
Decklan setia menemani Chaby yang sekarang sudah ketiduran dikamarnya. Cowok itu melirik jam tangannya, hampir jam sepuluh malam. Harusnya sekarang ia sudah balik ke asrama tapi ya sudahlah, ia balik sekarang pun poinnya akan tetap berkurang karena terlambat.
Decklan menatap Chaby lagi. Pacarnya ini sangat cantik, sampai sekarang dirinya tidak pernah bosan menatap wajah imut itu lama-lama. Ia lalu meraih jemari Chaby, mengecupnya lembut kemudian mengangkat tubuhnya berbalik keluar kamar. Lebih baik ia menunggu kakak gadis itu diluar saja.
Belum sampai lima menit Decklan menunggu sambil tidur-tiduran di sofa, ia mendengar pintu apartemen itu dibuka. Cowok itu mengganti posisi tidurnya. Ia melihat Galen muncul dari depan.
Alis Galen terangkat menatap Decklan.
"Bukannya kau masih tinggal di asrama?" tanyanya. Setahunya masih ada sekitar dua bulan lagi bagi Decklan, Bara, Andra dan seluruh mahasiswa angkatan mereka di kampus mereka itu yang diwajibkan tinggal di asrama.
"Gue ijin bentar, ada perlu dikit sama Chaby tadi."
Galen tertawa pelan setengah mendengus. Kadang ia heran karena Decklan dan Chaby jarang sekali bertengkar. Kalaupun bertengkar itu hanyalah pertengkaran-pertengkaran biasa saja. Mereka tidak pernah bertengkar sampai salah satu diantaranya bilang mau pisah. Padahal keduanya masih berada di umur yang bisa dibilang labil dalam menjalin hubungan yang serius tapi selama ini Galen melihat Decklan sangat serius menjalin hubungannya dengan Chaby.
Sebagai seorang pria, Galen harus mengakui bahwa Decklan adalah lelaki serius, penuh tanggung jawab dan setia. Jarang sekali ada laki-laki seperti itu di jaman sekarang ini. Bahkan dia sendiri merasa dirinya tidak sebaik Decklan. Chaby sungguh beruntung bisa bertemu dengan pria seperti Decklan. Dia berharap mereka tidak akan pernah terpisah.
"Ya sudah, gue balik sekarang bang." ujar Decklan. Galen mengangguk.
***
Sambil bersenandung pelan, Pika menyusuri jalanan kecil yang agak menanjak menuju tempat lesnya. Ini adalah hari sabtu dan tak ada jadwal les, namun ia harus pergi ke tempat itu untuk mengambil barangnya yang ketinggalan.
Jalan kecil itu sepi dan hanya diterangi lampu jalan yang
remang-remang. Lalu ia mendengar suara itu. Suara langkah kaki di belakangnya. Pika terkesiap
pelan dan menelan ludah. Ia berusaha menenangkan diri. Mungkin ia salah dengar.
Pika tetap berjalan walaupun langkahnya tanpa sadar semakin cepat dan memasang telinga.
Benar!
Ada orang di belakangnya!
__ADS_1
Lalu memangnya kenapa kalau ada orang lain yang juga berjalan di jalan itu? Memangnya jalan itu milikku sendiri? Pika menggerutu dalam hati, menyesali sifatnya yang mudah panik.
Jangan berpikir yang tidak-tidak. Yakinkan diri terlebih dahulu.
Diam-diam Pika berusaha melirik ke balik bahunya. Ia tidak berhasil melihat banyak. Ia hanya menangkap sosok seseorang yang berjalan tidak jauh di belakangnya.
Bulu kuduknya meremang. Rasa panik mulai menyerang tanpa memedulikan bantahan
akal sehat. Sementara ia mempercepat langkah, napasnya mulai memburu dan pikiran-
pikiran buruk mulai berseliweran di benaknya.
Langkah kaki orang di belakangnya juga terdengar semakin cepat. Orang jahat? pikir Pika panik. Pemabuk? Atau lebih buruk lagi, pemerkosa?! Ya Tuhan, lindungilah
diriku. Kejahatan di jalan-jalan sepi bukan hal baru lagi di kota besar seperti Jakarta ini.
Pika langsung memanjatkan doa dalam hati. Kemungkinan lain terselip di otaknya.
Jangan-jangan... penguntit? Pika cepat-cepat menghilangkan pikiran konyol itu dari otaknya.
"Hei..." terdengar suara rendah seorang laki-laki di belakangnya dan Pika merasa bahunya dipegang. Kepanikannya meledak. Ia berputar dengan cepat sambil mengayunkan tas selempangnya ke arah orang itu. Ia juga tidak lupa menjerit keras.
Tasnya mengenai sisi tubuh orang itu dengan bunyi gedebuk keras. Pika
mengayunkan tasnya sekali lagi sambil menutup mata sampai mendengar lelaki itu bersuara.
"Pika, ini aku. Hei, ini aku!"
Pika menghentikan ayunan lengannya dan melotot galak ke arah laki-laki yang mengangkat kedua tangan ke depan wajah untuk melindungi diri. Perlahan-lahan orang itu menurunkan tangan dan Pika baru melihat wajahnya dengan jelas.
"Kak Bara!" kata Pika dengan suara tercekik. Matanya terbelalak.
Debar jantungnya yang liar pun agak mereda. Namun kembali menatap Bara dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Kak Bara kenapa sih
mengendap-endap gitu?"
Bara terlihat berbeda hari ini. Penampilannya lebih keren dari biasanya. Memang sih hari-hari biasanya juga keren tapi di mata Pika hari ini cowok itu berbeda. Wajahnya lebih bersih dan bersinar. Pika jadi menyadari ternyata kak Bara sangat tampan. Wajahnya menarik dan bisa bersaing dengan aktor-aktor tampan.
Bara memasukkan kedua tangan ke saku jaket panjangnya. Angin yang berhembus membuat udara hari ini jadi lebih dingin. Ia balas
menatap Pika dengan senyuman.
"Aku nggak mengendap-endap. Bukankah tadi aku manggil kamu? Justru kau yang langsung mukulin aku dengan tas." katanya,
membuat wajah Pika terasa panas karena malu.
Bara mengeluarkan sebelah tangan dari saku jaket dan menunjuk ke tas slempang Pika.
"Kayaknya kamu udah boleh
turunin tas kamu itu."
Kepala Pika berputar ke samping, ke arah tangannya yang masih mengacungkan tasnya tinggi-tinggi. Ia yakin wajahnya sudah berubah merah padam. Ia cepat-cepat
menurunkan tangan dan berkata dengan gelagapan,
"Tapi kak Bara tadi memang
mengendap-endap ngagetin aku. Bikin aku takut. Aku pikir tadi orang jahat, penguntit, pemerkosa, pembunuh, penculik atau siapapun itu." omelnya panjang lebar. Ekspresinya cemberut. Cowok itu tidak tahu apa kalau tadi jantungnya hampir copot saking takutnya.
Bara tertawa. Ini salah satu alasan kenapa ia menyukai Pika, tiap kali melihat gadis itu mengomel-ngomel begitu, wajahnya terlihat sangat manis.
"Kenapa kesini? Kamu nggak lupa kan kalau hari ini kita janjian mau jalan?"
tanya Bara. Matanya menoleh ke gedung besar didepan mereka. Bara tahu itu adalah tempat les Pika. Tapi kan ini sabtu dan tempat kursus tidak buka kalau hari libur. Ia juga tak lupa mengingatkan Pika tentang perjanjian mereka. Cowok itu tadi sudah sampai di depan rumah Pika, mau menjemputnya. Tapi ia melihat Pika keluar dari rumahnya dan buru-buru naik taksi. Mau tak mau Bara mengikutinya.
__ADS_1
Pika menepuk jidatnya. Astaga, kenapa ia bisa lupa janjiannya dengan kak Bara hari ini. Pandangannya turun ke pakaian yang dipakainya, kaos oblong dan jins panjang. Ya ampun santai banget. Ia merutuk dalam hati. Gayanya sangat tidak cocok dengan gaya kerennya kak Bara. Pasti gadis-gadis yang melihat mereka akan membanding-bandingkam mereka. Pika mendesah pelan, bisakah ia bilang ke kak Bara ia akan pulang ganti baju dulu? Tapi ia terlalu malu.
"Hei, kamu belum jawab aku kenapa kesini?"