GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 44


__ADS_3

"Huh!"


Pika mendengus keras lalu membuang muka kearah lain. Ia makin bete.


"Kak Andra,"


matanya melirik Andra. Ketika dilihatnya cowok itu balik menatapnya, ia kembali bicara.


"Kak Andra punya kenalan cowok yang bisa di kenalin ke aku nggak? Kali aja cocok sama aku biar aku bisa pacaran juga."


"Nggak ada! Lo masih kecil, nggak ada pacar-pacaran."


Suara ketus itu milik Decklan. Andra yang ditanya Pika bahkan belum sempat buka suara tapi sudah dipotong duluan sama cowok itu. Pika menatap Decklan tidak suka.


"Dih, kenapa? Chaby aja udah bisa pacaran, kenapa aku nggak boleh?" ia merasa tidak terima.


Decklan berdecak kesal.


"Gue bilang nggak boleh yah nggak boleh. Lo pengen kejadian dulu sama mantan lo itu terjadi lagi?" katanya lagi setengah membentak.


Pika melemparkan wajah kesalnya. Kenapa sih tiap kali dia ngomongin cowok kakaknya akan mengungkit mantannya terus, dasar rese.


Dulu waktu SMP kelas tiga Pika pernah berpacaran dengan anak SMA. Awalnya ia senang-senang aja sampai kejadian mantannya itu bawah dia ke club malam, sengaja masukin obat perangsang dalam minumannya dan mau memperkosanya. Mantannya itu punya koneksi kuat sampai-sampai Pika yang belum cukup umur waktu itu bisa ia bawah masuk kedalam club.


Beruntung ada salah satu bawahan papanya yang juga berteman dengan Decklan dalam club itu. Ia mengenali Pika dan merasa curiga pada gerak-gerik cowok yang bersama cewek itu lalu cepat-cepat melaporkannya pada Decklan.


Decklan bersama Bara dan Andra langsung datang saat itu juga. Untungnya mereka tepat waktu, kalau tidak mereka tidak tahu lagi bagaimana Pika akan menghadapi masa depannya yang masih panjang itu dengan bahagia.


Semenjak kejadian itu Decklan sangat berhati-hati kalau adiknya dekat dengan semua cowok. Intinya ia harus kenal dulu cowok yang dekat dengan adiknya itu kayak apa. Baik nggak, bertanggung jawab nggak, mesum nggak. Pokoknya ia tidak mau kejadian yang sama terjadi lagi pada adiknya.

__ADS_1


Mungkin dari luar ia selalu ketus dan dingin pada adiknya, namun sebenarnya ia sangat sayang dan menjaga gadis itu. Bara dan Andra tahu. Ia hanya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa sayangnya.


Sebenarnya waktu pertama kali melihat Pika yang senang bergaul dengan Chaby, ia ikut senang. Semenjak ada gadis itu Pika jauh lebih bahagia. Awalnya ia memang merasa Chaby itu nggak cocok berteman dengan adiknya itu karena sifat mereka sangat bertolak belakang. Namun jadinya malah dirinya sendiri yang ikut-ikutan tertarik bahkan sampai ingin memiliki gadis itu.


Sekarang ia dan Chaby berpacaran.  Decklan akui dirinya banyak menuntut untuk bersama gadis itu sampai-sampai tidak menyadari kalau waktu Chaby bersama Pika jadi berkurang. Mungkin karena hal itu Pika jadi kesal, ia bisa mengerti.


"Kak Andra gimana, ada nggak?"


Pika masih kekeuh. Ia sudah bertekad semakin kakaknya melarang, semakin ia akan melawan juga. Di pikir cowok itu saja yang bisa membuatnya kesal apa.


"Pika!" tekan Decklan lagi. Suaranya mulai meninggi mengundang perhatian beberapa orang didekat situ. Chaby yang duduk di sebelahnya mengusap-usap punggung cowok itu.


"Kak Decklan jangan banyak marah-marah, nanti jadi jelek. Kasian Chaby dong punya pacar jelek." katanya enteng.


Andra dan Bara menahan tawa mereka. Nih satu lagi nih perusak suasana. Lihat saja ekspresi jengkel Decklan sekarang. Pika sampai-sampai menertawai cowok yang sekarang berbalik kesal pada Chaby itu. Sementara Chaby sendiri malah biasa saja dan nggak sadar sama sekali kalau sudah membuat pacarnya kesal setengah emosi.


"Ehem..." Andra berdeham. Sejak tadi ia ingin tertawa melihat ekspresi Decklan tapi berusaha ditahannya. Lebih baik mengubah topik saja.


"Di rumah lo bisa kan Bar?" tanyanya.


Bara tampak berpikir menimbang-nimbang namun tak lama kemudian cowok itu mengangguk.


"Asiik.. makan, makan." Chaby berseru girang lalu berdiri mendekati Andra dan berbisik ditelinga cowok itu. Decklan yang melihatnya jadi curiga.


"Tenang aja By, kita bakalan beli banyak daging ayam buat bakar-bakar."


"Nggak ada ayam,ayam!"


Bara, Chaby dan Andra sama-sama melirik kepada dua kakak beradik yang bicara kalimat yang sama itu bersamaan. Ternyata mereka sehati meski saling cuek.

__ADS_1


"Cieee..cieee.. serasi."


Seru Chaby yang tiba-tiba meledek sambil menunjuk-nunjuk Decklan dan Pika yang kini berubah canggung. Pika menatap Chaby sebal. Ingin sekali ia menjitak kepala gadis itu.


"Serasi, serasi apaan, lo tuh yang pacarnya kak Decklan oon.." ucapnya gemas.


Decklan lalu menarik pacarnya yang masih berdiri disebelah Andra itu duduk disebelahnya. Ia menatap gadis itu tajam.


"Kenapa nyuruh-nyuruh Andra beli ayam, hm? tanyanya dengan nada penuh peringatan. Chaby malah tersenyum lebar ke cowok itu.


"Khilaf kak, hehe.." jawabnya lancar membuat Decklan mencubit pipinya saking gemasnya. Ia tidak tahu bagaimana mau marah kalau gadis itu bersikap manis begitu.


"Memangnya kenapa sama Ayam?" giliran Bara yang bertanya dengan wajah penasarannya.


"Itu kak, sih Chaby alergi ayam. Tapi nggak tobat-tobat pengen makan." jelas Pika namun pandangannya terus menatap Chaby tajam.


"Ya ampun Chaby, lo tuh bener-bener yah." giliran Andra yang menatap Chaby terheran-heran, nekat bener nih cewek.


"Besok BBQ nya seafood aja sama beef." putus Decklan menatap yang lain.


"Ya udah kalo gitu besok fix yah di rumah Bara." ucap Andra menatap mereka semua yang mengangguk setuju.


                                  ***


Besoknya sepulang sekolah Decklan dan Pika sudah berada di apartemen Chaby. Mereka sudah datang dari tiga puluh menit yang lalu namun cewek yang mereka jemput itu masih ketiduran.


Danzel dan Galen sibuk dan sekarang masih berada di kantor, jadinya mereka mungkin nggak ada kesempatan buat ikut.


"Kak, kakak aja deh yang bangunin. Tuh anak kan tidurnya kayak kebo." kata Pika melirik kakaknya. Ia bosan kalau bangunin Chaby. Bawaannya bikin kesal mulu.

__ADS_1


Decklan bangkit dari sofa dan melangkah ke kamar Chaby. Ia sudah beberapa kali masuk di kamar gadis itu, waktu ada kakaknya tapi.


Kadang ia merasa lucu karena kedua kakak cewek itu terus memantau hubungan mereka. Namun hari ini keberuntungan memihaknya. Bukan mau ngapa-ngapain yah, ia hanya merasa lebih bebas bergerak saja kalau tidak ada Danzel dan Galen.


__ADS_2