
"Kak Decklan!"
Decklan yang sudah siap-siap untuk meninju Karrel lagi terhenti ketika mendengar seruan Chaby. Ia balik menatap gadis itu dengan kilatan amarah dalam matanya. Ia belum pernah semarah ini sebelumnya. Ia marah karena gadis itu begitu senang bicara dengan cowok lain. Ia juga marah karena mereka tampak dekat. Dirinya terbakar cemburu.
"Karrel, kamu nggak apa-apa kan?" tangan Decklan mengepal kuat ketika gadis itu berhambur ke Karrel dan membantu cowok itu berdiri. Dengan sekali sentak ia langsung menarik gadis itu dengan kasar ke belakangnya. Ia sungguh tidak bisa berpikir jernih sekarang. Ia sudah lelah berpikir selama beberapa hari ini dan kejadian yang dilihatnya malam ini membuat pikirannya kacau lagi.
Karrel berdiri sendiri dengan sekuat tenaga. Ia menyeka sudut bibirnya yang berdarah akibat tonjokan kuat Decklan. Ia melihat Chaby mau mendekatinya lagi tapi cowok yang meninjunya secara tiba-tiba tadi terus menahan gadis itu. Karrel mendengus, ia ingat wajah itu. Jadi seperti ini tampang kakaknya Pika. Cowok itu memang terlihat sangat mendominasi, sesaat Karrel berpikir bahwa lelaki seperti itu mungkin lebih cocok bersama Chaby daripada dirinya. Kali ini Karrel melihat cowok itu berbalik menatap Chaby setelah lama menatap tajam ke dia.
"Kamu ngapain disini? Aku udah bilangkan kasih tahu aku kalo mau keluar sendiri? Apalagi ketemu cowok!" ada rasa khawatir dan marah yang bercampur dalam nada bicara Decklan. Chaby melongo menatap sang pacar. Ia makin merasa cowok itu makin aneh dan tidak jelas.
"Loh, kan kak Decklan yang nggak aktif-aktif dua hari ini. Aku terus-terusan telpon kak Decklan tapi nggak pernah masuk. Pika, kak Bara sama kak Andra bilang kak Decklan lagi sibuk sama ujian jadi aku takut gangguin. Lagian kak Decklan kenapa sih? Kok jadi aneh gini, marah-marah sama mukul orang sembarangan. Liat, teman aku babak belur karena kak Decklan tahu." balas Chaby panjang lebar. Ia juga sedang kesal pada cowok itu karena tidak aktif-aktif hpnya. Setelah ketemu, malah langsung nonjok Karrel. Padahal kak Decklan biasanya nanya dulu baik-baik, tapi hari ini emosi tuh cowok benar-benar tidak stabil. Chaby makin merasa ada yang aneh dari sang pacar.
Decklan tertawa keras ketika melihat Chaby melewatinya dan mendekat ke cowok yang sekarang sudah duduk di kursi lagi. Saat tangan Chaby terangkat mau menyentuh wajah Karrel Decklan kembali menarik kasar tangannya.
"Ikut aku pulang!" tukasnya menarik Chaby dengan paksa. Chaby berontak sekuat tenaga, memukul-mukul cowok itu sampai akhirnya sebuah map yang sejak tadi dipegang Decklan terbang melayang dan lembaran kertas dalam map itu jatuh berhamburan. Keduanya terdiam sebentar, orang-orang yang melewati tempat itu berjalan sambil berbisik-bisik karena pertengkaran mereka tadi yang mengundang perhatian. Karrel mendesah pelan lalu memilih berdiri masuk ke dalam apotik sebelah Indomaret, membeli beberapa obat luka dan lebam untuk mengobati wajahnya. Matanya terus memandang keluar pada pasangan di luar sana.
__ADS_1
Chaby melihat Decklan buru-buru mengambil lembaran-lembaram kertas yang berhamburan itu. Ia jadi penasaran kertas apa itu hingga kak Decklan terlihat kelabakan mengambilnya, seperti tidak ingin ia tahu. Saking penasarannya Chaby ikut memungut selembar kertas didekatnya dan terdiam seketika ketika membaca tulisan dalam kertas itu.
Decklan menutup matanya dalam-dalam. Chaby sudah membacanya sebelum dia menjelaskan.
"Universitas Cambridge?" pandangan Chaby lurus ke cowok itu. Decklan hanya diam tidak menjawab.
"Jadi beberapa hari ini kak Decklan cuekin aku terus karena sibuk mau pindah kuliah ke luar negeri?" Decklan menggeleng. Bukan seperti itu.
"A..aku bisa jelasin sayang." Decklan mendekat mengulurkan tangan ke wajah Chaby namun gadis itu menepisnya.
Chaby ingin menangis tapi ia berusaha menahannya. Ia sudah cukup dewasa tidak seperti dulu lagi yang sangat cengeng dan butuh orang lain membujuknya. Hati Decklan begitu sakit melihat kesedihan dalam mata Chaby. Ia sadar bahwa ia sudah salah besar dua hari ini. Harusnya ia tidak mematikan ponselnya dan menghindari Chaby. Harusnya..
"Pika sama yang lain udah tahu kan? Mereka bantu kak Decklan nutupin semua itu dari aku benar kan?" tanya Chaby lagi. Decklan lagi-lagi tidak menjawab. Namun Chaby menganggap keterdiamannya itu sudah mewakili jawabannya.
"Aku mau nenangin diri. Sebaiknya kak Decklan sama yang lain jangan temuin aku dulu."
__ADS_1
perkataan Chaby membuat Decklan menatap gadis itu lekat. Ia menggeleng tidak terima. Ya Tuhan, ia tidak bisa kalau Chaby bersikap cuek padanya seperti ini. Dirinya bisa gila.
"Chaby, please.. dengerin aku ngomong dulu. Hm?" Chaby tidak mengindahkan perkataan Decklan dan berbalik pergi. Decklan tidak membiarkannya, cowok itu cepat-cepat meraih tangan gadis itu dan memeluknya kuat-kuat. Ia tidak peduli orang-orang di jalan menonton mereka. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah Chaby tidak meninggalkan dia.
"K..kak Decklan.. le..p..asin." Chaby merasa kesulitan karena cowok itu memeluknya terlalu kuat dan tidak mau melepaskannya sedetikpun. Ia juga malu pada orang-orang yang terus menatap ke mereka.
"Janji dulu sama aku, maafin aku dan dengerin penjelasan aku." gumam cowok itu di leher Chaby.
"Nggak!" balas Chaby galak. Ia jelas masih kecewa berat sama cowok itu termasuk Pika dan yang lain.
"Chaby," suara Decklan terdengar frustasi, matanya menatap Chaby lekat-lekat. Tangannya masih setia melingkar di pinggang ramping Chaby, tidak berniat melepaskannya sedikitpun.
"Kamu pengen aku gimana biar kamu maafin aku sayang?" Chaby menahan senyumnya melihat wajah memelas Decklan untuk pertama kalinya. Menurutnya wajah Decklan sangat lucu dan nggak cocok banget menunjukan ekspresi manja kayak anak kecil begitu. Rasa marahnya entah kenapa langsung hilang karena melihat wajah Decklan.
"Sayang, hukum aku aja yah. Jangan ngomong nggak mau ketemu aku lagi, aku nggak bisa. Hm?" Decklan terus memaksa Chaby dengan nada manjanya ke gadis itu. Ia berusaha sekeras mungkin meski merasa jijik dengan dirinya sendiri. Seumur hidup ia tidak pernah bertingkah seperti itu. Tapi ia rela melakukannya didepan Chaby, untuk mendapatkan maaf dari gadis yang amat di cintainya itu.
__ADS_1