GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 62


__ADS_3

Dalam sekejap darah yang mengalir dalam tubuh Danzel seolah-olah membeku. Apa yang dilihatnya Dalam rekaman itu tidak dapat menutupi rasa murkanya pada perempuan yang tega mendorong sang adik. Tanpa berpikir lagi, ia berjalan cepat menyambar tubuh Decklan dan langsung mencengkeram kuat leher Luna, mendorongnya dengan keras ke tembok kamar.


Saat itu Danzel benar-benar kalap, tidak bisa berpikir jernih. Yang dirasakannya hanyalah amarah yang begitu besar yang belum pernah dirasakannya sebelum ini. Amarah hebat yang membuatnya ingin menyakiti perempuan kejam ini. Membuatnya sanggup membunuh siapa pun yang menyakiti adiknya.


Luna mencengkeram tangan Danzel, berusaha melepaskan tangan pria yang mencekik lehernya tersebut.


"Le...pas.." rintihnya dengan suara tercekik. Bara dan Andra yang melihat Luna mulai kesulitan bernafas cepat-cepat berlari ke sana bermaksud melepaskan tangan pria itu yang terus mencengkeram Luna. Namun keduanya merasa kesusahan akibat kekuatan yang dimiliki Danzel. Heran, kenapa pria itu tiba-tiba menjadi sekuat ini?


Andra menoleh ke Decklan, seolah meminta bantuan laki-laki itu, sayangnya Decklan hanya berdiri diam di sana, tidak berniat membantu sama sekali. Biar saja, biar perempuan itu kapok dan sadar sedang berhadapan dengan siapa. Gatanlah yang mewakili Decklan membantu Bara dan Andra. Namun tetap saja tidak berhasil. Danzel sudah benar-benar kalap.


Tepat pada saat itu Sharon masuk ke kamar dan terkesiap keras melihat apa yang ada di hadapannya. Ia sempat bingung sesaat, namun seruan Pika meminta pertolongannya membuatnya tersadar dan berlari mendekati empat pria yang mengerubuni satu wanita, dengan tangan Danzel mencekik wanita yang memakai jas dokter tersebut. Sharon bingung tapi dia akan bertanya nanti.


"Danzel!" serunya panik.


"Apa yang kau lakukan?" Pria itu mengabaikan Sharon, Danzel tetap menatap wajah Luna lekat-lekat.

__ADS_1


"Aku akan membunuhmu," gumam Danzel dengan suara yang sangat rendah, dan sangat serius.  Keheningan yang menyusul terasa sangat mencekam sementara Luna menatap Danzel dengan mata terbelalak dan wajah merah padam karena sesak napas.


Sharon menyuruh tiga laki-laki yang masih berusaha melepaskan tangan Danzel dari Luna itu mundur dan berusaha menghentikannya.


"Danzel... Danzel, dia tidak bisa bernapas."


Danzel tidak juga menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mendengar suara Sharon. Matanya yang gelap dan menusuk sama sekali tidak beralih dari wajah Luna.


"Kalau kau berani menyentuhnya sekali lagi... Kalau kau berani mencoba menyentuh adikku sekali lagi," lanjutnya dengan nada dingin dan mengancam yang sama,


"Dan kalau sampai dia mati, aku tidak akan pernah mau melihat wajahmu lagi Danzel. Chaby masih terbaring di sana, tapi kau malah mengacau seperti orang gila!" tukas Sharon.


Danzel pasti akan mencekik Luna  sampai kehabisan napas di sana kalau Sharon tidak menyela dan mengatakan kalimat mengancam itu.


Mereka semua bernafas lega saat suara Sharon berhasil menyadarkan Danzel. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melepaskan Luna, menatap wanita itu jatuh lemas ke lantai seperti onggokan lembek dan terbatuk-batuk.

__ADS_1


Nanda bergegas menarik Luna berdiri dan memberinya botol minum yang diberikan oleh Pika tadi. Walau Pika tidak menyukai Luna, tetap saja ia tidak bisa senang melihat perempuan itu tersiksa begitu. Ia masih ada rasa kasihan. Namun masalah hukuman, Luna tidak bisa bebas begitu saja. Pika tahu kak Decklan akan mengambil tindakan tegas setelah ini, dan dia akan mendukung penuh. Seorang dokter yang kerjaannya menolong pasien, malah sengaja mencelakai pasien, bikin malu nama dokter saja.


"Andra, seret dia ke kantor polisi. Laporkan tentang perbuatan kejamnya terhadap istriku dan keluarkan surat pemecatan sekarang juga. Aku tidak mau melihat wanita yang mencoba membunuh Chaby berkeliaran dengan bebas. Katakan juga pada papa untuk mencabut lisensi dokternya. Perempuan jahat sepertinya tidak pantas menjadi dokter. Ingat, laporkan perbuatannya sebagai percobaan pembunuhan." kata Decklan dengan nada yang begitu dingin. Ia ingin Luna di hukum seberat-beratnya.


Luna terbelalak kaget. Ia melepaskan pegangan Nanda dan berlutut dihadapan Decklan.


"Tidak...tidak...aku mohon Decklan, aku menyesal. Aku tidak akan melakukannya lagi. Pleasee... Jangan jebloskan aku ke penjara. Karirku bisa hancur..." pinta Luna memohon-mohon sambil menangis. Tapi Decklan menghempas kuat-kuat tangan Luna yang memegangnya, ia tidak mau bersentuhan dengan wanita jahat itu.


Nanda kasihan melihatnya, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pandangannya berpindah ke bagian kiri. Di sofa duduk laki-laki yang sempat mau dia kejar itu, yang baru dia ketahui bernama Danzel itu, bersama dengan wanita yang tiba-tiba masuk tadi menghentikan pria itu yang mencekik Luna.


Wanita yang entah siapa namanya itu duduk disamping Danzel sambil mengusap-usap punggung pria itu, dengan tangan sebelahnya menggenggam jemari Danzel, seperti sedang menenangkan laki-laki itu dari emosinya yang membuncah. Nanda menekuk wajahnya. Pasti mereka pasangan kekasih. Ia tidak berpikir kalau lelaki yang ingin dia kejar itu sudah punya kekasih. Kasihan sekali dirinya. Terpaksa deh dirinya harus merelakan pria itu sebelum sempat kenalan. Ia sudah berkaca pada pengalaman Luna. Mencintai laki-laki yang sudah ada pemiliknya pasti tidak akan berakhir dengan baik. Meski begitu dirinya masih merasa sedih.


"Nanda," Nanda bergeming. Suara itu menyadarkan lamunannya. Ia mendongak menatap Andra.


"Kau ikut denganku. Kau adalah saksi utamanya." kata lelaki itu menatap Nanda. Wanita itu mengangguk. Ia melihat Luna masih menjerit-jerit memohon supaya tidak dibawa tapi Andra dengan sekali sentak langsung menarik Luna keluar dari tempat itu. Di luar, sudah ramai dengan para staf yang berdiri didepan kamar. Suara keributan dari kamar itu membuat mereka heboh dan kaget melihat apa yang terjadi didalam sana.

__ADS_1


Dokter Luna yang mereka bangga-banggakan tega melakukan perbuatan kejam itu? Mereka sangat syok.


__ADS_2