GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 75


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Chaby keluar dari tenda sambil menguap lebar-lebar. Matanya berputar-putar ke segala arah. Semua orang sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Hari ini mereka semua hanya bersantai-santai terserah mau buat apa, tinggal menunggu siang dikit barulah bersiap-siap pulang. Atau kalau ada yang mau pulang nanti sore karena masih mau menikmati suasana tempat sejuk itu silahkan saja.


"Chaby, lo udah nggak apa-apa?" tanya Ningsi saat melihat Chaby keluar dari tenda. Chaby mengangguk tak lupa tersenyum. Sesekali ia mengucek-ngucek matanya yang gatal.


Pika masih tidur, ia juga tidak melihat tanda-tanda keberadaan kak Decklan, Andra dan kak Bara. Hanya ada teman Decklan yang namanya Hugo itu sedang duduk disamping meja camp di bagian tengah sana. Ningsi masih ingin mengajukan pertanyaan lagi tapi tidak jadi karena Chaby sudah berjalan meninggalkannya. Ia mengangkat bahu acuh tak acuh lalu bergabung dengan teman-temannya di meja camp yang lain. Mereka sedang menyiapkan sarapan.


"Kak Hugo." Hugo menoleh kesamping. Ah, sih cewek manja punyanya Decklan, gumamnya dalam hati.


Chaby ikutan duduk di kursi kosong didekat meja yang berhadapan dengan Hugo. Entah kursi itu punya siapa, karena kosong jadi ia duduk saja. Matanya melenggak-lenggok kesana kemari, setelah itu menatap ke meja didepannya dan berhenti ke Hugo.


"Lo ngapain sih?" tanya cowok itu merasa aneh.


"Ada air minum nggak kak? Aku haus nih." Chaby balas bertanya sambil memegangi kerongkongannya yang sudah butuh diisi air.


"Tuh, depan lo." Hugo menunjuk beberapa aqua gelas diatas meja. Ya ampun, matanya ditaruh kemana sih sampai nggak bisa liat Aqua-aqua gelas yang berbaris rapi diatas meja itu.


"Oh iya, heheh." Chaby menyengir lebar dan cowok didepannya itu hanya berdecak-decak kagum menatapnya. Hugo melihat Chaby mengambil Aqua itu, menusuknya dengan sedotan dan langsung meminumnya. Setelah itu menghela nafas lega.


"Ckckck. Dasar bocah." ucapnya pelan.


"Ngomong-ngomong, semalam lo kenapa?"


Chaby tidak menjawab pertanyaan Hugo. Saat ini matanya hanya fokus ke pohon rambutan didekat situ yang sedang dilihatnya. Ia tergiur dengan buah rambutan diatas sana yang sepertinya enak itu. Tanpa pikir panjang gadis itu berdiri dari kursi, meninggalkan Hugo dan berjalan kearah pohon rambutan itu.


Hugo terus mengamati Chaby dari belakang. Tuh cewek mau ngapain? Ia terus melihat Chaby yang sekarang berhenti didepan pohon rambutan sambil matanya menatap terus ke atas.


"KAK DECKLAN CHABY MAU MANJAT POHOON!"

__ADS_1


Teriakan kencang itu tentu saja milik Pika. Ia baru bangun. Ketika tidak melihat Chaby ia ikut keluar. Ia melihat Chaby tadi duduk berbincang-bincang dengan Hugo, saat ia mau menghampiri mereka Chaby malah berdiri dan berjalan kearah pohon. Pika langsung berteriak melapor pada kakaknya saat melihat Chaby sudah mengambil ancang-ancang naik pohon rambutan itu. Heran deh, mau mau manjat pagar pake tangga takut, tapi kalau manjat pohon tuh cewek malah nggak ada takut-takutnya. Hugo sampai terkaget-kaget karena Pika berteriak tepat dibelakangnya. Astaga, nih dua cewek benar-benar suka menganggunya untuk menikmati udara pagi yang tenang.


Decklan yang masih tidur-tiduran didalam tenda buru-buru keluar. Bara juga ikut keluar karena ia tahu sekali yang berteriak tadi itu adalah Pika.


Bara tersenyum-senyum sendiri, Pika dan segala kehebohannya. Andra masih malas bangun, ia terus tidur-tiduran.


Semua cewek-cewek yang sedang berkumpul di meja camp itu terkagum-kagum saat melihat Decklan dan Bara keluar tenda. Bahkan baru bangun saja dua cowok itu sangat tampan.


"Nggak sia-sia gue bangun pagi, bisa lihat makhluk Tuhan yang paling indah." gumam Fily senang, matanya masih terus menatap dua cowok yang sekarang berjalan menjauh.


Cewek-cewek lain menertawai Fily, hanya Elsa saja yang sepertinya tidak senang. Dari tadi kemaren-kemaren juga ia tidak senang karena merasa sudah sulit mendekati Decklan sekarang.


"Sadar woi, Decklan udah ada yang punya." seru Ningsi.


"Bodoh amat, kan masih ada Bara." balas Fily tidak peduli.


Di ujung sana, Chaby kelabakan. Ia menghentikan aksinya lalu berbalik menatap Pika. Aduh, malah kak Decklan pake muncul lagi. Ia melihat Decklan, Pika dan Bara sudah berdiri didekat Hugo. Gadis itu menyengir lebar. Jarak mereka tidak begitu jauh jadi kalau mau bicara tetap bisa saling mendengar. Ia melambai-lambaikan tangan pada mereka.


"Pagi kak Decklaan, kak Bara." sapanya tapi tidak menyapa Pika. Hmph, siapa suruh mulutnya ember.


Decklan bersedekap dan memicingkan mata pada pacarnya itu. 


"Mau apa tadi?" tanyanya menatap Chaby tajam.


"Apaan, nggak ngapa-ngapain kok." bantah Chaby berbohong.


"Nggak ngapa-ngapain apanya, orang tadi gue liat lo udah siap-siap manjat kok." kata Pika ngegas. Chaby menatapnya jengkel.

__ADS_1


"Nggak, wlee." balasnya menjulurkan lidah ke Pika.


"Dih ngeles, marahin aja tuh kak Decklan dianya." Pika tak mau kalah. Saat ia menoleh kebsamping, matanya berpapasan dengan mata Bara. Pika terdiam sejenak.


Bara tersenyum lagi padanya, seperti semalam. Pika balas tersenyum, namun ingatan semalam membuat jantungnya berdebar tanpa di minta. Gadis itu cepat-cepat memalingkan wajah kedepan, ia malu kalau Bara menyadari dirinya gugup didepan cowok itu. Sementara Bara sendiri mengulum senyumnya merasa lucu. Ia tahu gadis itu malu, dan dirinya berniat untuk terus mengusiknya, sampai benar-benar mendapatkan hati gadis itu. Bara kembali menatap kedepan namun sesekali akan mencuri-curi pandang ke Pika.


"Kesini cepet." perintah Decklan menatap lurus ke Chaby. Mau tidak mau Chaby berjalan mendekati mereka. Hugo menertawai gadis itu. Kalau sama Decklan Chaby memang sangat penurut.


Decklan mencubit pipi tembem Chaby saat gadis itu telah berdiri didepannya. Chaby mendelik ke Pika. Pika balas menantangnya. Keduanya saling berpandangan lama kemudian sama-sama membuang muka.


"Hmph."


Tingkah keduanya tak luput tiga cowok yang ada disitu. Dasar konyol.


"Kita sarapan, setelah itu siap-siap pulang." Decklan kembali bicara, tangannya setia memegang bahu Chaby.


"Kalian udah mau pulang?" Kenapa nggak sorean aja?" tanya Hugo. Decklan melirik Bara. Semalam memang Bara yang meminta Decklan untuk pulang pagi karena siang hari ia ada urusan.


"Gue ada urusan nanti siang." ujar Bara, Hugo langsung mengangguk mengerti.


Pika melirik cowok itu sekilas tapi cepat-cepat mengalihkan pandangannya kearah lain. Ya ampun, kenapa dengannya? Kenapa dia jadi canggung begini kalau menatap kak Bara?


"Chaby, ayo temenin gue ambil sarapan." cewek itu cepat-cepat menarik Chaby yang asyik bersandar dibadannya Decklan. Chaby menatap gadis itu malas.


"Kan kita lagi marahan Pika, gimana sih." katanya sebal.


"Udah, baikan aja sekarang!" balas Pika lalu menarik Chaby pergi dari tempat itu meninggalkan tiga cowok yang sama-sama merasa takjub dengan cara dua gadis itu menjalin persahabatan. Aneh, tapi manis.

__ADS_1


__ADS_2