
"Handphone aku."
gumam Chaby dengan wajah sedih. Ia ingin turun mengambil ponselnya yang jatuh tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Jelaslah, orang ada yang nahan. Cewek itu berbalik dan menatap ke cowok didepannya. Jarak mereka sangat dekat hingga ia bisa merasakan nafas cowok itu di wajahnya begitupun sebaliknya. Pandangan mereka bertemu, cowok didepannya itu menatapnya datar. Wajahnya sangat tampan menurut Chaby, tapi kak Decklan tetap nomor satu dihatinya. ia sama sekali nggak tertarik dengan cowok-cowok yang punya ekspresi dingin kayak begitu selain kak Decklan tentu saja. Kak Decklan itu beda, dinginnya sama orang lain aja. Sama dia tentu saja nggak.
Chaby menatap lurus cowok didepannya ini yang menurutnya sangat nggak asyik. Caranya menatap seperti bertemu musuh saja. Dulu, Chaby selalu takut dengan tatapan tajam yang amat mengintimidasi seperti itu, namun sekarang ia malah tidak ada takut-takutnya sama sekali. Mata gadis itu berkedip-kedip karena gatal. Ia baru menyadari tangan cowok itu yang memegang pinggangnya. Ekspresinya berubah kaget, kalau sampai kak Decklan lihat ada yang sedekat ini dengannya, bisa-bisa ia di hukum habis-habisan lagi. Hih, ancaman kekasihnya itu membuatnya parno.
"Kalo jalan yang bener. Pake mata lo." ujar cowok itu dingin dengan tangan yang masih tetap setia di pinggang Chaby. Chaby mencebik, tuh kan emang nggak asyik nih cowok. Galak pula.
"Kan jalan pake kaki, gimana sih." perkataan itu meluncur begitu saja dari mulut gadis itu.
Cowok didepannya mendengus, lalu mengamati gadis itu sesaat. Wajahnya sangat imut. Ini pertama kalinya ia melihat gadis itu. Dan pertama kalinya ia bertemu seorang gadis yang menatapnya biasa saja bahkan dalam jarak sedekat itu dan dengan posisi cowok itu seperti memeluknya. Biasanya para cewek akan terpesona dan senang melihatnya bahkan dari jarak jauh sekalipun. Menarik. Batinnya.
__ADS_1
"Bisa lepasin aku nggak?" ucap cewek itu. Cowok yang masih betah berlama-lama memeluk pinggang ramping itu melepaskan tangannya perlahan-lahan agar gadis itu tidak terjatuh.
Setelah dirinya bebas, Chaby cepat-cepat berlari turun tangga. Ia mengambil ponselnya dan memeriksa kalau benda itu baik-baik saja atau nggak, sementara cowok yang di tabraknya tadi masih setia memperhatikannya dari atas anak tangga. Ia bisa lihat cewek yang tidak ia tahu siapa namanya itu tersenyum lebar sambil menatap ponsel miliknya. Artinya benda itu baik-baik saja tidak ada kerusakan. Cewek itu lalu berjalan dengan ceria meninggalkan tempat itu tanpa menoleh sedikitpun padanya.
Nama cowok itu Aska.
Aska menyunggingkan senyumnya menatap kepergian gadis manis itu. Cewek aneh. Batinnya lalu ikut melenggang pergi dari tempat itu, berjalan ke arah yang sama dengan yang dilalui Chaby tadi.
***
Semua orang mendengar dengan saksama pidato yang dibawakan didepan sana . Kata Pika, cewek yang bawain pidato diatas podium itu adalah seorang pemain Selo berbakat. Fansnya sangat banyak karena bakatnya, kecantikan dan katanya tuh cewek baik banget juga pada semua orang. Namanya Risa. Banyak orang yang muji-muji dia baik cewek maupun cowok. Lihat saja tepukan tangan yang sangat meriah setelah Risa selesai dengan pidatonya. Risa memang sama-sama anak baru kayak mereka, tapi karena bakatnya yang luar biasa dibidang musik, membuat dia dikenal banyak orang.
__ADS_1
"Nah, kalo lo mau terkenal sama banyak orang suka sama lo, lo harus punya bakat sama kayak sih Risa itu. Tapi kayaknya lo nggak bakal bisa deh nyaingin dia. Kan lo nggak ada bakat-bakatnya dibidang musik. Mending pindah di jurusan gue aja deh." bisik Pika asal. Ia memang merasa Chaby tidak ada apa-apanya dibandingin Risa kalau soal bakat di bidang musik. Chaby melirik Pika kesal. Dasar teman laknat.
"Biarin nggak banyak yang suka sama aku, aku kan punya kak Decklan yang sayang banget sama aku. Kata kak Decklan aku itu satu-satunya cewek paling cantik di dunia ini, hmph!" balasnya sebal. Ia tidak sadar semua mata sudah tertuju padanya dan menertawainya. Bahkan para dosen dan beberapa senior yang duduk didepan bisa mendengar perkataannya yang terdengar begitu jelas di dalam aula itu yang bergema itu. Pandangan mereka berbeda-beda namun lebih banyak yang menertawainya. Pika ikut tertawa namun menundukkan kepalanya karena malu. Chaby yang berbuat, tapi dia juga yang ikut malu.
Di ujung sana di samping panggung, ada Aska yang langsung mengenali Chaby ketika menatap ke arah suara itu. Itu gadis yang menabraknya tadi. Sudut bibirnya terangkat. Lampu di barisan tempat duduk gadis itu memang remang-remang, namun ia bisa melihat jelas wajah gadis yang menyatakan diri sebagai cewek paling cantik di dunia ini. Ia merasa lucu. Gadis itu sangat percaya diri. Wajah Aska berubah datar ketika Risa turun dari panggung dan berdiri disebelahnya.
"Aska, setelah ini giliran lo." ujar Risa pelan. Aska mengangguk tanpa ekspresi dan tanpa suara sedikitpun. Saat seorang senior yang memandu acara penyambutan mahasiswa baru itu memanggil nama Aska, aula menjadi riuh. Sorak-sorakan tangan mengiringi langkah Aska ketika lelaki itu berjalan bak model di atas panggung.
"Siapa tuh? Kayak kenal." seru Chaby menyipitkan mata kedepan. Ia seperti kenal cowok yang kini duduk didepan grandpiano. Rasanya seperti pernah lihat, batinnya.
"Tuh cowok pianis terkenal, makanya wajahnya familiar gitu. Denger-denger udah tur ke beberapa negara. Mana ganteng, jago piano pula. Senior lo tuh di jurusan, meski jarang datang sih gue denger-denger, saking sibuknya dia." seru Pika antusias. Chaby mengangkat bahu acuh tak acuh. Perkataan Pika nggak penting buatnya. Ia masih malu dengan kejadian tadi. Kira-kira wajahnya bakal di ingat nggak yah. Gadis itu menggigit bibirnya. Pika sih, mancing-mancing.
__ADS_1
Bunyi piano mulai terdengar di seluruh ruangan aula. Chaby merasa geli melihat raut wajah Pika yang terlihat seperti begitu tergila-gila sama sih pianis didepan sana. Dasar Pika, padahal sudah punya kak Bara. Masih aja nggak puas lihat cowok tampan lain. Laporin ke kak Bara baru tahu rasa.
Ketika alunan piano yang dimainkan dengan amat merdu tadi berhenti, semua orang di aula kembali bersorak. Kegaduhan yang terdengar seperti pasar itu makin menjadi-jadi dan teriakan nama Aska bergema di seluruh aula. Chaby sendiri malah tercengang-cengang dengan kelakuan semua orang yang memuja-muja nama sih pianis terkenal kata Pika itu. Pika benar, ternyata tuh cowok sangat terkenal.