GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 72. TAMAT


__ADS_3

Sabtu siang, Danzel dan Sharon berkunjung untuk melihat sih bayi cantik Arin, adiknya Arion. Mereka melihat binar kebahagiaan di wajah suami istri tersebut. Danzel sangat bersyukur dalam hatinya. Adik manjanya, penakut dan selalu bergantung padanya dan Galen dulu kini benar-benar telah berbahagia. Gadis itu bertemu dengan laki-laki yang baik dan membuatnya banyak berubah. Menjadi lebih dewasa. Setidaknya Chaby sudah tidak lagi bergantung terus seperti dulu.


Chaby sedang mengeluarkan kue dari oven dan meletakkannya di meja dapur untuk mendinginkannya sebelum diiris, bau harum kue dan memenuhi penjuru ruangan. Chaby mendapatkan resep kue itu dari kak Sharon waktu mereka membantu calon kakak iparnya membuat kue dirumahnya.


"Kamu berhasil Chaby. Baunya harum, sepertinya itu enak." Sharon memandang penuh nikmat ke arah kue itu dan menghirupnya.


"Hmmmm baunya benar-benar sangat harum." Chaby tertawa melihat Sharon tampak sudah ingin mencicipi kue itu. Arion yang terus menemaninya membuat kue sejak tadi juga. Buktinya, bocah itu terus menatap kue buatan mamanya.


"Ari mau? Tunggu dingin dulu ya, kalau nggak lidah Ari bisa terbakar." ucap Chaby mengacak-acak rambut putra sulungnya tersebut. Sharon ikut tertawa. Arion memang kelihatan sekali sudah sangat ingin mencicipi kue buatan mamanya tersebut.


Lalu setelah di rasa kue itu mulai dingin, Chaby mengiris kue itu dan mendorongnya ke piring kecil, lalu memberikan ke Arion yang langsung menyambutnya dengan bahagia. Sharon ikut membantu Chaby memotong bagian yang lainnya. Mereka lalu membawa kue yang sudah terpotong itu kedepan.


Didepan sana, Decklan setia menggendong Arin dan Danzel sedang menggoda anak itu dengan boneka karet bebek yang bisa berbunyi kalau ditekan, anak itu selalu tersenyum lebar kalau mainan itu berbunyi.


Danzel dan Decklan melirik ke arah Chaby dan Sharon yang muncul bersama Arion dibelakang mereka yang tengah asyik mengunyah kue dengan sangat menikmati. Dua pria dewasa tersebut tertawa melihat tingkah putra dan ponakan mereka.


"Sepertinya kue buatan mama kamu enak ya sayang." goda Decklan saat Arion berhenti dan berdiri tepat diantaranya dan Danzel. Bersandar pada tubuh papanya. Danzel mengacak-acak rambut bocah kecil yang terus menikmati makanannya itu. Seolah melupakan kehadiran keempat orang dewasa yang tengah menatap lucu padanya.


Hanya mereka yang berada di rumah. Yang lain sedang piknik ke pantai. Mereka kini duduk saling berhadapan di sofa sambil menikmati kue buatan Chaby. Decklan berfokus menyuapi putri kecilnya sambil menggodanya supaya si kecil tertawa.


"Kak Danzel sama kak Sharon kapan?" tanya Chaby tiba-tiba.


"Kapan apanya?" Danzel melirik adiknya lurus. Decklan dan Chaby saling berpandangan sambil tersenyum penuh arti. Sedang Sharon sudah mengerti arah pertanyaan Chaby. Ia menunduk salah tingkah.


"Kak Danzel kok nggak ngerti-ngerti sih. Kapan kakak nikahin kak Sharon? Aku aja udah punya anak dua. Masa kak Danzel kalah sama adik sendiri sih." Danzel terkekeh.


"Kan kakak baru ketemu sama cinta sejati kakak sayang. Dulu kan kakak kamu ini sibuk jagain kamu. Kamu tenang aja, Kamu sama Decklan bakal jadi saksi. Hari ini..."


Danzel menggantung perkataannya dan melirik Sharon sebentar. Lalu menggenggam jemari sambil menatap wanita itu penuh cinta. Kemudian pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan tiba-tiba berlutut didepan Sharon. Sharon sendiri kaget.


Detak jantungnya berdebar-debar keras. Nafasnya tercekat. Ia tahu selanjutnya apa yang akan dilakukan oleh Danzel.

__ADS_1


"Sharon, maukah kamu menikah denganku?" Sharon terdiam. Belum bisa berkata apapun. Danzel melanjutkan.


"Dulu aku pernah berpikir aku tidak akan pernah menikah dengan seorang wanita. Aku hanya ingin menjaga adikku seumur hidup ini. Tapi ternyata, adikku sudah direbut oleh pria lain.. dia tidak bisa tinggal denganku seumur hidup lagi..."


"Jangan bawa-bawa namaku dan Chaby saat lamaran kakak ipar." tegur Decklan. Sharon menahan tawanya. Danzel melanjutkan lagi tidak menghiraukan perkataan Decklan sama sekali.


"Aku senang bisa bertemu dengan wanita hebat sepertimu Sharon."


"Tante Sharon emang hebat paman. Selalu bikin Arion senang."


Giliran Arion yang menyela. Chaby cepat-cepat membungkam mulut putra sulungnya tersebut dengan kue. Ia bisa melihat percikan kekesalan dari sang kakak. Aduh, aduh... jangan sampai kak Danzel murka.


"Paman kamu lagi serius sayang. Jangan digangguin." tegur Chaby.


"Kenapa paman Danzel berlutut didepan tante Sharon ma?"


"Ari, paman kamu itu lagi mau.." Decklan menggantungkan perkataannya dan langsung pura-pura sibuk sama baby Arin. Danzel sudah menatap mereka dengan wajah kesalnya.


"Sharon, perkataan manisku akan aku katakan saat kita sedang berdua saja. Sepertinya aku salah melamarmu didepan keluarga aneh ini. Tapi karena sudah terlanjur, apakah kau mau menikah denganku? Sebaiknya langsung saja katakan iya. Jangan coba-coba menolakku."


Sharon sendiri sebenarnya sudah mempersiapkan diri sejak tadi. Kalimat awal ketika Danzel berlutut dihadapannya sungguh benar-benar membuatnya merasa terharu. Ia sudah siap kalau dirinya akan dibuat menangis karena terharu oleh laki-laki yang dia cintai itu. Tapi semakin lama dia malah menganggap acara lamaran ini sudah seperti acara komedi saja. Bahkan di kalimat terakhir Danzel wanita itu tertawa lebar. Danzel yang kesal karena kelakuan Decklan dan Arion juga Chaby, berimbas pada kata-kata lamarannya yang seperti mau menodongnya saja. Tapi Sharon terkesan. Ia bahagia. Lamaran ini memang berbeda dengan lamaran-lamaran manis lainnya, tapi ia senang. Danzel melamarnya. Ya Tuhan... mereka akan segera menikahkan?


"Kapan kau akan menikahiku?" tanyanya kemudian sudah tidak gugup lagi seperti tadi.


"Secepatnya. Kalau kau siap, besok kita langsung menikah saja." kata Danzel tanpa berpikir panjang. Dia pikir menikah segampang itu apa. Decklan bahkan menertawai perkataan konyol Danzel.


"Aku akan menikah denganmu. Tapi aku pikir besok terlalu tidak masuk akal."


Mata Danzel melotot sempurna.


"Jadi kau bersedia menikah denganku?" serunya antusias. Sharon tertawa lebar kemudian mengangguk. Betapa bahagianya Danzel. Laki-laki itu lalu mengenakan cincin di jari manis Sharon. Chaby langsung bersorak gembira.

__ADS_1


"Yeee.... Kakak aku akhirnya akan menikah..." seru Chaby menepuk kuat tangannya sambil melompat-lompat gembira bersama Arion. Decklan ikut berdiri dengan Arin dalam gendongannya. Ia juga tersenyum gembira. Akhirnya Danzel bisa menemukan kebahagiaannya sendiri.


Dan ketika Danzel maju untuk mencium bibir Sharon penuh cinta, Chaby cepat-cepat menutup mata Arion. Area dewasa, anak-anak dilarang lihat. Mereka lalu berpelukan. Chaby dan Decklan saling bertukar pandangan penuh kebahagiaan. Chaby merasa terharu karena sekarang kakaknya tidak akan kesepian lagi. Pria itu telah menemukan tambatan hatinya.


"Aku mencintaimu Sharon." gumam Danzel pelan, terdengar begitu tulus.


Sharon tersenyum.


"Aku juga." ia membalas dengan sebuah bisikan.


Decklan merasa geli melihat kemesraan itu. Pria itu tidak sadar dirinya sendiri malah lebih parah dari Danzel kalau sedang mengambil hati istrinya. Lalu Chaby mengangkat Arion, menggendong putranya tersebut lalu bersandar pada Decklan sambil menikmati tontonan yang menarik didepan mereka. Chaby berharap mereka semua bisa hidup bahagia selamanya.


••• END •••


Hai readers...


Gimana nih gimana kisah mereka semua?


Ada yang masih pengen ceritanya belum tamat nggak?


Maaf ya kalo banyak kesalahan-kesalahan dalam penulisan aku. Makhlumlah aku masih perlu banyak belajar dan cari ide buat bikin cerita yang menarik.


Thanks banget loh yang udah dukung aku lewat vote, kasih komen, kasih like dan ikutin karya aku terus sampai season 2 ini 🙏😇


Kalau ada yang pengen aku lanjutin kisah Sharon ama Danzel angkat tangannya yah🤗


Yang pengen juga aku bikin cerita buat Andra sama Galen😊


Terakhir, semoga kalian semua terhibur sama karya aku yang biasa-biasa ini yah🙏🙏😊


Sampai ketemu lagi di cerita-cerita aku selanjutnya👋😊

__ADS_1


__ADS_2