
"Kak Bara nggak perlu bawa aku ke tempat kayak ini," kata Pika dengan
wajah berseri-seri dan senyum lebar ketika menyadari Bara membawanya ke salah satu restoran Jepang terkenal, salah satu restoran kesukaan Pika sendiri.
Bara meliriknya dan berkata,
"Tapi melihat wajah kamu sekarang, sepertinya pilihan aku benar."
Seorang pelayan pria menempatkan mereka di salah satu meja di tengah ruangan. Pika memandang sekelilingnya dengan kagum. Restoran itu bagus dengan interior
bergaya pedesaan Inggris yang nyaman dan hangat. Pika hanya
pernah satu kali ke sini sebelumnya, bersama salah satu teman lesnya, dan restoran ini langsung menjadi salah satu restoran favoritnya. Ia menyukai lantai kayunya, taplak
mejanya yang berwarna hijau, tirainya yang tebal, lilin kecil dalam gelas, dan setangkai
mawar yang diletakkan di setiap meja.
Pika mendesah senang dan kembali menatap Bara yang duduk di hadapannya.
"Restoran ini memang kelihatannya nyaman, tapi harganya sangat mahal.
Kak Bara pasti nggak tahu," bisiknya dengan nada penuh rahasia.
"Kamu pernah ke sini?" tanya Bara.
Pika mengacungkan jari telunjuknya.
"Cuma satu kali, dengan teman lesku."
Pelayan yang tadi kembali membawakan menu. Setelah melihat sekilas daftar makanan dan harga yang tercantum di sana, Pika melirik Bara dengan pandangan
was-was, lalu melirik pelayan yang sedang menunggu, dan kembali ke Bara.
Pika mencondongkan tubuhnya ke depan dan menutupi sisi wajahnya yang menghadap si pelayan dengan buku menu.
"Kak Bara," bisiknya pelan, supaya sih pelayan tidak mendengar.
"Kak Bara yang traktir, kan?" bukannya pelit mengeluarkan uang, tapi Pika betul-betul tidak ada uang untuk membayar makanan itu. Waktu datang kesini dulu, temannya yang mentraktirnya. Semua uangnya sudah ia pakai beli barang-barang lain dan sebagian ia tabung.
Bara mengangkat wajah dari menu dan tersenyum. Ia juga ikut mencondongkan tubuhnya dan berbisik.
__ADS_1
"Tenang aja, aku nggak mungkin biarin kamu cuci piring karena nggak bisa bayar."
Mata Pika melebar lalu tersenyum pada cowok itu. Ternyata kak Bara ada selera humor juga.
Setelah si pelayan pergi dengan daftar pesanan mereka, Pika kembali mendesah dan memandang berkeliling.
"Aku suka sekali tempat ini. Sangat romantis. Lihat, orang-orang yang datang ke sini semuanya berpasangan."
"Aku dengar restoran ini memang dijalankan dengan konsep seperti itu." kata Bara. Ia sudah mereview lebih dulu sebelum membawa Pika ke restoran ini. Ia senang karena gadis itu menyukai tempat ini.
"Oh ya?" seru Pika. Bara mengangguk.
"Aku juga mendengar banyak orang mengajukan lamaran pernikahan di
tempat ini." Pika makin antusias mendengar Bara. Ternyata cowok itu banyak tahu tentang restoran ini.
"Kalau kamu datang ke sini pada hari Valentine, kemungkinan besar kamu bakal lihat seorang pria berlutut di hadapan kekasihnya sambil mengacungkan cincin berlian."
Mata Pika melebar senang.
"Aku pengen banget ngeliat." katanya, lalu tiba-tiba bertanya,
"Hari Valentine?" ulang Bara, ada rasa senang dihatinya. Pika mengangguk.
"Tadi kak Bara bilang restoran ini dibuat dengan konsep romantis, aku pengen liat apa saja kegiatan yang mereka buat di hari Valentine." desak Pika.
Bara menatap gadis di hadapannya dengan mata disipitkan.
"Jangan bilang itu hanya alasan. kamu ingin aku melamar kamu di sini pada hari Valentine kan?" goda Bara.
Pika tertawa.
"Kak Bara bisa aja." katanya ringan, meski begitu ia menyimpan rasa malu dalam hatinya.
"Bagaimana, Oke? Kak Bara mau ngajakin aku ke sini lagi?"
Setelah pura-pura berpikir-pikir sejenak, Bara mencondongkan tubuhnya ke depan.
'Oke, aku akan mengajak kamu kesini lagi," katanya.
"Dengan satu syarat."
__ADS_1
Alis Pika terangkat.
"Syarat?"
"Aku ingin kamu menemani aku ke konser amal salah satu teman kampus aku tanggal sepuluh nanti."
Pika tersenyum dan langsung mengangguk setuju. Itu doang, apalagi perginya sama kak Bara. Ia malah senang diajakin. Mereka berhenti mengobrol sebentar ketika sang pelayan datang membawa pesanan mereka.
***
"Kak Decklan, kak Decklan!" Chaby memukul-mukul pelan lengan Decklan. Matanya terus melihat ke hpnya. Decklan yang sejak tadi fokus membaca meliriknya. Kenapa sih. Matanya menangkap sosok Pika dan dan Bara yang membagikan moment mereka bersama di story wa Pika dalam ponsel Chaby. Kayaknya mereka ada di salah satu restoran Jepang terkenal. Decklan tahu tempat itu tapi belum pernah masuk.
Cowok itu tersenyum penuh arti. Boleh juga sih Bara, batinnya.
"Senang banget deh kalo ada yang ngajakin aku ke restoran kayak begini." gumam Chaby sengaja diperdengarkan ke Decklan.
Decklan tertawa kecil dan mencubit pipi gadis itu.
"Bilang aja langsung, nggak usah pake bahasa isyarat." ucapnya. Chaby menyengir lebar.
"ANDRA!" teriakan itu membuat Chaby dan Decklan sama-sama menatap ke cewek yang tiba-tiba muncul di taman rumah Andra itu.
Andra sendiri tidak dengar apa-apa karena ketiduran. Salah satu pembantu rumahnya mengikuti perempuan yang masuk dengan kasar dan tanpa permisi itu mencari-cari keberadaan Andra. Ekspresi sang pembantu tampak ketakutan.
"Non, den Andra pesan nggak boleh ada yang masuk rumah ini selain sahabat-sahabat dekatnya. Aku takut takut dimarahin non. Tolong keluar aja yah, saya mohon non." kata sang pembantu yang biasa dipanggil Andra dan yang lain mbak Sarni. Umurnya sekitar tiga puluhan tahun, sudah lama bekerja di rumah Andra.
Perempuan itu tidak menghiraukan permintaan mbak Sarni dan terus berjalan mendekat ke Andra yang sudah dilihatnya sedang tidur-tiduran. Ia tidak tahu kalau cowok itu benar-benar ketiduran. Namanya Prisa.
Prisa adalah salah satu gadis yang sempat dekat dengan Andra, yang cowok itu bilang matre itu. Wajahnya cukup cantik namun mukanya sangat jutek.
"Andra!" ia sudah sampai didepan Andra. Ketika melihat cowok itu memang sedang ketiduran, dengan kasarnya ia membangunkan Andra dengan kakinya.
"Bangun lo!" tukasnya kasar.
"Eh, kak Andranya kok digituin." ucap Chaby. Ia tidak senang melihat perlakuan kasar cewek yang tidak ia kenal itu ke Andra. Mbak Sarni menatap mereka dengan ekspresi memohon. Chaby pun tak mau tinggal diam dan bersiap-siap berdiri namun Decklan menahannya sambil menggeleng-geleng seolah memberitahunya untuk jangan melakukan apa-apa.
"Tapi dia kasar banget kak Decklan, harus ditegur." ucap Chaby menatap Decklan. Cowok itu mengusap-usap kepalanya kemudian berbisik ditelinga.
"Aku tahu, tapi biarin Andra yang nyelesain masalah mereka. Tuh Andranya udah bangun." bisik Decklan. Chaby menoleh kedepan lagi, melihat Andra sudah membuka matanya. Raut wajahnya terlihat tidak senang. Ia menatap mbak Sarni tajam.
"Siapa yang ijinin perempuan ini masuk?!" teriaknya marah. Mbak Sarni menunduk juga Chaby hanya diam. Ia belum pernah melihat Andra semarah ini.
__ADS_1