GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 79


__ADS_3

Pika baru mengerti kenapa Karrel sampai ngomong seperti tadi ke Chaby. Ia juga tidak berhenti-berhenti menertawai aksi gagal kaburnya Chaby seperti yang diceritakan Karrel.


"Kok malah bahas masa lalu aku sih, katanya kalian mau ngomongin bisnis." kata Chaby merasa sebal. Ia kesal karena dua makhluk di samping-sampingnya itu terus tertawa meledeknya. Dia kan jadi malu.


Karrel mengernyit bingung menatap Pika.


"Bisnis?" ia mengulang perkataan terakhir Chaby namun pandangannya lurus ke Pika.


"Aku ngomong tadi kalo kamu itu panutan aku belajar bisnis." jawabnya membuat Karrel mengangguk-angguk mengerti.


Usia cowok itu dua puluh tiga tahun dan sekarang sedang mulai membangun studio desainnya sendiri.


Untuk usianya yang terbilang cukup muda, Karrel sudah mendapatkan hasil yang bisa dibilang cukup besar dalam bisnisnya.


Karrel dan Pika pertama kali bertemu saat Pika ikut event melukis yang diadakan oleh perusahaan keluarganya. Karrel kebetulan melihat lukisan Pika dan merasa tertarik. Ia lalu menemui gadis itu, mereka sama-sama cocok ketika ngobrol bareng apalagi hobi mereka sama. Dan sekarang mereka berdua adalah teman yang cukup dekat. Pika sering bertanya pada Karrel kalau ia habis ide dalam membuat lukisan.


"Kita pesen makan dulu yah. Kalian tunggu aja biar aku yang pesen." ujar Karrel mengambil ancang-ancang untuk berdiri.


"Rel," Karrel berbalik.


"Ayamnya dua aja, tambah kentang goreng satu sama manggo Float." ucap Pika. Karrel menatap dua gadis itu bergantian lalu mengangguk dan melanjutkan pergi ke bagian pemesanan.


"Ternyata banyak yang gue lewatin waktu koma." gumam Pika melirik Chaby. Banyak hal yang terjadi waktu ia tidak sadarkan diri dulu.


"Pika," Panggil Chaby.


"Mm?"


"Kalau kamu mau belajar bisnis sama Karrel jangan lupa ngajak-ngajak aku yah." pinta Chaby.


Pika mengerutkan keningnya.


"Lo pengen belajar bisnis?" ia melihat Chaby mengangguk pasti dengan mata berbinar-binar membuat Pika tertawa.

__ADS_1


"Ya udah nanti gue ajakin lo deh." katanya biar Chaby senang aja. Padahal kalau dia mau belajar bisnis, ada kakaknya yang telah jauh lebih berpengalaman.


Tak lama kemudian Karrel datang dengan makanan di tangannya.


Ia melihat Pika memberikan kentang goreng dan manggo Float yang di pesannya itu ke Chaby.


"Nih cewek nggak bisa makan ayam, alergi." ujar Pika bisa mengerti arti tatapan Karrel yang seperti ingin tahu. Cowok itu baru mengerti.


"Tapi kalo dikit aja nggak papa kok." tambah Chaby. Matanya terus menatap ke ayam milik Pika dan Karrel di atas meja.


"Nggak ada! Gue nggak mau di semprot kak Decklan yah. Makan aja tuh kentang." balas Pika galak. Chaby mencebik kemudian mengambil kentang goreng itu dan mengisi ke dalam mulutnya dengan kasar.


Karrel terkekeh. Ia merasa lucu melihat dua gadis itu yang dari tadi berdebat terus. 


"Mau kemana?" tanya Karrel kemudian saat melihat Pika berdiri dari kursi.


"Ke toilet bentar." setelah menjawab Pika berbalik berjalan ke arah toilet, Karrel lalu mengajak Chaby ngobrol. Sejak tadi ia terus bicara panjang lebar tentang proyek barunya, sekarang dirinya ingin ngobrol santai.


"Kakaknya Pika." sahut Chaby dengan mulut penuh. Karrel manggut-manggut mengerti. Ia ingat Pika pernah menyinggung tentang kakak laki-lakinya yang katanya dingin dan galak itu.


Dari ujung sana, Elsa yang baru masuk tempat makan itu menatap lama kearah Chaby dan Karrel. Mereka terlihat asyik ngobrol. Kebetulan sekali.


Elsa tersenyum licik. Sepertinya kedatangannya tidak sia-sia. Entah siapa cowok yang bersama Chaby itu tapi menurutnya ini adalah kesempatan yang bagus. Tanpa pikir panjang di ambilnya ponsel dari dalam tasnya dan memotret kebersamaan dua orang itu lalu berbalik pergi. Gadis itu sudah tidak berniat makan lagi. Decklan harus melihat gambar yang menarik dari pacarnya itu.


"Kayaknya gue sama Chaby harus pulang sekarang Rel, mama aku nelpon minta aku temenin ke acara temannya." kata Pika yang baru balik dari toilet. Karrel melirik jam tangannya sebentar kemudian membalas perkataan Pika.


"Aku juga udah harus balik ke rumah, ada acara keluarga sebentar, kalo gitu sekalian aja aku anterin kalian gimana?"


Pika terlihat mikir-mikir dulu baru akhirnya mengangguk.


                                ***


Di kampus, Elsa terus menerus mencari keberadaan Decklan. Ia sudah mencarinya sejak tadi tapi belum menemukan keberadaan cowok itu. Decklan juga tidak sedang bersama sahabat-sahabatnya. Elsa berdecak kesal, padahal ia sudah semangat sekali mau menemui cowok itu.

__ADS_1


"Lo kenapa sih sa? dari tadi gue liat kayak lagi nyari-nyari sesuatu, lagi nyari orang?" tanya Dian ke Elsa. Elsa balik menatapnya.


"Gue nyari Decklan, lo liat nggak?" tanyanya.


"Oh Decklan, tadi kayaknya gue liat dia masuk ke perpus." jawab Dian tapi tidak begitu bisa memastikan. Elsa berubah senang.


"Ya udah, gue cari Decklan dulu yah." pamitnya kemudian. Dian menatap kepergian Elsa dengan heran.


Elsa mengedarkan pandangannya ke


seluruh penghuni didalam perpustakaan kampus itu. Saat pandangannya menangkap seseorang yang dicarinya sejak tadi berada di antara yang lain itu, ia tersenyum senang dan berjalan menghampirinya.


Tak ada orang lain di meja yang diduduki Decklan selain dirinya sendiri. Lelaki itu sibuk dengan bacaannya tanpa mempedulikan cewek-cewek didekat situ yang mencuri-curi pandang padanya. Bohong kalau ia tidak tahu, cowok itu hanya tidak mau peduli. Baginya tidak penting.


"Decklan."


pandangan Decklan naik ke gadis yang telah berdiri dihadapannya. Wajahnya datar dan seperti bosan karena Elsa terus menerus mengajaknya bicara. Sekarang dia malah duduk dihadapan cowok itu. Decklan memutuskan tidak peduli dan kembali membaca buku.


"Oh ya, gue tadi mampir ke KFC."


Decklan tertawa remeh. Memangnya penting bilang ke dia?


"Gue juga ngeliat pacar lo lagi sama cowok berduaan." kata Elsa langsung.


Namun nama Chaby yang keluar dari mulut gadis itu berhasil membuat Decklan menghentikan kegiatannya.


KFC?


Decklan menahan kekesalannya dalam hati. Chaby makan di KFC? Ia lalu mengutuk siapa saja orang yang mengajak Chaby ke tempat itu, entah itu Pika atau kedua kakaknya Chaby. Karena tidak mungkin Andra atau Bara yang mengajaknya. Kalau Elsa melihat kekasihnya itu lagi sama cowok mungkin saja antara Danzel atau Galen.


"Nih, gue sempat motret mereka." kata Elsa lagi menunjukkan hasil jepretannya tadi. Dalam foto itu Chaby tersenyum lebar dengan cowok yang...


Cowok itu bukan Danzel ataupun Galen tapi wajahnya familiar. Decklan mencoba mengingat ingat. Ah, itu cowok yang pernah ia lihat dulu didepan rumah sakit bersama Chaby. Rahangnya mengeras tapi tetap menahan diri dan mencoba untuk tidak emosi. Ia jelas tahu Elsa sedang memprovokasinya. Kalau gadis itu laki-laki, ia sudah babak belur oleh Decklan sekarang juga.

__ADS_1


__ADS_2