
"Jadi begitu ceritanya."
Pika menyelesaikan ceritanya pada Chaby ketika gadis itu terbangun sekitar lima belas menit yang lalu. Pika bercerita dari awal sampai akhir, dari insiden Chaby terjatuh dari tangga sampai akhirnya mereka mengetahui Lunalah yang sengaja mendorong gadis itu dan telah dibawa ke polisi sekarang.
Chaby masih bingung atas apa yang telah menimpanya. Ia juga bingung kenapa sih dokter bernama Luna itu tega sekali berbuat jahat padanya. Memang apa salahnya? Kenapa wanita itu begitu membencinya?
Chaby terus berpikir. Namun setelah Pika menjelaskan bahwa Luna membenci dirinya karena sudah dibutakan oleh obsesinya terhadap Decklan, Chaby baru mengerti. Ngomong-ngomong soal Decklan, ketika bangun gadis itu belum melihat suaminya juga. Hanya ada Pika dalam kamar itu.
"Kak Decklan mana?" tanya Chaby menatap Pika sebentar dan pandangannya berpindah ke luar pintu.
"Lagi ada urusan sama papa. Mereka lagi meeting. Lo nya sih nggak bangun-bangun waktu kak Decklan sama kak Danzel dan yang lainnya ada di sini tadi." jawab Pika. Mereka semua memang ada di sini tadi. Tapi karena Chaby tidak kunjung-kunjung bangun juga dan yang lain masih punya pekerjaan yang harus dilakukan, jadi tinggalah Pika sendirian di tempat ini. Ia sudah berjanji akan menemani Chaby.
Chaby tertawa pelan. Ketika mau menggerakan kakinya, bagian lututnya berdenyut dan rasa sakit yang tiba-tiba membuatnya meringis pelan.
"Kenapa, kenapa?" seru Pika langsung berdiri dari duduknya saat melihat perubahan di wajah Chaby.
"Kaki aku agak sakit Pik. Pas aku jatoh tadi, dokter yang meriksa aku bilang apa?" tanya Chaby. Raut wajahnya sedikit khawatir.
__ADS_1
"Tenang aja. Kak Andra yang meriksa kamu. Katanya ada benturan dikit tapi nggak serius. Hanya saja lo harus rawat jalan di sini sampai sembuh." jelas Pika. Chaby ingin buka suara lagi namun suara Arion membuatnya menoleh ke pintu masuk.
"Mama!"
Arion berlari ke Chaby. Dibelakangnya ada tante Lily. Melihat seragam sekolah yang masih melekat di tubuh bocah itu, Chaby menyimpulkan kalau Arion dan ibu mertuanya tersebut langsung ke sini setelah pulang sekolah. Chaby menggeser tubuhnya sedikit ke bagian kiri biar Arion bisa naik ke tempat tidur dan duduk disebelahnya.
Mama mertuanya, tante Lily menggeser kursi lain mendekat ke tepi ranjang dan duduk di sana. Pandangannya tidak pernah lepas dari menantunya.
"Kamu baik-baik aja kan Chaby? Bayinya gimana?" tanya wanita paruh baya tersebut.
"Nggak kenapa-napa ma. Chaby sama adiknya Arion sehat. Sih Luna, Luna itu yang nggak sehat." ujar Pika mewakili Chaby. Raut wajahnya langsung berubah kesal ketika menyebut nama Luna. Entah bagaimana keadaan perempuan itu sekarang, apa sudah dimasukkan ke sel atau belum. Buktinya sudah sangat jelas. Dan kak Decklan menyuruh kak Andra untuk menggugatnya dengan kasus perencanaan pembunuhan. Harusnya sih sudah ditangkap.
"Kan udah berkali-kali aku bilang sama mama, perempuan itu cuma pura-pura baik karena ada maksud." timpal Pika. Mamanya hanya manggut-manggut kecewa dengan dokter itu. Perbuatannya sangat tidak terpuji.
"Mama kalo kenapa-napa lagi nggak usah khawatir ya, ada Ari sama papa." gumam Arion tiba-tiba. Ketiga wanita yang berada di ruangan itu saling berpandangan sebentar lalu tertawa bersama.
"Ari, kamu manis banget deh bikin gemes.." seru Pika mencubit pipi Arion yang asik melingkarkan tangan di pinggang mamanya.
__ADS_1
***
Selama perjalanan pulang dari kantor polisi, Nanda terus diam. Tak bicara sepatahkatapun. Perempuan itu terus menekuk wajahnya dan itu terlihat jelas oleh Andra yang sibuk menyetir. Andra sesekali melirik gadis itu, namun fokusnya tetap ke jalan didepan. Kalau tidak, mereka bisa kecelakaan nanti.
"Kenapa? Masih sedih teman kamu ditangkap? Jangan terlalu dipikirkan, Luna memang pantas dihukum." ucapnya. Nanda langsung mendelik tajam ke dokter itu. Dia dan Andra memang tidak begitu dekat, tapi kalau mereka bertemu atau berdua tanpa sengaja begini selalu ada saja perdebatan. Dan itu sudah dimulai di hari pertama wanita itu menjadi dokter magang di rumah sakit. Menurut Nanda, Andra itu cukup tampan. Sayang sekali bukan tipenya. Apalagi Andra yang selalu mencari-cari gara-gara padanya.
"Kamu tuh ya, nggak kasihan sama sekali apa sama Luna? Biar gimana pun dia pernah jadi kerabat kita di rumah sakit. Salah aku sendiri sih nggak bisa jadi teman yang baik buat nasehatin dia. Cinta itu memang nggak bisa dipaksain.. aku sadar sekarang. Hufft.." omel Nanda lalu menghembuskan nafas panjang. Kening Andra berkerut, sepertinya selain sedih dengan ditangkapnya Luna, ada masalah lain yang mengusik perempuan itu. Tiba-tiba Andra merasa kepo. Pasalnya Nanda yang dikenalnya selalu ceria dan bersikap optimis, entah kenapa hari ini gadis itu sangat murung dan lebih terlihat seperti seseorang yang sedang putus cinta. Memangnya ada laki-laki yang disukai perempuan itu?
"Antarkan aku pulang saja, aku tidak mood lagi buat masuk kerja." ucap Nanda kemudian. Sesaat kemudian Andra menghentikan mobilnya dipinggir jalan.
"Kok berhenti?" Nanda menatap Andra bingung.
"Mau berenang tidak? Aku juga malas balik ke rumah sakit." tawar Andra. Kalau dirinya sedang tidak mood, atau mereka galau, biasanya dia selalu berenang untuk menjernihkan otaknya. Mungkin saja caranya ini bisa berpengaruh buat Nanda juga.
Ia bisa lihat wanita itu menatapnya heran. Dimata Nanda, tidak biasa sekali Andra mengajaknya begini.
"Aku tidak suka berenang dikeramaian." balas wanita itu menolak halus.
__ADS_1
"Berenang di rumahku saja, kolamnya privat." Fix, Andra sungguh membuat Nanda terheran-heran. Tapi dia berpikir sebentar, tidak ada salahnya menerima tawaran itu. Daripada sendirian di rumah sambil meratapi nasibnya, lebih baik melakukan sesuatu yang bisa membuat tubuhnya fresh.
"Baiklah."