
Semua wanita hamil di dunia ini pasti menginginkan suami seperti Decklan. Chaby membatin. Lelaki itu selalu siap sedia. Menggenggam lengan Chaby dengan lembut ketika berjalan, Di pagi hari, ketika Chaby lari ke kamar mandi dan memuntahkan makanannya, Decklan menyusulnya, memijit tengkuknya dengan lembut, lalu melap wajahnya dengan handuk dan air hangat untuk membuatnya merasa lebih baik, ketika kembali ke kamarnya, di sana sudah tersedia teh dan biskuit asin untuk mengatasi rasa mualnya. Pun di malam harinya, ketika Chaby terbangun, merasakan haus, atau lapar, Decklan langsung terjaga, menuangkan air untuknya, atau mengupaskan apel untuk mengisi perutnya.
Dan setelah itu semua, Decklan akan memeluk Chaby di atas ranjang, mengusap punggungnya yang pegal dengan lembut, hingga Chaby tertidur dengan nyaman.
Kehamilan Chaby sudah mencapai usia sembilan bulan bulan. Tanpa terasa mereka menjalani kehidupan perkawinan dengan baik, tanpa ada percikan pertengkaran didalamnya. Memang sesekali mereka akan bertengkar kecil gara-gara hal kecil saja. Tapi lebih banyak Chaby yang suka marah-marah mungkin karena pengaruh kehamilannya. Namun suaminya sangat sabar dan terus menjaga Chaby dengan baik. Decklan amat sangat menjaga istrinya. Mereka saling menghargai, saling menghormati dan menjaga satu sama lain.
Juga putra sulung mereka, Arion sering membantu papanya menemani sang mama di masa kehamilannya. Chaby sudah tidak kekanakan seperti dulu. Sisi keibuannya makin terlihat. Decklan dan keluarganya bisa melihat perubahan Chaby dari cara gadis itu merawat Arion. Bahkan di saat-saat hamil, Chaby tidak membiarkan Arion diurus oleh mertuanya sendirian. Dia tidak mau Arion merasa orangtuanya tidak mempedulikannya. Jadi sebisa mungkin Chaby akan memperhatikan putranya tersebut. Lihat saja kedekatan mereka sekarang. Hubungan Arion dan kedua orangtuanya sangat dekat.
Decklan memposisikan dirinya sebagai penjaga dan perawat Chaby. Pelukannya di malam hari selama tiga bulan terakhir ini pun tidak mengandung unsur sensual, hanya dilakukannya untuk membuat Chaby merasa nyaman. Mengingat usia kehamilan Chaby makin bertambah. Tidak ada sentuhan penuh gairah, tatapan membara ataupun bisikan serak bernada sensual. Decklan benar-benar menahan dirinya, menunggu sampai Chaby melahirkan baru menyelesaikan seluruh gairahnya yang tertahan selama berbulan-bulan ini.
Pernah di suatu malam, ketika Decklan memeluk Chaby, bayinya menendang untuk pertama kalinya, mendesak Decklan, membuat lelaki itu memandang Chaby dengan takjub. Jemari mereka saling bertumpukan di perut Chaby, merasakan momen menakjubkan sebagai orangtua. Decklan sempat sedih karena waktu Chaby hamil Arion dirinya tidak ada. Namun sekarang ia senang karena kehamilan Chaby yang kedua ini dirinya ada bersama-sama sang istri.
Mengingat malam itu, mata Decklan berkaca-kaca, dan lelaki itu mengecup bibir Chaby lembut, penuh emosi. Setelah itu Decklan memeluk Chaby seperti biasa sampai tertidur. Chaby bisa melihat dengan jelas kasih sayang Decklan untuknya. Bisa merasakan ketulusan lelaki itu untuknya. Jauh di dalam hatinya, dia sangat mencintai suaminya.
__ADS_1
Chaby mengelus perutnya yang membesar, dan tersenyum. Bayi ini sudah akan lahir. Anak kedua mereka akan lahir dalam waktu dekat, dan Chaby tidak sabar menanti untuk merengkuh bayi itu ke dalam pelukannya.
***
"Jangan angkat itu Chaby!" Decklan meraih keranjang buah kecil yang dibawa Chaby dengan cekatan,
"Duduk di sana saja sayang. Nggak usah bantu apa-apa. Biar mama aja yang beresin semuanya." kata Dekclan sambil berdiri di sana dan berkacak pinggang, Decklan benar-benar tampak seperti seorang arogan yang suka memerintah-merintah orang, membuat Chaby cemberut.
"Kak Decklan, aku masih bisa kok bantu-bantu sedikit. Badanku juga sudah pegal karena terus duduk seharian."
"Duduk Chaby. Nanti malam aku pijit lagi kaki kamu ya." perintah Decklan lagi. Kali ini nadanya melembut.
Decklan tidak pernah lupa memijit kaki Chaby setiap malam, dengan minyak essensial yang lembut, membantu Chaby menghilangkan pegal-pegalnya karena harus membawa-bawa kandungannya yang semakin membesar. Decklan juga tidak lupa membantu mengoleskan minyal zaitun ke perut Chaby yang semakin membuncit setiap malamnya.
__ADS_1
Hari ini mereka sedang menyiapkan kamar bayi. Kamar bayi itu terletak tepat di sebelah kamar Chaby dan Decklan dengan pintu tembus yang dekat dengan ranjang. Decklan sudah menyiapkan kamar bayi itu sejak tiga bulan lalu.
Mendekorasi, mengganti cat dinding dan wallpapernya dengan nuansa pink lembut. Karena hasil USG menunjukkan kalau bayi mereka perempuan dan menyiapkan perabotannya.
Tadi pagi, perabot terakhir dan yang paling penting datang, sebuah ranjang bayi. Dari gambar kotaknya, ranjang itu indah, berwarna putih dan tempat tidur mungil dengan nuansa pink. Chaby bisa membayangkan bayinya berbaring di sana seperti boneka mungkil yang terlelap dalam kedamaian.
Decklan merakit ranjang bayinya sendiri dengan bersemangat, sibuk sendiri di dalam kamar bayi itu. Sementara itu tante Lily dan Pika datang membawa berbagai macam boneka hadiahnya, semuanya bernuansa pink dan mengaturnya di kamar, membuat kamar bayi itu tampak benar-benar seperti kamar bayi.
"Sudah jadi, ayo lihat sayang." Decklan mengajak Chaby berdiri dengan hati-hati, nada suaranya sangat bersemangat, Chaby berjalan dengan Decklan di belakangnya. Langkahnya terhenti di ambang pintu, dan terpesona. Kamar bayi itu sudah siap, begitu indah dan cantik seolah tidak sabar menunggu sang bayi yang akan lahir. Satu-satunya yang kurang dari kamar itu adalah
bayi itu sendiri.
"Cantikkan? Decklan berbisik, berdiri tepat di belakang Chaby dan melingkarkan lengannya dengan lembut di perut istrinya yang buncit, menyandarkan tubuh Chaby ke dadanya, dagunya bertumpu di puncak kepala Chaby.
__ADS_1
Chaby menikmati momen indah itu, membiarkan Decklan merangkul tubuhnya makin erat, Mereka berpelukan dalam keheningan, mengagumi keindahan kamar bayi mereka. Adik perempuan Arion.
Pika dan mamanya yang ada di sana saling berpandangan bahagia. Menatap kedua pasangan itu dari kejauhan dengan rasa haru. Tante lily ingat dulu, ia berpikir seorang laki-laki tak tersentuh seperti putra sulungnya ini mungkin tidak akan pernah menyukai perempuan. Namun tidak disangka-sangka dia yang paling cepat menikah dan begitu harmonis dengan sang istri. Meski ada pertengkaran sedikit-sedikit, mereka tetap begitu menggemaskan. Wanita tua itu senang sekali karena Decklan menemukan perempuan seperti Chaby yang bisa meluluhkan hati es lelaki itu. Ia juga berterimakasih pada menantu perempuannya tersebut yang telah hadir dalam keluarganya. Sungguh sangat membahagiakan.