
Pika terbangun pagi-pagi sekali dan masih merasa sakit dibagian bawanya yang baru di robek semalam oleh suaminya tersebut. Ia merasakan tubuh polosnya tengah dipeluk oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Bara, suaminya. Pika tersenyum senang saat menyebut suami dalam hatinya. Dia sangat senang. Akhirnya hari ini datang juga setelah sekian lama dia menunggu.
Pandangannya turun ke bawah, pada Bara yang masih tertidur pulas dengan tangan yang setia melingkar ditubuhnya. Tangannya lalu mengelus pelan rambut suaminya penuh sayang. Pasti kak Bara masih kelelahan. Yah, pertempuran mereka semalam sangat panas dan lama. Dan... Entah berapa banyak ronde Pika tidak ingat lagi. Yang pasti dia masih ingat setiap jengkal tangan Bara ketika lelaki itu menyentuh tubuhnya di setiap titik-titik yang amat sensitif, dan mulutnya yang bermain dengan lincah di sana. Sungguh, mengingat itu membuatnya semakin menggila. Ternyata bercinta memang seenak itu, apalagi dengan laki-laki yang dia cintai.
Gadis itu kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan melihat cincin yang terpampang indah di jari manisnya. Cincin kawin yang sangat indah, dia tidak akan pernah melepaskannya. Bahkan saat mandi sekali pun.
"Aargh..." Pika memekik kaget ketika merasakan sesuatu kembali masuk di antara pahanya. Bara kembali menindihnya, tanpa memberinya persiapan. Jelaslah dia kaget. Apalagi dia masih harus menyesuaikan diri lagi dengan benda besar itu.
"K..kak Bara..ahh.." Pika berusaha mendorong Bara tapi laki-laki itu terus menggempurnya tanpa ampun. Dengan sentakan kasar, lebih kasar dari semalam, membuatnya pasrah saja dibawah kungkungan suaminya dan ikut menikmati pertempuran panas tersebut.
__ADS_1
Mereka melakukannya tiga ronde pagi ini. Sebenarnya Bara masih mau menambah satu ronde lagi, tapi Pika sudah tidak sanggup. Ia memohon pada pria itu agar melanjutkannya nanti. Akhirnya Bara dengan berat hati mengiyakan meski pria itu masih mau.
"Padahal lagi napsu-napsunya loh." ujar Bara sambil mengerucutkan wajah. Pika tertawa.
"Tahan dulu kak Bara, kan masih banyak waktu." katanya lalu bangkit masuk ke kamar mandi. Ia harus menyiapkan sarapan pagi buat mereka karena dirinya sendiri juga sudah merasa lapar. Semalam dirinya tidak sempat makan saking terlalu gugupnya dengan malam pertama yang akan dia lewati. Jelaslah pagi ini dirinya merasa lapar.
***
Setelah mengunjungi mama Bara di rumah sakit, keduanya berkumpul di rumah orangtua Pika. Keduanya diledek habis-habisan oleh tante Lily dan Chaby yang menambah-nambahkan.
__ADS_1
"Jadi gimana nih, udah ditempurkan Pikanya Bar? Berarti bentar lagi cucu mama nambah lagi dong." goda tante Lily membuat wajah Pika memerah.
"Mama bisa aja deh." gumam Pika malu-malu. Wajahnya memerah.
"Pengalaman gue sih, lo harus berusaha keras dari segala sisi biar cepet dapat anaknya. Iya nggak sayang?" timpal Decklan ikut-ikutan sambil merangkul Chaby disisinya. Pandangannya fokus ke Bara. Pria itu langsung terbatuk-batuk. Astaga, sepertinya mereka sudah salah datang ke sini. Orang-orang ini benar-benar berhasil menggoda dirinya dan Pika. Kalau sudah begini, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Pik, kamu pengennya anak berapa?" giliran Chaby yang bertanya. Pika menanggapinya dengan serius sambil berpikir-pikir. Yang lain ikut menunggu jawabannya, termasuk Bara. Malah pria itu yang lebih penting untuk tahu. Kan yang akan menabur benih ke rahim Pika dia.
"Mmph... Berapapun kalau di kasih berkat sama Tuhan, aku senang banget By." jawab Pika.
__ADS_1
"Tuh denger, Pika aja nggak banyak ngomel. Kamu, baru aku mintain tujuh anak aja langsung ngomel-ngomel." sela Decklan melirik Chaby. Giliran Chaby sekarang yang malu. Lalu terdengar suara tawa mereka yang menggema di seluruh ruangan itu.
Gatan dan Arion yang tengah asyik menonton diruang nonton hanya kebingungan dari tempat mereka. Mereka tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan orang-orang dewasa itu sampai tertawa terbahak-bahak begitu.