GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 18


__ADS_3

Selesai membereskan barang-barang belanjaan, tante Lily menyiapkan makan malam. Makan malam kali ini keluarga mereka lengkap. Papa mereka, sebagai kepala keluarga memutuskan pulang cepat karena ingin melihat cucunya. Tidak seperti beberapa tahun ini ketika Chaby masih hilang.


Beberapa tahun ini mereka memang jarang sekali makan malam bersama Decklan. Karena lelaki itu sibuk mengurung diri dalam kamarnya. Kalau keluar pun, itu karena urusan pekerjaan. Namun sekarang berbeda. Chaby sudah ketemu, kebahagiaan seorang Decklan telah kembali ke sisinya. Decklan memang berubah drastis setelah menemukan istrinya.


Selesai makan, tante Lily menyuruh Gatan mengajak Arion tidur. Kata Chaby Arion harus sekolah besok. Jadi tidak boleh terlalu malam tidurnya. Sebenarnya Chaby merasa keberatan Arion tidur dengan Gatan. Karena ia merasa keluarga suaminya ini memang sengaja pengen dia berduaan saja dengan suaminya malam ini.


Tapi, ya sudahlah. Di rumahnya kak Sharon Arion juga kan suka tidur sama sama kak Sharon, bahkan lebih sering tidur sendiri. Dia akan tidur dengan mamanya kalau dirinya lagi sakit atau sedang takut. Biasanya kalau Arion bermimpi buruk, ia hanya mau dengan mamanya. Bahkan Sharon pun tidak bisa membujuknya kalau anak kecil itu lagi sakit dan tidak ada mamanya disampingnya.


Chaby memilih duduk bersantai dengan Pika di ruang televisi setelah menidurkan Arion di kamar Gatan.


"Kamu nonton apa Pik?" tanya Chaby menatap ke layar besar didepannya lalu duduk di sebelah Pika. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Yang lainnya sudah masuk. Decklan juga bilang mau mandi tadi. 


"Variety shownya Korea. Lo nggak ke kamar?" Pika bertanya balik. Chaby menggeleng. Sebenarnya ia ragu masuk ke kamar. Takut kalau suaminya akan berbuat sesuatu padanya. Ia akan ke kamar lima belas menit lagi. Siapa tahu setelah masuk suaminya itu sudah tidur.

__ADS_1


"Masih males." sahutnya.


"Males apa gugup?" Pika tersenyum menggoda.


"Apaan sih." Chaby heran. Padahal dia dan Pika belum lama bertemu. Tapi dirinya sudah merasa dekat sekali dengan gadis itu. Dengan semua orang di rumah ini juga. Rumah ini pun tidak terasa asing baginya. Kadang-kadang ia merasa seperti dejavu. Makan bersama di meja makan, nonton tv, kumpul keluarga. Seperti ia pernah melakukannya bersama mereka dulu. Chaby sungguh ingin mengingat apa yang sudah ia lupakan di masa lalu. Tapi kadang kepalanya terasa pusing kalau dia memaksa ingat.


"Hp aku mana?" tanya Chaby kemudian. Matanya mencari-cari keberadaan ponselnya. Ia ingin menelpon kak Sharon.


"Tadi aku lihat di bawa sama kak Decklan ke kamar." sahut Pika. Tanpa pikir panjang Chaby berdiri dari sofa dan naik ke lantai dua. Menuju kamarnya dan Decklan.


Tak ada orang. Chaby sama sekali tidak melihat suaminya dalam kamar itu. Kemana dia? Oh mungkin masih mandi. Ia kemudian melangkah menuju ke tengah kamar, mencari-cari ponselnya. Dimana kira-kira Decklan menaruh ponselnya. Karena terlalu serius mencari, ia bahkan tidak sadar Decklan baru saja keluar dari kamar mandi. Namun tak mengenakan apapun. Itu memang sudah menjadi kebiasaannya sejak menikah dengan Chaby dulu. Karena mereka sering melakukan hubungan intim tiap kali Decklan habis mandi sepulang kerja, jadi kebiasaan itu sudah terbawa sampai sekarang.


Chaby yang menoleh kebelakang seketika mengarahkan pandangannya ke bawah perut Decklan. Wajah Chaby seketika merah padam saat melihat sesuatu yang besar menggelantung di antara kaki Decklan. Tanpa sadar Chaby menjerit terkejut dan segera berlari keluar dengan nafas yang terengah-engah. Untung kamar itu kedap suara, kalau tidak semua penghuni rumah sudah keluar akibat teriakan Chaby.

__ADS_1


Decklan yang baru sadar dengan apa yang terjadi menggaruk tengkuknya heran. Ia menunduk menatap tubuh telanjangnya. Kenapa gadis itu berteriak? Memangnya apa yang menakutkan? Bukankah Chaby memang sudah terbiasa melihat miliknya yang besar ini? Sesaat kemudian Decklan sadar kalau istrinya itu masih hilang ingatan. Ia lalu tertawa. Benar juga. Pantas saja Chaby kaget. Ia lalu melangkah dengan santai ke arah lemari untuk memakai bajunya.


                                   ***


Pipi Chaby makin memerah karena terus mengingat tubuh telanjang Decklan. Ia kini duduk berjongkok di didepan kamar mereka. Sial, kenapa dia terus teringat benda itu? Chaby terus mengipasi wajahnya yang terasa panas.


Meski berusaha untuk lupa, Chaby terus saja mengingat Decklan yang menggantung dengan bebas diantara kakinya yang berotot. Benda itu rasanya terus membayang-bayangi Chaby. Ia terus terbayang dengan benda besar itu.


Benar. Benda itu menurutnya memang besar. Ia sudah lupa kalau dirinya pernah melihat benda itu secara langsung dulu. Sekarang dirinya betul-betul bertingkah seperti gadis yang masih suci seperti belum pernah tersentuh oleh siapapun. Tapi ia tahu, kalau benda itu akan lebih besar lagi kalau sedang tegang. Chaby seketika merinding. Akan seperti apa ukuran milik suaminya itu kalau sudah tegang. Memangnya dulu bisa masuk dalam miliknya?


"Bagaimana caranya benda sebesar itu bisa masuk ke dalam milik aku?" tanyanya pada diri sendiri. Seketika itu ia langsung menampar bibirnya. Astaga, apa yang dia pikirkan? Bisa-bisanya dia memikirkan hal yang memalukan seperti ini. Chaby tidak percaya dengan apa yang dia pikirkan barusan. Ia menggeleng-geleng menjernihkan pikirannya.


Gadis itu sama sekali tidak sadar kalau Decklan sedang menatapnya dengan senyum nakal sambil bersandar didepan pintu. Semua kalimat yang keluar dari mulut Chaby tadi bisa ia dengar dengan jelas. Bahkan kalimat itu berhasil membangkitkan hasratnya untuk menyentuh Chaby sekarang juga.

__ADS_1


"Kamu mau tahu cara bagaimana aku memasukannya ke dalam milikmu itu?"


Chaby memekik kaget. Ia cepat-cepat berdiri ingin kabur tapi tangan Decklan lebih cepat meraihnya. Membopong gadis itu ke dalam, mengunci kamar dan melempar Chaby ke kasur besar yang masih rapi dan menindihnya.


__ADS_2