GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 28


__ADS_3

"Sekolah?" mata Chaby memandang sekeliling ke siswa-siswi yang sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing. Mereka sekarang berada di kantin sekolah, tempat ketiganya pernah bersekolah dulu. Meski Chaby dan Pika tidak lulus dari sekolah itu karena insiden yang membuat keduanya pindah sebelum lulus, tempat itu juga merupakan tempat yang pernah menjadi kenangan bagi mereka. Karena sekolah ini adalah tempat pertama mereka semua bertemu dan perlahan menjadi akrab. Banyak kenangan manis yang mereka lewati di sekolah itu.


Andra memang sudah berdiskusi dengan Decklan sebelum datang ke tempat ini. Mereka sengaja membawa Chaby ke sekolah ini untuk membantunya mengingat masa lalu. Mungkin saja cara ini bisa membuat Chaby perlahan-lahan mengingat kenangannya yang hilang.


"Kamu ingat sekolah ini?" tanya Andra. Decklan yang duduk di sebelah Chaby ikut menatap sang istri menunggu jawaban. Mungkin saja ada keajaiban istrinya bisa ingat. Sayangnya wajah Chaby malah terlihat sebal. Decklan dan Andra saling berpandangan bingung. Sesaat kemudian mereka mendengar gadis itu mulai mengomel.


"Aku tuh tadi udah mikir tinggi banget mau dibawa ke restoran mahal. Eh tahu-tahunya makannya di kantin sekolah. Udah gitu kantin  sekolahnya sesak gini lagi. Emangnya kalian para dokter nggak ada modal apa? Ngajak makan perempuan anggun kayak aku kok di tempat beginian. Bikin malu banget. Emang nggak malu nanti kalian di gosipin sama orang-orang? Kalau aku sih malu." celetuk Chaby panjang lebar. Perkataanya sukses membuat Decklan dan Andra melongo. Beberapa murid SMA yang duduk tak jauh dari situ terlihat berbisik-bisik sambil menatap mereka, bahkan ada yang menertawai mereka. Andra menghembuskan nafas panjang. Padahal niat hatinya sudah baik mengajak Chaby ke tempat yang penuh dengan nostalgia masa muda mereka ini. Tapi hasilnya malah mereka di omeli panjang lebar oleh istri tercintanya Decklan ini.


"Emang di sini rekomendasi makanan enaknya apaan?" tanya Chaby lagi menatap kedua pria dewasa itu  bergantian. Decklan yang merasa tidak tahan dengan celotehan istrinya sejak tadi itu mencubit pipi tembem sang istri kuat-kuat.


"Kamu tuh ya, cerewet banget dari tadi. Nurut aja kenapa sih." ujar Decklan gemas.

__ADS_1


"Lepasin...kak.. Deck.."


"Janji dulu, masih mau ngomel atau diam nunggu pesanannya?" Chaby tidak menjawab. Kan suka-suka dia dong kalau mau ngasih pendapat. Hak-hak dia juga.


"Kalo nggak mau janji, aku cium bibir kamu didepan umum biar diliat orang sekalian." kali ini suaminya itu mulai mengeluarkan ancaman. Dari dulu Decklan tahu Chaby akan menurut kalau sudah di ancam. Liat saja, kalimat ancaman yang keluar dari mulutnya berhasil membuat Chaby menganggukkan kepala. Decklan tertawa kecil, tidak ada yang berubah dari istrinya itu selain ingatannya yang hilang dan kepedeannya yang makin bertambah. Andra menaikkan jempol ke sahabatnya itu. Memang cuma Decklan yang dari dulu bisa membuat Chaby yang lagi kumat begitu menjadi penurut. Decklan menurunkan tangannya dari pipi Chaby. Gadis itu mendelik tajam padanya dan bersiap-siap mau bicara lagi.


"Beraninya ngancem.."


"Mau aku cium sekarang, hm?" mulut Chaby kembali tertutup rapat. Ia merasa kesal dan tidak berkutik. Dasar suami nyebelin. Beraninya ngancem. Sementara Andra terus senyum-senyum melihat Chaby yang tidak berdaya berada dibawah kekuasaan Decklan. Ia sungguh menikmati tontonan siang ini.


"Kok nasi kuning sih, aku kan pengen makan..." tatapan tajam Decklan membuatnya berhenti mengeluh lagi.

__ADS_1


"Iya-iya, aku makan yang ini aja puas?" katanya sebal lalu mulai mengunyah makanannya dengan kasar.


"Pelan-pelan makannya sayang," ujar Decklan terdengar lembut namun penuh penekanan. Terpaksa Chaby menurut lagi, meski dalam hati ia sudah menyiapkan rencana untuk membalas suaminya itu. Jangan harap pria itu akan dapat jatah malam ini.


Andra sendiri sudah mati-matian menahan tawa karena kelakuan pasangan suami istri itu. Kayak sinetron aja mereka. Coba deh kalau dia punya pasangan yang sifatnya kayak Chaby ini, pasti rame kalau dua karakter yang sama bertemu dan melakukan tingkah konyol mereka bersama. Sayangnya itu tidak mungkin bukan?


Tapi, menurutnya Decklan adalah pria yang sangat cocok buat ibu satu anak itu. Sifat keduanya memang sangat bertolak belakang, tapi Decklan dan Chaby bisa saling melengkapi satu sama lain. Di waktu-waktu tertentu, keduanya juga bisa melakukan hal yang konyol bersamaan. Andra jadi merindukan kebersamaan mereka yang dulu. Pika dan Bara keduanya sama-sama sibuk, ia belum mendapatkan waktu yang pas untuk mengumpulkan mereka bersama. Padahal pasti seru kalau mereka semua lengkap seperti dulu. Ah, pokoknya dia harus mencari waktu kosong untuk mereka berkumpul secara lengkap lagi.


Habis makan, ketiganya berjalan-jalan dibelakang sekolah. Chaby memilih berjalan disebelah Andra karena masih kesal pada suaminya. Mereka berhenti tepat di tempat pertama Decklan dan Chaby bertemu untuk pertama kalinya.


"Lihat, kamu ingat tembok itu?" tunjuk Decklan pada tembok yang dulunya tubuh Chaby pernah menggelantung diatas sana dengan wajah takutnya karena tidak bisa turun. Chaby dan Andra melirik ke arah yang di tunjuk Decklan bersamaan. Chaby menarik nafas malas.

__ADS_1


"Mau ingat gimana coba, situ lupa kalau saya masih amnesia?" ketus Chaby melirik Decklan sesaat lalu membuang muka. Decklan terkekeh. Biarkan saja istrinya itu. Sifatnya memang begitu kalau masih kesal. Tapi dia selalu tahu bagaimana membujuknya. Tapi sekarang ia belum berniat membujuk sang istri.


"Dulu kamu tersangkut di atas sana. Aku yang bantu kamu turun. Hari itu adalah hari pertama kita ketemu. Aku ingat waktu itu wajah kamu sangat lucu karena ketakutan." jelas Decklan tak lupa menunjukkan tawa meledeknya. Jelas saja Chaby mendelik tajam ke pria itu. Ia tidak percaya dengan perkataan itu, tapi setelah mendengar ucapan suaminya, malah ada bayangan yang datang dengan samar-samar dalam pikirannya. Apa ini? Ia menatap tembok kokoh didepan sana. Kalau cerita suaminya benar, terus bagaimana caranya dia naik di atas sana? Apa dulu dia jago manjat?


__ADS_2