GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 36


__ADS_3

Chaby menatap Pika dengan ekspresi ingin tahu apa alasan Gatan nggak bisa makan pesanan online.


"Gatan sering sakit perut kalo makan makanan dari luar." jawab Pika. Ia sendiri heran kenapa adiknya itu tidak bisa makan sembarangan. Padahal menurutnya bumbu makanan yang di pakai mamanya sama saja. Eh, atau beda yah? begitu deh pokoknya.


Chaby ikut-ikutan menghembuskan nafas panjang. Ia lalu duduk di sebelah Pika.


"Terus gimana dong? Gatan kan udah pengen makan." cewek itu melirik anak kecil di dekat mereka yang matanya mulai berkaca-kaca.


"Gatan jangan nangis dong, ini kak Pika sama kak Chaby lagi cari jalan keluarnya." bujuk Pika. Kalau adiknya itu sampai nangis urusannya bisa panjang. Bujuknya susah banget. Pokoknya jangan sampai deh. Bisa ribet nanti.


"Tapi Gatan udah pengen makan kak." balas bocah itu lagi.


Pika berdecak


"Iya, kakak tahu. Tunggu bentar yah." bujuknya lagi.


"Kak Decklan emang nggak bisa?" tanya Chaby yang tiba-tiba teringat kakak kelasnya itu.


Pika menatapnya malas.


"Kalo kakak gue ada, gue nggak bakal maksa lo dateng." sahutnya.


Iya juga. Chaby tersenyum lebar. Mereka kembali sibuk memikirkan ide.


"Gimana kalo kita coba bikin sendiri? aku sering liat kak Danzel ngupasin bumbu-bumbunya."


Pika menatap Chaby. Bisa juga sih.


"Kalo Gatan sakit perut gimana?" ia masih belum yakin.


"Entar kalo udah jadi aku yang tes makan dulu. Kalo aku nggak sakit perut, pasti Gatan juga nggak bakal sakit perut." kata Chaby percaya diri.


Pika menimbang-nimbang


"Gimana? Mau tes nggak?" seru Chaby semangat.


Pika masih ragu. Ia melirik Gatan sebentar lalu akhirnya mengangguk pasrah. Daripada tuh bocah nangis.


"Lo yang bikin tapi, gue temenin aja." katanya menatap Chaby. Cewek itu setuju-setuju aja.


                                ***


Hampir sejam Chaby terus sibuk memotong-motong bumbu nasi gorengnya. Pika yang hanya jadi penonton sejak tadi berhenti menertawai temannya itu. Chaby terlihat serius dengan pekerjaannya, sudah seperti chef-chef beneran aja, padahal semua yang dia lakukan sejak tadi belum ada hasilnya.


Yahkan, mana ada orang yang ngupasin  bumbu hampir sejam. Padahal cuma bumbu buat nasi goreng doang.


"Ckckck, sini gue aja." ucap Pika mengambil alih pisau di tangan Chaby.

__ADS_1


"Gue yang bikin bumbunya, nanti lo yang goreng nasinya." tambahnya. Chaby mengangguk sambil menyeka keringat di dahinya. Ia tidak tahu kalau goreng nasi saja bisa seribet ini, padahal kakaknya terlihat santai-santai saat saat memasak.


Cewek itu berpindah menyalahkan kompor dan memanaskan minyak. Pika hampir selesai kupas  bumbunya.


Kening Chaby terangkat, ia tidak tahu berapa banyak minyak yang harus dimasukan kedalam panci. Ia melihat ke beras yang terletak didekatnya. Setelah berpikir sebentar, ia memilih memasukan sebotol minyak goreng kedalam panci.


"Udah bumbunya. Lo goreng gih nasinya, gue mau liat adek gue bentar."


Pika meletakkan bumbu yang sudah selesai dikupasnya itu diatas meja dekat kompor. Chaby mengangguk dan mulai menyibukkan dirinya. Ketika minyak yang ditaruhnya tadi sudah panas, ia mengambil satu liter beras dan dimasukan ke panci tanpa dicuci, kemudian gadis itu dengan percaya dirinya menaruh bumbu yang telah dikupas Pika tadi bersamaan dengan air segelas dan dimasukan kedalam panci.


"ARGH!"


Gadis itu kaget bukan main ketika panci diatas kompor itu mengeluarkan api. Ia tiba-tiba merasakan sebuah tangan kekar menahan tubuhnya dari belakang, dan cepat-cepat mematikan kompor.


Chaby menghembuskan nafas lega ketika api yang dilihatnya tadi keluar dari dalam panci itu sudah tidak ada. Tangannya menyapu-nyapu dadanya. Hampir saja ia jantungan. Kok bisa begitu yah?


Ketika mengangkat wajah, ia melihat Decklan sedang menatapnya tajam. Wajah cowok itu terlihat marah.


"LO MAU MATI?"


Perkataan kasar itu membuat Chaby tersentak. Ia tidak mengerti kenapa cowok itu semarah itu. Gadis itu membisu tidak tahu mau balas apa, ia memilih untuk menunduk.


"Decklan, Chaby, kenapa?"


Tante Lily muncul di dapur bareng Pika, mama mereka itu baru sampai belum lama setelah Decklan. Mereka sempat mendengar teriakan kuat cowok itu dan cepat-cepat berlari ke dapur. Mereka menatap bingung  kedua orang itu. Posisi Chaby menunduk didepan Decklan dan cowok itu menatapnya dengan raut wajah emosi.


Pika takut mendekati kakaknya kalau tuh cowok sudah marah kayak begitu. Ia memilih melewati mereka dan memeriksa kalau Chaby berhasil bikin nasi goreng atau tidak.


Gadis itu membelalakkan matanya saat melihat isi dalam panci.


"Lo bikin nasi goreng pake beras dan minyak sebanyak ini?" ia menatap Chaby ingin tertawa tapi tidak jadi karena aura iblis Decklan begitu kuat mendominasi ruangan itu.


Mama mereka ikut mendekat ke kompor melihat hasil karya Chaby kemudian menatap cewek itu lagi.


"Chaby nanti kalau mau belajar masak nasi goreng tunggu tante aja yah." ucap tante Lily tersenyum.


"Dia nggak boleh masak!" tukas Decklan ketus lalu memilih keluar tanpa melihat mereka. Ia tidak tahu kenapa dirinya sangat marah, tapi kejadian tadi sungguh membuatnya begitu takut kehilangan gadis itu.


Setelah kepergian Decklan, Pika mendekati Chaby yang tampak sedih karena dimarahi cowok itu. Tante Lily malah tersenyum penuh arti. Tampaknya anak sulungnya itu sedang jatuh cinta rupanya.


"Ceritain kenapa kak Decklan marah." tuntut Pika penasaran.


Chaby mengangkat bahu. Ia juga tidak tahu.


"Tadi aku masukin bumbu sama air saat minyaknya udah panas, terus keluar api. Kak Decklan tiba-tiba muncul matiin kompor terus teriak marah-marah ke aku." Chaby menjelaskan sambil mengerucutkan bibirnya.


Pika malah bertepuk tangan kagum menatap gadis itu.

__ADS_1


"Wow, lo bener-bener harus di kasih rekor muri sebagai satu-satunya cewek yang masak nasi goreng pake beras sama air."


Walau Pika tidak bisa masak, ia tahu nasi goreng itu dimasak pake beras yang sudah jadi nasi. Dirinya juga tahu kalau minyak panas tidak boleh di campur dengan air, itukan pelajaran SD. Pantes aja kak Decklan marah besar.


"Benarkan?" Chaby masih bertanya polos membuat Pika dan mamanya saling menatap lalu menertawai gadis itu.


"Nanti lo tanya sendiri sama kakak lo kalo pulang, sekarang minta maaf ke kak Decklan gih, dia marah tadi itu karena khawatir sama lo." kata Pika lagi sambil membalikan tubuh Chaby keluar.


"Tapi,"


"Chaby ke kamar Decklan aja minta maaf yah, biar tante yang lanjutin bikin nasi gorengnya." tante Lily menambahkan.


Perasaan Chaby masih berat. Ia masih takut, bagaimana kalau ia dimarahi lagi.


"Gimana kalo kak Decklan bentak aku lagi?"


"Nggak, percaya sama aku deh. Pergi sana." Pika mendorong Chaby lagi. Ia ingin memberi mereka kesempatan berdua. Bisa saja kan kak Decklan malah menembak Chaby. Dia bakalan senang banget kalau sampai itu benar-benar terjadi.


                                  ***


Setelah mengumpulkan semua keberaniannya Chaby menaiki tangga ke lantai atas. Ia berhenti didepan kamar Decklan. Kamar yang pernah ia masuki waktu pertama kali datang ke rumah itu.


Ia berhenti sebentar didepan pintu, mengatur nafasnya lalu mengetuk.


"K..kak Decklan."


Panggilnya pelan.


Tak ada jawaban, ia mengetuk lagi.


"Kak Decklan."


Kali ini ia menambahkan volume suaranya tapi tetap tak ada jawaban.


Gadis itu berpikir sejenak. Apa dia masuk saja?


Tangannya terangkat ke handle pintu dan membukanya pelan.


Tidak dikunci, batinnya.


Ia masuk perlahan dan mengendap-endap seperti pencuri. Matanya mencari-cari keberadaan Decklan.


"Kak Decklan," suaranya sangat pelan.


Ia menatap ke balkon tapi cowok itu tidak ada. Dahinya berkerut, kak Decklan kemana sih.


Pandangannya beralih ke ruangan lain dalam kamar itu. Sepertinya itu kamar mandi. Gadis itu melangkah pelan keruangan itu. Ketika tangannya terangkat mau membuka pintu, pintu itu sudah terbuka lebih dulu membuatnya terjulur kedepan dan terjatuh menindih cowok bertubuh kekar itu.

__ADS_1


__ADS_2