GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 11


__ADS_3

Suasana rumah Decklan semakin ramai. Kini tidak ada lagi rasa sedih yang menyelimuti keluarga besar itu. Apalagi kelakuan lucu Chaby makin menghibur semua orang. Chaby sibuk menghafal nama mereka satu persatu. Mereka sudah menjelaskan tadi apa posisinya dan hubungannya dengan mereka semua.


Pika membantu sahabatnya itu tentu saja. Ia bahkan mengambil album keluarga, menunjukkan foto-fotonya bersama Chaby waktu mereka masih sekolah, juga foto bersama saat mereka mulai sering ngumpul dengan kelompoknya Decklan, dan yang paling penting adalah album pernikahan Chaby dan papa Arion itu. Chaby sempat melirik Decklan sebentar, lalu cepat-cepat membuang muka ke arah lain merasa pria itu terlalu tajam menatapnya. Ia malah merasa jantungnya berdebar-debar ketika melihat Decklan.


Galen, Danzel Bara dan kedua orang tua Decklan kini bermain bersama Arion. Mereka senang bukan main mengetahui Arion adalah anak Chaby dan Decklan. Memang sejak tadi mereka terlalu fokus pada Chaby sampai-sampai Arion dilupakan. Tapi sekarang bocah itu malah menjadi rampasan mereka semua. Arion sangat lucu dan pintar. Mereka merasa heran kenapa bocah itu begitu pintar padahal selama ini dia dibesarkan sendiri oleh mamanya yang modelan Chaby begini. Apa karena turun dan gen Decklan?


"Ari, kamu kok pinter banget? Siapa yang ngajarin? Mama Chaby?" tanya tante Lily antara percaya tidak percaya. Wanita itu terus-terusan mencubit pipi Arion saking gemasnya. Wajah cucunya itu persis Decklan waktu kecil, tapi ada mukanya Chaby juga. Menurut tante Lily, wajah Arion adalah perpaduan yang sempurna dari wajah Chaby dan Decklan.


Arion sibuk memainkan puzzle milik Gatan waktu kecil. Semua permainan Gatan saat ia kecil memang masih tersimpan rapi di kamarnya. Ia tampak tidak peduli dengan keberadaan orang-orang itu karena fokus dengan mainannya. Meski begitu, ia bisa mendengar pertanyaan Omanya. Arion mendongak menatap tante Lily sebentar,


"Mama Ali itu nggak pintel Oma, pintelnya makan doang sama liat om-om ganteng." tutur Arion polos. Untung Chaby sedang sibuk dengan Pika melihat-lihat album foto, jadi ia tidak dengar perkataan anaknya.


Ingatan Arion kuat, jadi ia cepat bisa mengingat orang-orang itu. Karena mereka adalah keluarga mamanya, berarti keluarganya juga. Ia bahkan sudah ingat nama asli mamanya karena semua orang dalam rumah ini selalu memanggil mamanya dengan sebutan Chaby.


Berbeda dengan lainnya yang tertawa dengan perkataan polos Arion, Decklan malah melemparkan tatapan membunuhnya pada Chaby. Ia ingin sekali menarik istrinya itu dan membawanya ke kamar mereka, biar mereka bisa berduaan dan dia bisa bertanya dengan leluasa apa saja yang gadis itu lakukan selama enam tahun ini. Coba saja kalau berani main mata pada pria lain. Putra mereka adalah saksi. Tapi pria itu lagi-lagi harus menahan diri karena semua orang itu masih betah di rumah itu bermain dengan putranya, dan tentu saja melepas rindu pada Chaby.

__ADS_1


Decklan senang karena ada Arion bersama Chaby bertahun-tahun ini. Anggap saja putranya itu menggantikan dirinya mengawasi sang mama. Chaby tidak boleh suka sama laki-laki lain, Decklan pasti akan mencari cara membuat Chaby mengingatnya lagi. Sebelum itu, ia akan membuat istrinya itu jatuh cinta padanya lagi. Dia punya banyak cara karena Chaby adalah istrinya yang sah.


"Oma ganti pertanyaan deh, sebelum Ari dan mama Chaby ketemu papa Decklan, kalian tinggal di mana? Sama siapa?" tanya tante Lily lagi. Danzel, Galen dan yang lainnya ikut menunggu jawaban Arion. Pertanyaan yang di lontarkan tante Lily adalah pertanyaan yang semua orang di dalam rumah itu ingin tahu apa jawabannya.


"Mama sama Ali tinggal baleng tante Shalon." jawab Ali lagi. Ini kedua kalinya Andra mendengar nama itu keluar dari mulut Arion. Di rumah sakit tadi Arion sempat mengucapkan nama itu. Apa wanita itu yang menolong Chaby waktu Chaby kecelakaan?


Chaby langsung berdiri ditempatnya ketika mendengar nama Sharon keluar dari mulut Arion. Astaga, kenapa ia sampai lupa. Sudah seharian ini ia tidak pulang bahkan tidak memberi kabar. Kak Sharon pasti khawatir. Chaby menepuk dahinya merasa dirinya sangat bodoh.


"Kenapa By?" tanya Pika heran. Yang lainnya ikut menatap gadis itu dengan ekspresi yang sama dengan Pika.


"Pulang kemana? Rumah kamu di sini." ucap Decklan penekanan. Chaby berusaha melepaskan diri tapi genggaman Decklan terlalu kuat.


"Lepasin dulu kenapa sih, aku harus pulang ke rumahnya kak Sharon. Masa iya aku sama Arion keluar dan nggak balik-balik. Nanti kak Sharon mikir kami di culik lagi." tutur Chaby menjelaskan, tapi Decklan tetap tidak mau melepaskannya.


"Siapa Sharon?" tanyanya.

__ADS_1


"Kak Sharon itu yang nolongin aku dulu. Yang nemenin aku ngelahirin Arion dan nampung kita berdua tinggal di rumahnya." jelas Chaby panjang lebar.


Oh, jadi tante Sharon yang selalu dibilang oleh Arion itu adalah wanita yang menolong Chaby, Andra baru mengerti sekarang. Rasa penasarannya terjawab sudah. Tampaknya Chaby dan Arion sangat dekat dengan sih wanita penolong itu.


"Gimana, udah paham? Aku boleh pulangkan sekarang?"


"Nggak!"


Chaby berdecak kesal. Ia lalu membanting kakinya sebal. Bagaimana ia harus memberi kabar ke kak Sharon coba kalau tidak di ijinkan pergi oleh suami galaknya ini.


"Chaby, kamu telpon aja yang namanya Sharon itu. Kasih tahu yang sebenarnya. Kamu bisa bertemu Sharon itu nanti besok." ucap Galen memberi ide. Chaby selalu senang melihat pria itu dan kakak kandungnya yang bernama Danzel. Ia merasa keduanya sangat familiar. Mereka juga memperlakukannya sangat lembut. Chaby bisa langsung merasa akrab dengan keduanya. Tapi masalah kak Sharon... Bagaimana menelpon coba, kan hpnya tidak dia bawah. Tanpa sadar sebelah tangannya memilin-milin tangan kemeja Decklan.


"Aku nggak sempet bawa hp tadi, gimana dong kak?"


"Ali hafal nomolnya tante Sharon," seru Arion dari tempatnya bermain, kemudian berlari ke arah mama dan papanya berdiri. Decklan mengacak-acak rambut bocah itu lalu merogoh ponsel dari sakunya untuk diberikan ke Chaby.

__ADS_1


"Telpon pakai ponsel aku aja," gumam Decklan mengulurkan ponsel miliknya didepan Chaby. Mau tak mau ia tidak datang. Terpaksa Chaby mematuhi pria itu.


__ADS_2