
"Ada apa ini?
Bara menatap Andra dan Decklan bergantian. Dia baru kembali dari jalan-jalannya sendiri mengitari area itu untuk merasakan udara segar di malam hari.
Ketika sampai dari jalan-jalannya, Bara melihat Decklan dan Andra yang berdiri didepan tendanya Pika dan Chaby. Decklan terus berjalan mondar-mandir dan wajahnya terlihat khawatir. Jelas Bara bingung melihatnya. Ketika ia bertanya, Pika tiba-tiba keluar dari dalam tenda dan Decklan buru-buru masuk kedalam.
Bara bertambah bingung. Setelah itu barulah Andra menceritakan semua padanya tentang yang terjadi tadi. Mereka membiarkan Decklan menemani Chaby didalam.
Kedua cowok itu mengikuti Pika yang berjalan kearah kolam. Gadis itu masih bingung apa sebenarnya yang dilihat Chaby tadi, jadi ia ikut menatap ke dalam air kolam itu. Ia terus menatap kebawah namun tidak melihat apapun.
"Pika, lo mau berakhir sama kayak Chaby? jangan bikin Decklan tambah pusing deh." tegur Andra. Ia dan Bara sudah berdiri dibelakang gadis itu.
Pika berbalik menatap mereka.
"Apa jangan-jangan Chaby ngeliat setan yah tadi? Makanya jadi ketakutan banget kayak gitu. Kak Andra liat kan matanya tadi yang terus-terusan bergerak sana-sini kayak lagi nyari-nyari sesuatu gitu?"
menurut Pika, itu adalah kesimpulan yang paling masuk akal. Apalagi tadi Chaby berteriak-teriak pergi. Siapa coba yang dia suruh pergi padahal tidak ada siapapun didepannya.
"Udah, nggak usah mikir macam-macam." ujar Andra lagi.
"Lo istirahat dalam tenda kita dulu, biar gue sama Andra nunggu diluar sampe Decklan selesai nemenin Chaby." kata Bara menatap Pika. Sebenarnya sih Pika masih mau diluar tapi ya sudahlah. Ia juga mulai ngantuk.
"Ya udah, nanti bangunin aku kalo kak Decklan udah keluar yah." balasnya. Bara dan Andra mengangguk. Pika lalu berbalik, berjalan ke arah tenda para cowok yang memang tidak jauh dari tenda cewek. Andra dan Bara memutuskan menunggu sambil duduk di depan api unggun biar hangat.
__ADS_1
***
Decklan menyentuhkan jemarinya menelusuri pipi Chaby. Dengan sabar ia menunggu supaya gadis itu mau bicara. Ia sudah memeriksanya tadi. Tidak panas, tidak demam, dan gadis itu sudah tidak gemetar lagi namun masih diam. Meski begitu, dibandingkan tadi kondisinya yang sekarang jauh lebih baik.
Mata besar itu kini menatapnya, Chaby bergeming, seolah baru sadar ada seseorang disampingnya.
"Kak Decklan?" Decklan tersenyum memegangi jemari kekasihnya yang halus dan lembut itu. Tangan yang sangat terurus yang jika orang-orang memegangnya mereka akan tahu kalau gadis itu belum pernah menyentuh pekerjaan kasar sekalipun. Decklan membawa jemari itu menyentuh pipinya, membelainya halus.
"Iya, ini aku." gumamnya pelan.
Decklan melihat Chaby terkesiap dan mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dengan secepat mungkin. Tatapannya kembali liar. Decklan segera menahannya kuat-kuat. Ia melihat ada ketakutan di mata Chaby. Sebenarnya kenapa dengan gadis ini?
"Kita harus segera lari kak Decklan. Aku liat mama aku tadi. Mama mau dorong aku ke kolam." ucap gadis itu ketakutan. Tangannya mencengkeram lengan Decklan sangat kuat, ketakutan yang dilihat Decklan dalam mata gadis itu membuat hatinya terluka. Chaby terus menerus menggoyang-goyangkan tangannya memintanya supaya membawanya kabur.
"Tidak apa-apa," bisik Decklan. Suaranya terdengar serak karena berbagai emosi yang mencekat tenggorokannya. Ia marah karena merasa tidak berdaya, ia marah karena tidak tahu apa saja yang sudah dilakukan mama Chaby dulu pada gadis itu, marah pada dirinya sendiri karena baru tahu trauma yang dialami kekasihnya itu ternyata begitu besar.
"Mama kamu nggak ada disini, bukannya kakak kamu bilang mama kamu udah di hukum di Seoul? jadi nggak usah khawatir. Selama ada aku, kamu akan aman. Aku berjanji." gumam Decklan lagi lalu mencium dahi gadis itu, ingin memberinya rasa nyaman.
Chaby masih tidak bersuara, namun perkataan Decklan perlahan menenangkannya. Chaby bersandar dibahu Decklan namun otaknya berpikir keras.
"Kalau mama datang lagi gimana?" Chaby bertanya. Ia tampaknya sudah mulai menyadari kalau tadi itu hanya bayangannya saja. Hanya karena trauma masa lalu dan emosi berlebihan ia malah menganggap kehadiran mamanya disitu benar-benar nyata dan kehilangan akal sehat sesaat. Apa dirinya sakit jiwa? Sebelum Decklan menjawab pertanyaannya ia bertanya lagi.
"Jangan-jangan aku sakit jiwa kak Decklan?"
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Decklan melongo. Tapi kemudian cowok itu bernafas lega. Chabynya sudah kembali seperti biasanya, seperti Chaby yang dia kenal. Yang lucu dan menggemaskan.
Chaby kembali menggoyang-goyangkan tubuh Decklan dengan kuat.
"Kak Decklaann.. kak Decklan bentar lagi jadi dokter kan, tolong periksa aku dong, dan kasih obat apa gitu, aku nggak mau jadi gila kak Decklaaann..."
Chaby terus memasang wajah cemberut dan manjanya. Decklan tersenyum lebar, menampilkan barisan-barisan giginya yang tersusun rapi. Ia paling suka melihat Chaby yang seperti ini. Dengan begitu ia juga bisa menikmati waktunya dengan gadis itu, melepaskan pikirannya sebentar dari rumus-rumus yang menguras otak dengan menjahili pujaan hatinya itu.
"Nggak apa-apa sakit jiwa, kan ada aku yang urus. Aku nggak bakal ninggalin kamu kok." goda Decklan mencolek-colek pipi Chaby sambil mengerlingkan mata jahil.
"Kak Decklaaan..." ambek Chaby manja. Ia membenamkan kepalanya di ceruk leher Decklan. Cowok itu tersenyum tipis. Banyak yang bilang pasangan yang sudah lama berpacaran akan datang masa jenuhnya. Tapi itu tidak berlaku pada Decklan. Ia tidak pernah merasa bosan pada Chaby malah semakin hari cintanya makin bertambah besar. Entah apa yang sudah Chaby lakukan pada dirinya, karena mata dan pikirannya selalu dipenuhi oleh gadis itu.
Decklan menangkup wajah Chaby yang masih setia bersandar dibahunya. Gadis itu tampak terganggu tapi Decklan tidak peduli. Waktunya berduaan dengan gadis itu akhir-akhir ini sangat sedikit. Ia harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin.
Decklan menatap lama wajah polos tanpa makeup itu yang sangat cantik di matanya. Matanya beralih ke bibir ranum gadis itu. Mereka sudah berkali-kali ciuman tapi Decklan tidak pernah bosan dengan pemilik bibir indah itu. Ia bahkan kadang menginginkan lebih. Tapi ia sadar sekarang belum waktunya. Ia betul-betul harus menjaga gadis itu sampai hari itu tiba dan ia benar-benar bisa memiliki Chaby seutuhnya, hanya miliknya. Decklan mengusap lembut pipi Chaby yang kini menatapnya malu-malu.
Decklan tersenyum tipis lalu kepalanya bergerak turun mencium lembut bibir atas dan bawah Chaby bergantian, sesekali menyesapnya cukup lama.
Decklan tahu ia sudah memberikan seluruh hatinya pada gadis ini, dan ia senang karena Chaby semakin bergantung padanya.
"Aku akan kasih kamu obat sakit jiwa besok." goda Decklan lagi setelah melepaskan ciumannya dari bibir Chaby.
Raut wajah Chaby langsung berubah sebal.
__ADS_1
"Kak Decklaaan!" kali ini ia berteriak sebal dan mencubit kuat pinggang Decklan tapi cowok itu tidak merasakan apa-apa. Ia terbahak merasa lucu melihat Chaby yang terus-terusan mencubitnya dengan kekuatan penuh namun tak ada hasil apa-apa.