
Yang ditunggu-tunggu oleh kedua belah pihak keluarga, yaitu keluarga Bara dan Pika akhirnya datang juga. Hari ini keduanya menikah. Pernikahan itu menjadi sebuah pesta pernikahan yang luar biasa mewah. Segalanya yang terbaik. Gaun Pika sengaja didatangkan langsung dari Jerman, tante Lily memesannya dari salah satu temannya yang tinggal di Jerman.
Makanannya yang paling enak, langsung dari restoran milik salah satu kerabat Bara dan Galen. Perempuan-perempuan yang datang ke pesta itu menatap Pika iri dan para lelaki memujinya karena pada akhirnya bisa menikah dengan Bara. Seperti Decklan, banyak juga perempuan yang menyukai sosok dingin seperti Bara.
Para perempuan pasti memimpikan pesta pernikahan yang seperti ini, pesta pernikahan yang bagaikan mimpi. Pika sendiri tiba-tiba dihinggapi dengan rasa gugup. Dia sekarang sudah menjadi isteri Bara. Pesta pernikahannya sudah selesai. Para tamu undangan satu persatu mulia pamit pulang. Yang terakhir pulang adalah keluarga dari keduanya.
Dan malam ini, di malam pernikahannya, Pika duduk di tepi ranjang kamar pengantin baru mereka, di rumah yang Bara siapkan untuk mereka berdua. Bara tidak menyewa hotel untuk melakukan malam pertama. Karena pria itu ingin mereka melakukan yang pertama itu dirumah baru mereka. Pika terus merasa gelisah. Ia gugup sekali. Meskipun Bara pernah menyentuh titik-titik sensitif ditubuhnya, tetap saja ia merasa malu. Sangat malu.
Pintu terbuka dan Bara masuk, lelaki itu masih memakai jas yang dipakainya untuk pesta meski dasinya sudah dilepas dan kancing kemeja di bagian atasnya sudah dibuka.
"Kenapa tegang begitu?" Bara melepaskan jasnya hanya mengenakan kemeja putih, lalu berdiri di depan Pika
"Nggak mau ganti baju dulu, hmm?" dengan lembut Bara menghela pundak Pika supaya berdiri menghadapnya,
"Kamu tampak lelah, kita masih bisa melanjutkan kegiatan malam ini atau..." tatapan Bara tampak sensual. Pika menatap pria itu dalam-dalam. Dia sangat tegang dan itu tampak jelas dimata Bara. Padahal Bara tadi sama tegangnya juga, tapi melihat ketegangan perempuan yang sudah sah menjadi istrinya malam ini, semua ketegangan yang ia rasakan sejak tadi langsung menghilang begitu saja.
"Kamu mau kita lanjut malam ini?" tanya Bara sekali lagi. Pika mengangguk lirih. Yang ada dalam hatinya sekarang adalah menyenangkan Bara.
"Aku akan menyentuhmu… aku berjanji akan bersikap lembut."
__ADS_1
Pika tersenyum menatap lelaki itu.
Mata Bara mulai menelusuri tubuh dan berhenti pada bibir merah penuh yang menggiurkan. Pria itu Ingin segera melahapnya.
Sepersekian detik, Bara pun mencium Pika dengan liar. ******* dalam-dalam bibir merah yang ranum. Tangannya menarik pinggang gadis itu agar semakin mendekat dan merapat padanya.
Pika membalas ciuman panas dari laki-laki yang akhirnya sah menjadi suaminya tersebut. Bara memang sangat handal dalam berciuman. Sehingga membuat Pika terbuai dan menikmati sesi ciuman itu. Entah sudah berapa kali mereka berciuman panas seperti ini, Pika sudah tidak ingat lagi. Harus Pika akui bahwa ciuman Bara begitu nikmat dan menggelora. Bisa membuat dirinya ketagihan dan melayang.
Keduanya mendesah di tengah sesi ciuman panas tersebut. Hasrat Bara semakin naik. Tangan liarnya mulai menyentuh titik-titik sensitif ditubuh Pika. Mulai dari leher, tulang selangkanya, lebih turun lagi hingga menyentuh dada Pika.
"Aaahh ..." Pika mendes*h saat Bara merem*s kedua buah dadanya. Pika merasakan sentuhan yang membuatnya semakin terbang melayang ke udara. Bara tidak sabar lagi. Dengan terburu-buru ia melepaskan gaun yang dikenakan Pika hingga terpampanglah bra tanpa lengan juga cel*na dalam dengan warna yang sama. Melekat indah di tubuh gadis yang tingginya hanya sebatas bahunya.
Bara kembali menyerbu bibir manis Pika, mengobrak-abrik rongga mulut gadis itu. Hingga Pika mendes*h hebat.
"Aaahhh!" Pika terpekik kaget saat Bara merobek cel*na dalam yang dipakainya. Kini tampaklah sudah seluruh tubuh Pika tanpa penghalang apapun. Mata pria yang menindih tubuhnya ini semakin menampakkan gairahnya.
Selanjutnya adegan demi adegan panas terus berlanjut hingga Pika menjerit kaget. Ia merasa kesakitan saat Bara mulai memasukinya
"Aarghh!!! Sakit kak Bara!" Rintih Pika dengan nada lemah. Tubuhnya lemas akibat menerima sentuhan maut pria di atasnya. Bara mengecup singkat dahi gadis itu.
__ADS_1
"Percaya padaku, setelah ini tidak akan sakit lagi." gumamnya lembut.
"Bisa pending dulu nggak? A..aku takut.." pinta Pika dengan nada memohon. Bara berdecak. Gairahnya sudah di ujung. Tidak mungkin dia berhenti sekarang.
"Nggak bisa sayang. Aku akan menderita kalau kita nggak selesain sekarang. Tahan bentar ya." tolak Bara dengan suaranya yang lembut Terdengar seksi di telinga Pika.
"Aku akan melakukannya dengan lembut dan hati-hati," janji Bara lagi yang bersiap melanjutkan kembali aktivitas yang sempat tertunda.
Bara kembali mencium bibir Pika yang sudah membengkak. Satu tangannya mengarahkan tangan Pika yang semula berada di dada bidangnya untuk berpindah mengalung di lehernya. Bunyi desah*n dan erangan begitu menggema. Malam ini akan menjadi malam pertama yang tak terlupakan.
Malam yang paling berkesan bagi keduanya.
Bara mengerang keras saat Pika mulai menerima dirinya dan mengikuti permainannya. Rasanya sangat menyenangkan ketika milik Pika yang sangat sempit itu menjepitnya dengan kuat. Bara tidak sanggup lagi.
"Aku kasar dikit ya." pintanya. Setelah mendapat persetujuan Pika, Bara mempercepat temponya dan bermain lebih kasar dari sebelumnya. Pika sampai berteriak-teriak nikmat. Ini pertama kalinya ia merasakan sensasi aneh yang luar biasa enak itu.
"Ah...k..kak..Bara.. aku..aku mau...ahh..."
"Aku juga sayang... Bersama ya.."
__ADS_1
Tubuh Pika menggelinjang hebat saat merasakan sesuatu keluar dari dalam tubuhnya. Keduanya sama-sama berhasil mengalami pelepasan mereka dengan erangan hebat. Bara menghentikan kegiatan itu sebentar dengan nafas terengah-engah sebelum akhirnya melanjutkan dengan ronde berikutnya.