, sudah membaik?" tanyanya menatap Chaby. Gadis itu mengangguk. Bara tahu gadis itu berbohong. Sorot matanya tidak bisa menyembunyikan keadaannya, namun pria itu hanya tersenyum. Ia memegang bahu gadis itu.
__ADS_1
"Kau tahu banyak yang mendukungmu kan?" gumamnya pelan. Chaby mengangguk, namun dalam hati ia merasa ragu. Kalau kak Decklan tahu mama kandungnya yang membuat Pika koma, apakah pria itu masih mau mendukung dan mencintainya? Ia terlalu takut untuk bertanya. Melihat wajah pria itu saja dia malu.
"Kak Bara?" gadis itu mendongak menatap Bara.
"Mm?"
"Kak Bara bisa bawa aku melihat Pika? tapi aku nggak pengen kak Decklan tahu. Aku hanya ingin ngeliat Pika dari jauh sebentar."
Bara mengangguk. Ia bisa mengerti perasaan Chaby saat ini.
Malam harinya, Bara membawa Chaby menemui Pika. Bukan secara langsung, gadis itu hanya melihatnya dari balik pintu.
Air mata Chaby kembali membasahi pipinya. Ia sangat sedih dan tidak tahan melihat Pika yang berbaring rapuh disana dengan segala alat bantu pernafasannya. Ia kembali menyalahkan dirinya yang tidak berguna.
Pandangannya berpindah pada sosok yang tengah duduk membelakanginya disisi tempat tidur.
Kak Decklan... lirihnya dalam hati
Ia tidak bisa melihat seluruh wajah pria itu tapi dari samping wajahnya ia bisa lihat pria itu begitu kelelahan. Chaby ingin sekali masuk menghiburnya dan memberi pelukan, namun ketakutan akan pria itu yang mungkin membencinya masih terus membayangi dirinya. Ia takut mendapat penolakan dari pria itu dan ia tidak siap. Mungkin lebih baik mereka tidak bertemu.
Sepanjang perjalanan pulang, Chaby terus diam. Wajahnya tampak murung. Suasana semakin hening karena Bara yang mengemudi ikut diam.
Bara adalah seseorang yang biasanya sangat tenang dan jarang sekali bicara, namun kali ini dirinya malah mati-matian menekan bibirnya untuk tidak bicara. Ia sangat ingin bicara dan bertanya tentang keadaan gadis itu tapi di tepisnya.
Pria itu hanya mendesah pelan. Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini.
__ADS_1