GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 98


__ADS_3

"Kak Decklan lepasin aku dulu dong." gumam Chaby terus-terusan berusaha melepaskan diri dari Decklan namun cowok itu bersikeras nggak mau ngelepasin cewek itu sebelum ia berjanji padanya.


"Kamu belum janjiin permintaan aku tadi sayang." balas cowok itu. Chaby memberengut kesal.


"Iya-iya, aku janji. Aku bakal mikir-mikir lagi buat maafin kak Decklan. Tapi kalo cuekin aku lagi pokoknya ak..,"


perkataan gadis itu terhenti karena Decklan tiba-tiba membopong dirinya masuk ke dalam mobil yang diparkirnya di ujung sana. Setelah melihat Chaby malam ini, Decklan betul-betul sadar kalau dirinya sungguh tidak mau berpisah dengan gadis itu. Semua hal yang sudah dia atur baik-baik di otaknya beberapa hari ini langsung hilang begitu saja. Dirinya akan menikahi Chaby saja supaya bebas membawanya ikut bersamanya. Decklan tahu, dirinya sangat egois kalau berhubungan dengan Chaby. Ia tidak mau gadis itu dekat dengan cowok lain seperti yang dilihatnya tadi.


Baru nggak ketemu dua hari saja Chaby sudah akrab begitu dengan cowok lain, bagaimana kalau setahun? Ia takut gadis itu malah di rebut orang kalau dia balik. Tidak bisa. Sepertinya dia memang harus membawa Chaby ikut dengannya.


"Kak Decklan ih, aku malu tahu di liatin orang." omel Chaby didalam mobil. Decklan terkekeh lalu mengusap kepala gadis itu pelan dan berbalik ke tempat tadi mengambil mapnya yang ketinggalan.


"Kamu tunggu disini bentar." ucapnya mengecup pipi Chaby.


Dari luar apotik, Karrel terus mengamati pasangan itu. Sepertinya keduanya sudah baikan karena tadi ia melihat mereka berpelukan dan Decklan mencium gadis itu didalam mobil. Chaby juga tidak melawan. Karrel tersenyum pahit dan mendesah pelan.


                                  ***


"Hah? Menikah?!"


seru Chaby yang kaget mendengar Decklan yang tiba-tiba bilang mau menikahinya. Dia nggak salah dengar? Sekarang ini mereka berdua sudah duduk di sofa ruang tengah apartemen Chaby. Decklan terus menggenggam tangan Chaby dan mengangguk pasti.


"Tapi kan kak Decklan mau kuliah ke luar negeri, gimana tiba-tiba mau nikah sama aku coba. Aku juga belom kelar sekolah kak Decklan." bukannya nolak, namun Chaby belum bisa mencerna baik-baik pikirannya saking kagetnya mendengar keputusan Decklan. Tangan Decklan terulur menyentuh pipi Chaby.


"Setelah kita nikah, kamu bisa selesain sekolah kamu di Inggris." ucap cowok itu.

__ADS_1


"Tapi aku harus pindah sekolah dong, dapat teman baru kan nggak gampang. Aku juga nggak jago ngomong bahasa Inggris, gimana dong?" Chaby masih merasa keberatan namun Decklan tetap tidak kehabisan akal. Ia harus membuat gadis itu setuju menikah dan ikut dengannya ke Inggris.


"Kamu homeschooling aja, nanti aku yang urus semuanya." kata cowok itu lagi.


"Tapi..."


"Chaby." Chaby mengangkat wajahnya membalas tatapan tajam Decklan.


"Aku lagi nggak main-main sama keputusan aku. Kamu tinggal jawab mau atau nggak nikah sama aku?" tanya cowok itu serius. Chaby menundukkan kepala cemberut.


"Emangnya siapa yang nggak mau nikah sama kak Decklan. Udah ganteng, pinter, kaya, selalu manjain aku lagi. Tapi kan nikah itu..." gumam gadis itu lebih ke dirinya sendiri sambil memilin-milin saputangan milik kakaknya yang ambil dari atas meja tadi.


Decklan tertawa pelan, tingkah lucu dan menggemaskan seperti itu yang membuatnya tidak rela jauh-jauh dari gadis itu. Apalagi harus pergi lama. Ia menyentuh dagu Chaby dengan telunjuknya hingga wajah gadis itu terangkat menatapnya.


"Nikah itu apa, hm?" tanyanya menahan senyum. Sepertinya ia tahu apa yang di takuti gadis itu.


"Iya dong, emangnya kamu mau nikah bertiga? Aku gantung kamu nanti." ancam cowok itu bercanda. Chaby mengerucutkan bibirnya.


"Maksud aku, nikah itu kan kak Decklan sama aku bakalan..." ucapannya tertahan. Ia malu meneruskan.


"Bakalan apa?" pancing Decklan senyum-senyum.


"Bakalan itu kak Decklaan ih.."


"Itu apa?"

__ADS_1


"Ih, kak Decklan kan udah tahu. Masa aku jelasin lagi sih." Chaby cepat-cepat menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Decklan, sementara cowok itu hanya tersenyum lebar mengusap-usap puncak kepala Chaby.


"Aku janji nggak bakalan ngelakuin itu dulu selama kamu masih nyelesain sekolah kamu. Tapi kalo aku khilaf aku nggak jadi janji yah."


"Kak Decklaan.." Chaby makin membenamkan kepalanya di leher cowok itu kuat-kuat. Decklan masih tertawa.


"Jadi, kamu udah setuju kan nikah sama aku?" tanya cowok itu lagi. Ia belum mendengar jawaban gadis itu tadi. Saat merasakan Chaby menganggukan kepala di lehernya, Decklan langsung semangat.


"Ya udah, kita tinggal tunggu kakak kamu dan minta ijin nikah." 


\*\*\*


Hampir dua jam Decklan dan Chaby menunggu Danzel pulang. Chaby beberapa kali mau tertidur tapi Decklan terus membuat gadis itu bangun. Malam ini sangat penting buat mereka berdua, bahkan beberapa hari kedepan. Waktu mereka sangat mepet untuk mengurus semuanya jadi Decklan ingin menyelesaikan apa yang bisa ia selesaikan secepat mungkin.


Pasangan itu bangkit dari sofa ketika mendengar bunyi pintu terbuka. Danzel yang muncul dari depan menatap mereka heran. Ini sudah tengah malam dan Decklan ada di apartemen itu berduaan dengan adiknya. Ia baru mau membuka suara namun matanya terbelalak kaget saat keduanya tiba-tiba berlutut dihadapannya. Tentu saja Danzel terkejut. Kenapa mereka tiba-tiba berlutut? Memangnya mereka berbuat salah apa?


"Bang," Decklan mengangkat suara. Danzel hanya diam sambil menatap ke bawah.


"Ijinin aku nikahin Chaby secepatnya." ucapan itu betul-betul membuat kejutan di telinga Danzel. Bukan karena ia tidak suka atau tidak setuju, baginya terlalu permintaan itu mendadak. Chaby masih sekolah, dan Danzel merasa masih belum siap Chaby di ambil darinya. Pria itu termundur selangkah. Pandangannya bergantian menatap pasangan yang ada dibawahnya itu. Ia berusaha bersikap dewasa.


"Kenapa buru-buru menikah?" tanyanya. Tidak mungkin mereka buru-buru memutuskan menikah kalau tidak ada alasannya. Jangan-jangan adiknya itu hamil? tidak, tidak. Decklan bukan cowok sebrengsek itu yang akan merusak adiknya. Ketika Decklan mulai menjelaskan alasannya menikahi Chaby, Danzel makin kaget lagi. Artinya setelah mereka menikah, Chaby akan segera pergi ke Inggris. Ya Tuhan, itu makin berat buat Danzel. Tapi, kebahagiaan Chaby adalah kebahagiaannya juga. Dia makin merasa dilema.


"Kakak," gumam Chaby menatap Danzel. Pria itu tampak linglung. Ia masih sulit mengatakan iya karena semua yang di dengar sekarang ini terlalu mendadak.


"Decklan, aku butuh waktu buat mikirin semuanya." ucapnya menatap Decklan. Danzel tahu cowok itu sangat setia dan sayang pada Chaby, sulit mendapatkan lelaki seperti itu. Namun ia benar-benar butuh waktu untuk berpikir sekarang ini.

__ADS_1


Decklan mengangguk mengerti lalu membantu Chaby berdiri bersama dirinya. Cowok itu bisa memahami perasaan Danzel. Meski begitu ia sangat berharap kalau pria itu akan setuju.


"Kalau gitu aku tunggu kabarnya bang. Aku pamit pulang dulu." katanya. Danzel mengangguk dan langsung berbalik masuk ke kamarnya.


__ADS_2