GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 71


__ADS_3

Chaby menatap wajahnya di cermin. Sudah lebih dari satu bulan pasca dia melahirkan Arin dan dia merasa tubuhnya jauh lebih gemuk dari biasanya. Ia baru selesai menyusui Arin dan kini dirinya tidak berhenti-berhenti mengamati tubuhnya di cermin besar dalam kamar mereka. Arin baru saja tertidur.


Chaby sedikit tidak pede dengan badannya yang entah naik berapa kilogram itu. Di saat dirinya fokus mengamati dirinya sendiri, sosok Decklan muncul dan memeluk perutnya dari belakang. Pria itu membenamkan kepalanya di ceruk leher sang istri.


"Lagi ngapain?" Decklan berbisik. Ia baru saja pulang kerja dan cepat-cepat masuk ke kamar untuk menemui sang istri dan anak. Chaby menatap suaminya dari balik kaca.


"Aku lagi liat badan aku. Masih gemuk aja." ucap Chaby merasa keberatan dengan berat badannya yang naik. Decklan ikut mengamati tubuh istrinya. Dimatanya, Chaby tetap cantik. Tidak ada yang berubah sama sekali.


"Tetep cantik kok. Aku tetap cinta. Arin udah tidur?" tanyanya lagi. Matanya menengok ke bagian kiri kamar bayi mereka. Decklan melepaskan pelukannya sebentar dan berbalik ingin menengok puterinya. Arin sedang tertidur pulas dibalik selimut pinknya. Decklan menggenggam jemari Arin dengan sangat lembut dan mengecup bayi cantik itu kemudian berbalik masuk ke kamar mereka yang hanya berjarak kira-kira tiga meter dari kamar Arin yang terpisahkan dengan dinding kaca. Pria itu sengaja merancang kamar putri mereka seperti itu biar mereka terus bisa mengamati pergerakan Arin dari kamar mereka.


"Anak cinta sangat cantik, seperti ibunya." Decklan memberikan pujiannya, lalu mengecup leher Chaby dari belakang. Ia sudah kembali memeluk istrinya.


"Hmmmm kamu sangat harum sayang, aroma bedak bayi..." bisik Decklan mesra. Chaby tertawa. Bekas memandikan Arin telah meninggalkan aroma khas bayi ditubuhnya, dengan manja dia membalikkan tubuhnya dan mendongakkan kepalanya, lalu menatap Decklan menggoda.

__ADS_1


"Mau tidur? Maksud aku tidur yang itu..." Decklan mengernyitkan keningnya, menatap Chaby dengan ragu.


"Memangnya kamu sudah bisa?" Decklan belum pernah menyentuh Chaby sejak hampir lima atau enam bulan ini. Karena Chaby hamil besar dan pasca melahirkan juga, pria itu masih harus menahan diri sampai istrinya itu sudah bisa melayaninya lagi.


Sampai kemarin Decklan hanya bisa meminta Chaby memanjakan tubuhnya dengan mulut dan tangan gadis itu, belum berani memasukinya. Decklan merasa belum bisa bercinta dengan isterinya karena Chaby masih dalam masa pemulihan setelah melahirkan.


Oh. Jangan ditanya betapa beratnya perjuangan Decklan beberapa bulan ini. Tubuhnya selalu bergairah, apalagi Chaby yang terus ada bersamanya. Kejantanannya selalu menegang keras, seperti sekarang, merindukan kenikmatan murni ketika dia membenamkan diri di tubuh isterinya yang manis. Dan ketika melihat isterinya itu menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan persetujuan untuk bercinta, Darah Decklan langsung menggelegak penuh gairah.


Tatapannya berubah membara, kemudian di angkatnya Chaby dengan lembut kemudian dibaringkannya Chaby di tempat tidur dan ditindihnya, tangannya menumpu tubuhnya sehingga tidak membebankan berat tubuhnya di tubuh Chaby, wajah mereka berhadapan.


"Aku sudah terlalu lama menahan gairahku padamu, mungkin aku akan langsung meledak begitu memasukimu." Decklan sudah siap. Kejantanannya sudah menonjol keras di balik celananya, menggesek Chaby dengan menggoda ketika dia bergerak.


Jemari Decklan menurunkan pakaian sang istri satu persatu dengan lembut. Memuja tubuh isterinya yang semakin montok dan berisi setelah melahirkan, membuat darahnya menggelegak. Decklan menghindari untuk menyentuh payudara Chaby yang ranum, tahu bahwa payudara itu begitu sensitif karena menyimpan susu untuk puteri mereka. Mereka saling menelanjangi dengan cepat, dan Decklan mendesakkan tubuhnya pelan, menyentuh kewanitaan Chaby dengan kejantanannya dan menggodanya. Tetapi lelaki itu masih sempat menatap Chaby dan berbisik parau.

__ADS_1


"Benar udah nggak apa-apa?" suaranya serak oleh gairah tertahan, tetapi Decklan menahan diri, takut menyakiti isterinya. Jawaban Chaby berupa senyuman lembut, jemarinya naik dan mengelus rambut Decklan, lalu turun, mengusap pundak dan dada Decklan yang keras dan telanjang, membuat lelaki itu mengerang.


Dan ketika Chaby menggerakkan pinggulnya menggoda, Decklan tidak dapat menahan diri lagi, sambil mengerang keras, menyebut nama isterinya, dia mendesakkan diri, memasuki tubuh Chaby. Awalnya memang sedikit susah, mengingat mereka lama tidak bercinta. Tetapi Decklan menggoda Chaby dengan dorongan-dorongan pelan sambil mencumbu isterinya, menciumnya dimana saja, menggoda telinganya yang sensitif, sehingga Chaby semakin membuka dirinya, membiarkan suaminya memasukinya sepenuhnya. Kakinya melingkari pinggul suaminya, erat dan membuka sepenuhnya, menyerahkan dirinya kepada suaminya. Setelah itu Decklan tidak dapat menahan dirinya lagi, dia menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang begairah, membawa Chaby menuju puncak kenikmatannya. Pelepasan pertamanya setelah sekian lama yang luar biasa nikmatnya.


Mereka berbaring berpelukan dalam kepuasan yang dalam, seperti saat-saat bercinta mereka dulu.


"Rasanya sangat nikmat..." Decklan mengelus paha isterinya dengan menggoda, lalu menyentuh kewanitaannya.


"Di sini bahkan terasa begitu rapat, sampai-sampai aku tidak bisa menahan diri."


"Mmph... ahh..." Chaby mengerang karena gerakan-gerakan Decklan yang intim itu. Pahanya membuka, membiarkan suaminya mencumbunya dengan jemarinya. Kejantanan Decklan masuk lagi, padahal baru beberapa menit setelah mereka merasakan puncak kenikmatan bersama. Chaby mendongak dan mendapati Decklan menatapnya dengan intens dan bergairah, bibirnya membuka. Membuat Decklan tidak bisa menahan diri untuk melum*tnya. Mereka berciuman dengan jemari Decklan masih bermain di pusat kewanitaan Chaby, memainkan titik sensitif disana dengan begitu ahli, membuat Chaby terengah dalam kenikmatan, dalam lum*tan bibirnya dengan Decklan.


Permainan jari Decklan sungguh membuat Chaby menggila. Semakin lama semakin cepat, dengan gesekan memutar yang menggoda, menyentuh dan mengabsen setiap titik dengan elusan dan sentuhan yang tepat. Kenikmatan itu membakar Chaby. Gerakan jemari Decklan makin cepat dan bergairah dalam tubuhnya, hingga Chaby hampir mencapai puncaknya, hampir sampai....Dan di titik yang tepat, Decklan melepaskan jemarinya, membuat Chaby mengerang karena protes, dihentikan ketika dia sudah hampir mencapai puncak pelepasannya? Yang benar saja.

__ADS_1


"Aku akan membuatmu mencapai puncak dengan milikku sayang." Decklan tersenyum lembut. Lalu dengan sekali sentak miliknya sudah masuk dan bergerak cepat didalam Chaby.


"Ohh..k..kak Decklan..." Chaby memekik kuat karena rasa nikmat. Decklan menekankan dirinya dalam-dalam ke tubuh Chaby. Napas mereka terengah-engah saat kembali merasakan pelepasan yang begitu luar biasa.


__ADS_2